Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Sekelumit Kesan: Sang Kapten

Tak ada kata selesai untuk sebuah singgah, juga sebuah lewat---kecuali ia betul-betul t'lah berakhir dengan sebuah wafat. Demikian halnya sebuah hadir. Ia bisa berulang-ulang pergi, tetapi juga bisa berkali-kali mampir lagi, menghadir lagi, meski untuk selewatan saja. Maka, tak perlu ada kehilangan disertai sedu sedan, bukan? Belakangan ini, saya telah agak skeptis terhadap kematian. Berita meninggalnya orang-orang dekat pun sama sekali tak membuat saya "terjatuh dan tak bisa bangkit lagi", apalagi "terjebak dalam lautan luka dalam", hehe. Ya, buat apalah sebuah wafat ditangisi teramat-amat, karena toh kita semua akan berkumpul lagi di akhirat, bukan? Saya pun bukan orang yang gampang terharu, Pak. Namun, kepergianmu yang tiba-tiba tanpa pertanda, tanpa kode-kode apa juga, tanpa salam-pamit sebelumnya, tentulah menyisa tanya dan cukup menyesak dada. Dan, kedatanganmu yang sekali pagi tadi rasanya cukup jadi alasan bagi saya untuk terharu. Saya bahkan masi...

Titik Hampa

Rasanya, lelah ini sedang menuju titik hampa — mungkin sama seperti kaurasa. Pada titik itu, kau tak akan lagi merasakan kedirianmu; tak peduli kau berdiri, duduk, telentang, atau tiarap — hanya menghampa seluruh... kemudian hancur menyerpih, menyerak, lalu lenyap di udara; tak menyisa apa. Begitukah kaumau? Aku tidak. Aku menyukai hidup, kendatipun harus kunapasi ia dengan lelah dan luka. 13.06.17_vbvs

Sebuah Ruang yang (Belum) Ingin Kutinggalkan

Gambar
Di ruang tamu kusam itu, waktu pernah berhenti sekali: menandai keringat yang saat itu kita peras bersama dan kita nikmati euforianya penuh ceria —s ekaligus penanda luka yang kemudian tertoreh dalam, seketika. Hingga detik lalu, waktu masih terhenti di titik yang sama. Aku yang tak mengizinkannya pergi. Aku yang menekan remot lagi dan lagi, walau 'ku tahu, tak ada televisi sama sekali di depan sofa usang itu. Aku mencoba membersihkan debu-debunya sambil berharap kamu akan mau sejenak saja duduk di sana bersamaku, lalu sejenak lagi, dan sejenak lagi — menampakkan kebersahajaanmu yang tanpa polesan kepalsuan; menyeringaikan senyummu yang sarkastis tetapi manis — yang membuatku berkali merasa jatuh cinta sekaligus patah hati dan membuatku lupa bahwa sesungguhnya kita tak pernah punya rumah. *** Pagi ini, aku ingin duduk diam di bangku usang ini. Masa bodoh jika mungkin hanya setengah bokongku yang bisa duduk dengan aman, bahkan jika tak lama setelahnya tubuhku akan terpe...

Sebuah Geram, Sebuah Gumam

Gambar
Betapapun, geram yang kusimpan dalam-dalam di balik geraham ini hanya akan merupa tonjokan-tonjokan lemah di dadamu yang akan kauaku tak lagi tambun oleh rindu manakala kita bertemu. 'Kau jahat,' akan begitu kataku. Begitu saja. 'Aku tahu dan aku sengaja berbuat itu,' akan begitu jawabmu. 'Aih, harus lebih jahat seperti apakah aku, agar kau mampu dengan kejam membalas kejamku?' lanjutmu putus asa. Sayangnya, andaipun kau mendera dan menyalibkanku, serupa Tubuh berpeluh di palang kayu itu, kau tetap tak akan mendapat balas apa-apa dariku kecuali sebatang tongkat sihir dan sebuah "voila!" dari gumam yang tertahan sekian masa.  25.04.17_p.m

Menjadi Boneka

Gambar
Hari ini, aku merasa menjadi begitu boneka dalam permainan bersama yang entah berdasarkan aturan apa —entah gilir-giliran, entah  oper-operan, entah lempar-lemparan, entah rebut-rebutan, atau petak-umpet yang tak kunjung ditemukan.   Bisakah kaubayangkan dirimu menjadi sebuah boneka yang seakan tak punya rasa dan kehendak, yang dipermainkan sesukanya oleh …—aih, aku bahkan tak punya pemilik pribadi! Aku boneka milik bersama, tanpa aturan jelas siapa yang lebih dulu boleh memainkannya dan kapan. Aku boneka serbabisa :  bisa diapakan saja tanpa tangisan —apalagi  jeritan. 20.04.17_vbvs

peluru(h)

Gambar
setiap notifikasi  seakan adalah benih yang terus berkecambah lalu bercabang ke banyak arah.  melingkupi, mungkin, tapi tiada menyentuh.  bisu: masihlah serupa peluru.  adakah tempat hati bebas bicara tanpa harus melacurkan diri? 23.03.17_vbvs

FASE

Gambar
Selalu akan tiba: fase “merasa terbiasa”. Ketika segala yang abnormal dan pada awalnya sangat mengejutkan kini tak lagi menjadi masalah, bahkan tidak lagi terasa aneh sedikit pun, buatmu. Ini berlaku untuk semua hal, semua makhluk, termasuk tentang keberadaan atau ketidakberadaan yang menyiksa. Pada fase itu, rasa “ingin bunuh diri” sama sekali sudah terlupakan dari pikiranmu. Yang ada hanya “nyaman”, meski tak bisa ditampik bahwa kenyamanan itu bisa jadi hanyalah suatu penyaman-nyamanan, pembiasaan yang dipaksakan. Tentang rasa rindu yang menyesak dan rasa kehilangan yang memilukan, pun sama saja. Pada saat pembiasaan itu mencapai tahap “berhasil”, tiadanya sesuatu atau seseorang tidak lagi menjadi alasan bagimu untuk merasa “akulah orang paling menderita di dunia”. Jalan tidak lagi berbatu terjal dan berkerikil tajam. Kemudian, kamu akan mendengar surga berkata, “Kamu sudah ada di dalamku.”    05.01.17_vbvs

Selukis Pagi Tentangmu

Gambar
Pagi ini terasa dingin dan nyaman. Mungkin karena masih sepi saja di sini, walaupun jam kantor sudah mulai hampir setengah jam lalu. Kau tahu? Aku baru saja menganalogikanmu seperti masakan Italia atau Jepang nan lezat menggiurkan, yang sering di- upload teman kita di grup WhatsApp, yang jika nekat kubeli bisa menguras biaya makanku satu minggu. Kau juga seperti barang-barang bermerek yang dijajakan online shop —keren dan sangat mengundang minat, tetapi jika nekat kupesan pastinya akan langsung menghabiskan gajiku satu bulan. Ya, bisa saja aku memesanmu hingga kau bisa kunikmati dan kulumat habis sekenyangku, menjadikan kau milikku, seutuh. Akan tetapi, aku tak ingin begitu. Entah mengapa, menatapmu dan menikmatimu hanya dari balik kaca etalase begini ini terasa jauh lebih nikmat. Tak habis-habis. Tak rusak-rusak. Dengan begini ini, kau tak akan menjadi ampas dalam perutku yang bakal harus kubuang besok pagi. Kau juga tak akan menjadi rongsokan tak berguna apabila waktu kesiala...