PEREMPUAN NUSA TENGGARA TIMUR: YANG TERBUANG, YANG BERJUANG

: Sebuah Resensi Buku Puisi Esai

Judul: GEMURUH LAUT TIMUR, Seri Puisi Esai Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pengarang: Imelda Oliva Wissang, John Tubani, Marsel Robot, Muhammad Safiin Panara, Usman D. Ganggang
Pengantar: Yohanes Sehandi
Penyunting: Nia Samsihono, dkk.
Penerbit: Cerah Budaya Indonesia
ISBN: 978-602-5896-18-7
Tebal: xviii + 106 halaman
Cetakan ke: I, Agustus 2018

Perempuan, di banyak daerah di Indonesia, sudah sejak lama kerap diperlakukan sebagai makhluk yang berderajat lebih rendah daripada laki-laki. Membaca GEMURUH LAUT TIMUR, Seri Puisi Esai Indonesia dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hati saya bergemuruh melihat potret perempuan-perempuan dalam tiga dari lima puisi esai yang disajikan buku ini.
Sosok perempuan muda yang dinamai “Enu Molas Lesung” (artinya ‘perempuan cantik berlesung pipi’) oleh Imelda Oliva Wissang—sang penulis, yang juga seorang biarawati Katolik dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Ende, Flores—menggebrak di urutan pertama dengan puisi berjudul sama. Enu Molas Lesung digambarkannya sebagai perempuan Flores dari Kampung Pu’uu di Ruteng, Manggarai, NTT, yang berani keluar dari kungkungan adat dan segala keterbatasan kaum perempuan daerahnya: “... Enu Molas Lesung bolak-balik menjelajah angannya/menimang-nimang usia belia hendak berjejak melewati/hamparan harapan semakin luas memanjang panjang”.
Enu yang selalu gelisah dengan angan-angannya yang tinggi akhirnya nekat meninggalkan “zona nyaman tapi tak nyaman” yang mengikat kaum perempuan kampungnya selama ini. Ia memilih merantau jauh ke “tanah negeri bayangan”: bekerja di negeri seberang; di Kinabalu, Malaysia. Tak cukup dengan kebebasannya, Enu sadar bahwa ia perlu membekali diri dengan ilmu banyak-banyak agar bisa mengubah nasib dirinya sendiri dan kaumnya.
Maka, ia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dan menjadi aktivis pembela kebenaran: “Enu Molas Lesung kini menjadi mahasiswa terdepan/membela yang benar agar kelak berani berbakti/bernaluri mengubah dunia tanpa paksaan/aman berjalan menjamah kenyataan mengurai teori bijak/kesempatan menguji ketangkasan untuk berbagi” hingga menjadi sarjana.
Cita-citanya hanya satu, segera pulang ke kampungnya (“terlintas riuh rindu rasa cinta pada kampung tua/yang terus menanti putri kembali ke rumah”) dan membuat perubahan di sana (“Enu Molas Lesung segera membawa pergi kaumnya ke luar batas”); tak peduli apakah cita-citanya itu terlalu tinggi atau tidak (“Enu Molas Lesung tidak peduli menapaki tangga pentas/meski setinggi langit jauhnya/menuruni beribu anak tangga menukik sulit/meski tak sampai lantaran berbatas angan”). Ia “selalu yakin pada tekadnya/selalu ada matahari terbit di pagi hari/menjemput Enu Molas Lesung berpentas semakin gemerlap”. Dan, seperti itulah, Imelda yang akrab dipanggil Suster Wilda ini menutup puisi esainya, yang terkemas pada halaman 1–16.
***
Yang teramat menarik, bahkan mencengangkan, bagi saya adalah puisi esai kedua, karya John Tubani, berjudul “Cinta yang Seharusnya”. Dalam puisi yang tersaji dalam halaman 18–47 ini, penulis menghadirkan kisah cinta seorang mantan frater (calon pastor/imam) dari Kampung Ainan dengan seorang gadis Muslim. Puisi ini memang lebih menyoroti pergulatan batin Kristian (Kris), yang terpaksa harus keluar dari seminari tempat ia belajar teologi karena menderita maag akut dan harus mengubah tujuan hidupnya. Ia merantau ke Kupang demi menghindari cemoohan dan gosip orang sekampungnya. Di sanalah, ia bertemu Aisyah, putri Haji Arsyad, pemilik peternakan ayam buras di Kupang, tempat Kris bekerja. Sosok gadis berjilbab ini digambarkan cukup kontroversial.
