Aku, Wanita Hampir Paruh Baya yang Bahagia (sebuah fiksi) Aku, Wanita Hampir Paruh Baya yang Bahagia* Oleh Veronica B. Vonny AKU seorang wanita hampir paruh baya. Hidupku baik-baik saja dan aku bahagia. Suamiku seorang pengusaha yang jauh dari ternama, tetapi dia sangat baik dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Anakku dua, sudah hampir jadi orang semua. Yang sulung sudah bekerja di sebuah perusahaan jasa dan akan segera menikah dengan atasannya yang muda dan kaya, sehingga kurasa aku tak perlu mengkhawatirkan masa depannya. Yang bungsu baru kuliah tingkat satu tapi sudah bisa mencari uang sedikit-sedikit dari menulis buku. Sedangkan aku, menjahit adalah caraku mengisi hari-hariku. Baju-baju bekas dan kain-kain perca kudaur ulang jadi pernak-pernik dan aksesoris cantik hingga tas-tas etnik nan unik. Suamiku pengusaha sederhana yang baik hati, tapi entah kenapa aku jatuh cinta lagi. Aku jatuh cinta lagi pada seorang importir yang suka memasarkan barang-barang ...
Postingan
Menampilkan postingan dari November, 2023
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Refleksi atas Hari yang Begitu Panjang (1) Jalan Salip/b Kelewat sepi atau kelewat ramai? Salip kanan, salip kiri---teramat mulus jalan terlihat. Semulus itukah kita menyalibkan cinta, dan Dia yang teramat Cinta? 03/04.03.15_vbvs (2) 'Gambling' Berbuah ataukah tidak, Anda sudah menyebar benih-benih di ladang pikir para kami dan memupuknya dengan mimpi kualitas teratas. Sampai ke langitkah doa, atau tinggal ladang Kain yang terbakar dalam gulana, toh, Anda sudah mendoakan kesuburan benih-benih itu. Memang, kelak, 'pabila jadi berbuah, kita 'kan mendirikan rumah dari emas, memberi makan permata pada anak-anak kita, dan memandikan istri-suami kita dengan minyak. Bilanya gagal, ya, ya... tentu saja bukan salah Anda juga ---telah membenihi ladang-ladang tak subur kami dengan batu yang tak bara. 03/04.03.15_vbvs (3) Over Lebihmu: kurangmu dan kurangmu: lebihmu Kau lebih suka menggarang tanpa 'nelaah dahulu Kau memang kurang pikir bahwa proteksimu terlalu d...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sebuah Diorama dari “Menunggu” - Veronica B. Vonny Sebuah Diorama dari “Menunggu” —Sembari Mengunyah Iwan, Seusai Percakapan *) https://www.facebook.com/notes/10158684479358610/ ‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah suatu pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: Mencari. Selama belasan tahun, kalimat dari Kooong karya Iwan Simatupang (1975: 35) ini telah memesonaku dan menjadi kiblatku untuk “terus”—seperti halnya Pak Sastro, tokoh utama dalam novel pendek ini, yang menjadikan soal “mencari” perkutut kesayangannya sebagai alasannya untuk terus hidup, untuk terus berjalan meneruskan pengembaraannya mendapatkan kebahagiaan sejati. “Terus mencari” menjadi arah bagi langkahnya, bagi semangatnya meneruskan hidup. Meskipun pada akhirnya sang perkutut tak juga mampu ditemukannya, dia telah menemukan kebahagiaan dari kebiasaan barunya: “mencari”. Namun, baru benar-benar kusadari beberapa waktu lalu—usai percak...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
SEUTUHNYA: “MISTERI YANG TELUNGKUP” SEUTUHNYA: “MISTERI YANG TELUNGKUP” https://www.facebook.com/notes/763336154213106/ Tanya Sebungkus Kopi Berapa lama lagikah gelasmu harus telungkup dan kaubiarkan tangan halus itu hanya mempermainkan tubuhku dengan gemas, tanpa bisa menuangkanku ke dalamnya dan menyeduhkannya untukmu seperti sebelum pergimu? 14.05.15_vbvs #prolog Misteri yang Telungkup (1) Tak bisa terkata. Mengapa mesti begini rahasia? 15.05.15_vbvs Misteri yang Telungkup (2) Sesingkatnya terteguk. Mestinya ia terkatup seakhir hidup. 15.05.15_vbvs Misteri yang Telungkup (3) Selamanya pasi. Tiada kopi lagi pengisi hari. 16.05.15_vbvs Misteri yang Telungkup (4) Si bodoh yang dungu tengah meratapi kedunguannya. 17.05.15_vbvs Misteri yang Telungkup (5) Kalau nant...