Postingan

Entri yang Diunggulkan

INSECURED MIRROR - PROLOGUE

Gambar
  #30 Hari Menulis Novela - Metafora Pustaka PEREMPUAN itu hadir membawakannya sebuah benda yang sangat d ia takuti: cermin! Bukan, bukan cermin biasa yang menampakkan bayangan fisiknya sebagai seorang lelaki jelang 40 tahun, melainkan kaca yang memantulkan teramat detail apa-siapa dirinya seutuhnya: segala laku asli yang selama ini disembunyikannya. Cermin itu dengan telak memperlihatkan sifat dan sikap yang hampir persis dirinya, tetapi dalam rupa yang sama sekali berbeda: diri perempuan itu sendiri . P erempuan itu benar-benar telah meretakkan kedirian yang selama ini dibangunnya, hingga d ia hampir tak tahu lagi siapa dirinya sebenarnya . Perempuan itu sama terpananya. Dia merasa bagai menatap sisi-sisi gelapnya, yang selama ini coba dia tenggelamkan dalam-dalam, setiap kali laki-laki itu bersikap. Bedanya cuma, cermin itu lebih gelap dan ekstrem daripada dirinya.   Lelaki itu tak dapat menerima kediriannya diusik oleh seorang makhluk lemah yang hampir sempurna men...

Bicara Hidup

  Percakapan panjang semalam hantarkan padaku satu refleksi pagi ini--- tentang bagaimana sebaiknya-terbaiknya kita menghidupi hidup: 1. Duduk diam di kabin nyaman sampai perahu tiba di tujuan,  atau putar haluan ke pulau impian, meski badai bisa terjang-balikkannya kapan saja.      (Apa iya duduk di kabin nyaman-nyaman saja?  Tidak, katamu. Di dalam sana ada bom waktu.  Sementara, kau siap saja putar haluan hadapi badai, tapi masalahnya: kau sendiri masih mencari, belum dapatkan titik koordinat yang tepat.  Lalu?)   2. Kalau kasta telah merupa sajadah---lalu apa/siapa yang sebenar-semestinya kita sembah? Bukankah di mata Tuhan dan semesta semua manusia hanya butiran debu yang sama? (Bicara kasta, kita sama lebih rendah dan pasti kalah, dan--- pada sisi ini, aku sungguh tak punya waktu untuk berseteru,  apalagi bertarung untukmu.)  3. Terkadang logika memang harus mentahkan rasa, karena rasa bisa jadi sesaat saja. Namun, realita ada...

Di Ujung Petang, di Ambang Remang; Masih Ada Banyak Siang

Petang seperti makin tak sabar menjemput senja.  Angka lilin tak mau kalah  dengan helai putih di kepala.   Haruskah aku terus duduk mencangkung dengan linglung hingga senja ditalak sang malam lalu semua waktuku tenggelam? Ada yang harus dieksekusi. Ada yang harus diputus sampai di sini : Kepasrahan bodoh pada yang-selama-ini-kukira-takdir. Sebab, ada yang harus dimulai lagi. Ada jalan terang menuju pintu di depan sana  yang sebetulnya sudah lama terbuka lebar. Sayang saja, selama ini aku tak mencoba menembus  rintang belukar, selalu merasa jalan itu terlalu terjal. Padahal, malam belum bakal mengambil ajal. Pagi demi pagi masih 'kan selalu hadirkan mentari,  yang kian siang 'kan transformasikan senyum kecilnya  dengan sinar nan garang ...  dan aku akan terpanggang  pesona:  betapa dahsyat karunia Sang Maha! 14.03.25_vbvs
  Aku, Wanita Hampir Paruh Baya yang Bahagia (sebuah fiksi) Aku, Wanita Hampir Paruh Baya yang Bahagia* Oleh Veronica B. Vonny AKU seorang wanita hampir paruh baya. Hidupku baik-baik saja dan aku bahagia.  Suamiku seorang pengusaha yang jauh dari ternama, tetapi dia sangat baik dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Anakku dua, sudah hampir jadi orang semua. Yang sulung sudah bekerja di sebuah perusahaan jasa dan akan segera menikah dengan atasannya yang muda dan kaya, sehingga kurasa aku tak perlu mengkhawatirkan masa depannya. Yang bungsu baru kuliah tingkat satu tapi sudah bisa mencari uang sedikit-sedikit dari menulis buku.  Sedangkan aku, menjahit adalah caraku mengisi hari-hariku. Baju-baju bekas dan kain-kain perca kudaur ulang jadi pernak-pernik dan aksesoris cantik hingga tas-tas etnik nan unik.  Suamiku pengusaha sederhana yang baik hati, tapi entah kenapa aku jatuh cinta lagi. Aku jatuh cinta lagi pada seorang importir yang suka memasarkan barang-barang ...
  Refleksi atas Hari yang Begitu Panjang (1) Jalan Salip/b Kelewat sepi atau kelewat ramai? Salip kanan, salip kiri---teramat mulus jalan terlihat. Semulus itukah kita menyalibkan cinta, dan Dia yang teramat Cinta? 03/04.03.15_vbvs (2) 'Gambling' Berbuah ataukah tidak, Anda sudah menyebar benih-benih di ladang pikir para kami dan memupuknya dengan mimpi kualitas teratas. Sampai ke langitkah doa, atau tinggal ladang Kain yang terbakar dalam gulana, toh, Anda sudah mendoakan kesuburan benih-benih itu. Memang, kelak, 'pabila jadi berbuah, kita 'kan mendirikan rumah dari emas, memberi makan permata pada anak-anak kita, dan memandikan istri-suami kita dengan minyak. Bilanya gagal, ya, ya... tentu saja bukan salah Anda juga ---telah membenihi ladang-ladang tak subur kami dengan batu yang tak bara. 03/04.03.15_vbvs (3) Over Lebihmu: kurangmu dan kurangmu: lebihmu Kau lebih suka menggarang tanpa 'nelaah dahulu Kau memang kurang pikir bahwa proteksimu terlalu d...
  Sebuah Diorama dari “Menunggu” - Veronica B. Vonny Sebuah Diorama dari “Menunggu” —Sembari Mengunyah Iwan, Seusai Percakapan *)   https://www.facebook.com/notes/10158684479358610/     ‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah suatu pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: Mencari.       Selama belasan tahun, kalimat dari Kooong karya Iwan Simatupang (1975: 35) ini telah memesonaku dan menjadi kiblatku untuk “terus”—seperti halnya Pak Sastro, tokoh utama dalam novel pendek ini, yang menjadikan soal “mencari” perkutut kesayangannya sebagai alasannya untuk terus hidup, untuk terus berjalan meneruskan pengembaraannya mendapatkan kebahagiaan sejati. “Terus mencari” menjadi arah bagi langkahnya, bagi semangatnya meneruskan hidup. Meskipun pada akhirnya sang perkutut tak juga mampu ditemukannya, dia telah menemukan kebahagiaan dari kebiasaan barunya: “mencari”.   Namun, baru benar-benar kusadari beberapa waktu lalu—usai percak...