Suatu ketika, saat naik kendaraan umum berdua, mereka kecelakaan. Kris hanya cedera ringan, sedangkan Aisyah cukup parah. Ia mengalami pendarahan di otak dan paru-parunya. Ketika siuman, ia trauma berat: “tiba-tiba Aisyah berteriak/matanya membelalak/Aisyah kaget/Kris terhentak/Akhirnya Aisyah siuman // Aisyah terlihat sangat takut/Matanya membelalak/Mulutnya komat-kamit” // “Aisyah melepas selang oksigen juga selang infus/Sementara kondisinya masih memprihatinkan/Para perawat kebingungan/Dokter dan Pak Haji sibuk mencari solusi”. Bahkan…, “Aisyah mengalami trauma berat/Luka di kepalanya telah mengganggu fungsi saraf/Aisyah amnesia/Aisyah hanya mengenal Kris/Aisyah tak mengenal ayahnya, tunangan, dan keluarganya/Aisyah tak mau berpakaian/Aisyah akan membenturkan kepala/Bila ada yang mendekat”!
Cobaan berat buat Kris, yang sejak bertemu Aisyah sudah menyimpan rasa cinta di hatinya, tetapi tak mau menyatakannya karena Aisyah sudah bertunangan dengan seorang tentara. Namun, Aisyah—yang tak lagi mau memakai sehelai benang pun—tak mau bertemu siapa pun kecuali Kris. Malah, ketika dokter atau perawat mendekat pun ia mengancam akan bunuh diri. Terpaksalah Kris dilatih untuk merawat Aisyah. Kris hanya bisa menerima kondisi Aisyah yang tak kunjung membaik itu dengan miris. Cinta tulus telah mengalahkan nafsunya. Bahkan, ketika Aisyah ‘menghendakinya’, Kris menolak.
Aisyah yang masih tak waras itu ingin menikah dengan Kris. Pak Haji setuju saja demi kesembuhan putrinya. Kris menganggapnya nikah pura-pura. Namun, saat akad nikah akan diucapkan, Kris memberikan hadiah jilbab ungu kesayangan Aisyah yang dipakainya saat kecelakaan. Aisyah menangis. Saat itulah, ia membuka rahasia bahwa sebenarnya ia sudah sembuh sejak keluar dari rumah sakit, tetapi ia tetap pura-pura amnesia dan tak mau berpakaian karena tak mau dinikahkan dengan tunangannya yang ternyata telah punya istri dan anak! Aisyah mengaku sangat mencintai Kris. Namun, “Kris melepas rangkulan Aisyah/Ia tak mau mengkhianati Pak Haji/Juga Malih [tunangan Aisyah] yang sudah dianggap abang sendiri”. Akhir cerita yang mengejutkan.
Aisyah, seorang gadis berhijab yang santun, putri seorang haji pula, ternyata sanggup melakukan pemberontakan sebegitu ekstrem, karena tak ingin menikah dengan orang yang tidak dikehendakinya dan mencintai lelaki lain yang selama ini merawatnya. Tentu saja, kisah ini hanya fiktif. Apakah mungkin ada dan sungguh terjadi? Entah juga. Namun, dari situ, Kris mengambil hikmah: “Benar Aisyah, darimu aku belajar/Menjumpai cinta yang seharusnya/Namun aku tak kuasa melawan takdir/Biarlah Tuhan yang mengatur/Sesuai kehendak-Nya”.
***
Satu puisi lagi yang mengangkat tentang perempuan adalah karya Muhammad Safiin Panara, “Belis yang Tak Kunjung Sampai” yang ditempatkan di urutan ke-4 (halaman 68–81). Cinta seorang pemuda yang disebut “Lelaki Kapitang” harus kandas terhalang dendam masa lalu dan permusuhan antara moyangnya dan moyang gadis Baoerae yang dicintainya. Lelaki Kapitang yang berasal dari Nuh Mate (daerah pegunungan yang penduduknya mayoritas Kristen/Katolik), saat hendak melamar diadang 12 lelaki dari keluarga si gadis yang berasal dari Nuh Atinang (daerah pesisir, beragama Islam, dan tempat tinggalnya bernama Uma Pelang Serang), keduanya di Pulau Alor. Lelaki Kapitang terpaksa pulang alih-alih mati dibunuh. Sang gadis, yang tak tahu-menahu akan tindakan keluarganya, sudah dua bulan terus menunggu kekasihnya yang tak juga datang melamar: “Si Gadis Baorae masih duduk di balik jendela berharap kekasihnya/si Lelaki Kapitang datang meminang dengan sirih dan pinang/....” Di sini kita dapat melihat bahwa pihak perempuan menjadi korban dari kesewenangan kaum laki-laki di keluarganya yang lebih mementingkan dendam kesumat nenek moyang.
***
Dua puisi esai lainnya dalam buku ini berkisah tentang perasaan orang-orang yang tinggal di perbatasan NTT dan Timor Leste, yang harus berpisah dengan saudara sendiri akibat lepasnya Timor Timur menjadi negara sendiri pada 1999. Meskipun ada tokoh perempuan dan putri kecilnya (Sabina dan Sabita) dalam puisi ketiga karya Marsel Robot, “Batu Tumbuh Cerita”, yang lebih ditonjolkan adalah tokoh Soares, seorang laki-laki (tidak begitu jelas apakah ia suami atau saudara Sabina) yang biasa menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang hendak melintas batas lewat Gunung Faunoem. Dalam catatan kaki disebutkan, “Faunoem adalah sebuah gunung tinggi sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Gunung ini berdiri tegas di perbatasan antara Manamas (NTT ) dan Tapenit (Oekusi –Timor Leste). Gunung sangat terjal dan diliputi hutan purba. Gunung cadas dan terjal ini menjadi jalan ilegal bagi orang Manamas dan Tapenit.”
