SEUTUHNYA: “MISTERI YANG TELUNGKUP”

SEUTUHNYA: “MISTERI YANG TELUNGKUP”

 https://www.facebook.com/notes/763336154213106/

 

 

Tanya Sebungkus Kopi

 

Berapa lama lagikah gelasmu harus telungkup dan kaubiarkan tangan halus itu hanya mempermainkan tubuhku dengan gemas, tanpa bisa menuangkanku ke dalamnya dan menyeduhkannya untukmu seperti sebelum pergimu?

 

14.05.15_vbvs

#prolog

 

 

 

Misteri yang Telungkup (1)

 

Tak bisa terkata.

Mengapa mesti begini rahasia?

 

15.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (2)

 

Sesingkatnya terteguk.

Mestinya ia terkatup seakhir hidup.

 

15.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (3)

 

Selamanya pasi. 

Tiada kopi lagi pengisi hari. 

 

16.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (4)

 

Si bodoh yang dungu 

tengah meratapi kedunguannya.

 

17.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (5)

 

Kalau nanti kau benar pergi, 

tolong tinggalkan gelasmu di sini. 

Yakinlah, aku selalu telungkup di dasarnya, 

siap diseduh dan disuguhi ketiadaanmu, 

hari lepas hari.

 

17.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (6)

 

Sudah terbuka; terisi purna.

Kopiku tersenyum manja.

 

18.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (7)

 

Bibir-bibir tak lagi terkatup.

Neraka takluk; sehidup!

 

18.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (8)

 

Lihatlah betapa tenang aku sekarang.

Saat sebuah kepulangan berarti

sebuah sarang yang nyaman,

naung untuk segala kesementaraan.

 

Di redup matamu aku berdiang.

Di detak jantungmu aku menghilang.

 

19.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (9)

 

Serasa baru kembali dari planet asing.

Nanar. Berputar.

 

Dan, segelas kopi susu mendaratkanku kembali:

pada segala ranggas yang sudah merontok lagi

sebelum sempat berbunga sempurna.

 

(Tapi, ini bukan sepenuhnya tentang perjalanan

luar angkasa yang misterius. Juga bukan sepenuhnya

tentang siluetku yang membayang di bening gelasmu.)

 

20.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (10)

 

Pada akhirnya, ketika segala misteri terkuak, 

hanya akan aku sendiri yang koyak; 

tapi pun harus tetap bertahan dari ombak.

 

21.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (11)

 

Bermain nisbi, sekali lagi.

Menang-kalah, manalah beda? 

Tinggallah ampas yang 'ngendap: di gelas 

kopimu, yang tandas kelewat pagi.

 

Mungkin lalu timbul setanya bodoh:

masih akan terbitkah matahari?

 

22/24.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (12)

 

'Pabila malam datang kelewat cepat,

aku janji hanya 'kan tidur tenang-tenang

tanpa izinkan mataku menggenang-genang.

 

Di lingkup gelasmu yang barangkali 'kan kekal meniarap,

ada sebekal (ny)aman yang tak bakal semudahnya hirap,

walau tak bakal pula ada suaka bagi harap terlalu pekat.

 

Kemudiannya, ada yakin yang senyum membilang,

"Di sinilah, memang: kiblat buat sebuah pulang."

 

29.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (13)

 

Barangkali, pada lusa dan seterusnya, tak bakal ada lagi jejak senyummu di bibir gelas itu dan mata sayumu akan sekelopaknya meredup dari dasar beningnya. Lalu, barangkali juga, sejak lusa dan seterusnya aku akan menyibukkan diri mencari sidik jarimu yang barangkali tertinggal di entah sisi sebelah mana darinya, demi bisa sedikit saja menghidu keberadaanmu yang 'nyisa daripadanya.

 

Barangkali pula, sejak lusa dan seterusnya, mata ini 'kan 'netesi tiap gelas kopi susuku dengan sepanggil rindu yang tak lagi bersahut hangat hingga ampas, dan misteri ini pun sukses menemu kenisbian abadinya.

 

Namun, barangkali saja tidak.

 

29.05.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (14)

 

Maka, telungkuplah ia selamanya. 

 

01.06.15_vbvs

 

 

 

Misteri yang Telungkup (15)

 

Barangkali, kursi, meja, sendok, bungkus nasi, mug, teh celup, bungkus kopi, dispenser, kabel printer, pesawat telepon, kardus-kardus bisu, tiang langit-langit, kabel pembatas, sudut karpot, bahkan udara dan ruang, akan bicara terlalu banyak tentang ketidaklagiadaanmu yang serasa memalu setiap senti kepalaku dari dalam.

 

Namun demikian, seperti selalu kupercayai sejak mula: selalu ada hikmah di balik setiap kisah. Tak ada sakit yang terlalu luka dan tak ada luka yang terlalu berdarah. Maka, atas nama keluasan hati dan kelegaan jiwa---sebagaimana kuserap darimu begitu purna---marilah sama percaya bahwa pisah ini adalah berkah.

 

Dan, gelas beningmu yang telungkup itu..., bukankah lebih baik kubalik saja terbuka, agar segala rahmat dan harapan baik berbuah banyak daripadanya?

 

02.06.15_vbvs

 

(jadi, satu kata indah sebagai simpulan serupa atas tiga kisah berbeda

---aku dan mereka, kau dan mereka yang lain, dan yang terutama: aku dan kau---

: legawa!)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam