Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Bicara Hidup

  Percakapan panjang semalam hantarkan padaku satu refleksi pagi ini--- tentang bagaimana sebaiknya-terbaiknya kita menghidupi hidup: 1. Duduk diam di kabin nyaman sampai perahu tiba di tujuan,  atau putar haluan ke pulau impian, meski badai bisa terjang-balikkannya kapan saja.      (Apa iya duduk di kabin nyaman-nyaman saja?  Tidak, katamu. Di dalam sana ada bom waktu.  Sementara, kau siap saja putar haluan hadapi badai, tapi masalahnya: kau sendiri masih mencari, belum dapatkan titik koordinat yang tepat.  Lalu?)   2. Kalau kasta telah merupa sajadah---lalu apa/siapa yang sebenar-semestinya kita sembah? Bukankah di mata Tuhan dan semesta semua manusia hanya butiran debu yang sama? (Bicara kasta, kita sama lebih rendah dan pasti kalah, dan--- pada sisi ini, aku sungguh tak punya waktu untuk berseteru,  apalagi bertarung untukmu.)  3. Terkadang logika memang harus mentahkan rasa, karena rasa bisa jadi sesaat saja. Namun, realita ada...

Di Ujung Petang, di Ambang Remang; Masih Ada Banyak Siang

Petang seperti makin tak sabar menjemput senja.  Angka lilin tak mau kalah  dengan helai putih di kepala.   Haruskah aku terus duduk mencangkung dengan linglung hingga senja ditalak sang malam lalu semua waktuku tenggelam? Ada yang harus dieksekusi. Ada yang harus diputus sampai di sini : Kepasrahan bodoh pada yang-selama-ini-kukira-takdir. Sebab, ada yang harus dimulai lagi. Ada jalan terang menuju pintu di depan sana  yang sebetulnya sudah lama terbuka lebar. Sayang saja, selama ini aku tak mencoba menembus  rintang belukar, selalu merasa jalan itu terlalu terjal. Padahal, malam belum bakal mengambil ajal. Pagi demi pagi masih 'kan selalu hadirkan mentari,  yang kian siang 'kan transformasikan senyum kecilnya  dengan sinar nan garang ...  dan aku akan terpanggang  pesona:  betapa dahsyat karunia Sang Maha! 14.03.25_vbvs