“Sebelum berangkat, sore itu Sabina ke pantai meludahi laut/Menyangga langit, menyeka pusara, dan mencium bibir sunyinya”—demikian penulis menggambarkan saat sebelum Sabina berangkat. Setelah sekian jauh berjalan dibantu Soares, Sabina dan Sabita ketahuan dan dilarang menyeberang ke Tapenit/Tipani di Timor Leste oleh “datu” (tentara penjaga perbatasan) untuk melayat neneknya yang meninggal. Penulis membahasakan bahwa mereka hanya dapat menulis nama sang nenek di batu-batu sungai. Ketika Soares sakit dan hampir meninggal, pesannya mengandung tekad yang sangat tegas: “Jika aku meninggal, buatkan kuburku seperti benteng/mengingat kematianku sebagai balas dendam/atas pembatasan hubungan keluarga di Nipani // … // Aku tak berhenti ke sana, melintas batas, melintas dunia, merengkuh cinta/Janganlah berhenti di perbatasan/tembok perbatasan adalah alis mata saudara-saudaramu/Batu-batu sungai perbatasan/akan tumbuh cerita, mawar, dan mazmur/Di sana Tuhan membatu pada kelam kemanusiaan/yang tak pernah henti berbuat sia-sia”.
Sementara, Usman D. Ganggang dalam “Memori Cinta di Batas Timor Leste” menggunakan bahasa simbolik dan metafora untuk mengisahkan pergumulan antara “tokoh aku” (Timor Indonesia) dan “tokoh dia” (Timor Leste) yang tarik-ulur bagai konflik antara dua kekasih dan akhirnya memilih berpisah.
***
Sangat disayangkan, cukup banyak kesalahan ketik (saltik) yang bertebaran dan cukup mengganggu, misalnya saja dalam puisi esai “Cinta yang Seharusnya” (hlm. 23): “Senyum ayah MEMUI/Air mata ibu berderai/Pikiran KELURGA tercerai-berai”.
Saltik yang juga cukup fatal adalah kata “KINIBALU” yang tertulis dalam larik maupun catatan kakinya, sebagai berikut. “Kinibalu merupakan nama kota di wilayah Serawak Malaysia yang diambil dari nama gunung tertingggi di Kalimantan Utara (wilayah Malaysia). Malaysia khususnya Kinibalu merupakan salah satu wilayah rantau perempuan Manggarai yang menjadi TKW maupun TKI dari Flores.” (hlm. 9). Padahal, yang dimaksud adalah “KINABALU”. Sedangkan, “Kinibalu” adalah nama masjid dan lapangan di Samarinda, Kalimantan Timur.
Satu lagi yang juga mengganggu kenikmatan membaca adalah ketidakkonsistenan tampilan huruf miring/tegak dan huruf besar/kecil di awal larik. Soal yang pertama, banyak pergantian Point of View (PoV) antara narasi dan akuan tokoh yang kadang ditulis tegak semua atau kadang tegak dan kadang miring (tidak konsisten) tanpa dibedakan yang mana. Seharusnya, ucapan batin tokoh ditulis miring, dialog diapit tanda kutip atau juga ditulis miring jika tanpa tanda kutip, untuk membedakannya dengan narasi. Saya menyayangkan minimnya pengetahuan dan penguasaan PU EBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) beberapa penulis; tidak hanya pada buku ini, tetapi pada rata-rata puisi-puisi esai lainnya. Sedangkan, soal yang kedua, ada beberapa puisi yang tidak konsisten akan penggunaan huruf kapital. Di mayoritas bait diawali kapital tetapi di beberapa bait dibiarkan diawali huruf kecil, padahal saya yakin itu semata kelalaian penulis dan kekurangtelitian editor semata, bukan disengaja dengan maksud tertentu.
Bagaimanapun, terlepas dari kesilapan-kesilapan itu, membaca puisi-puisi esai dalam GEMURUH LAUT TIMUR ini, banyak pengetahuan tentang kondisi daerah dan adat budaya lokal yang dapat saya petik dan pelajari, terutama tentang sosok perempuan-perempuan di NTT.

Jakarta, 30 Oktober 2018

Peresensi: Veronica B. Vonny
Domisili: DKI Jakarta

https://www.facebook.com/ve.vonny/posts/pfbid0DutrMe5MAJFYVcUNW7ns5V3KR7zhcP93CDcw7rjVns7DwiHLxf8ytbd4dMzkSPipl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam