Sebuah Diorama dari “Menunggu” - Veronica B. Vonny
Sebuah Diorama dari “Menunggu”
—Sembari Mengunyah Iwan, Seusai Percakapan
*)
https://www.facebook.com/notes/10158684479358610/
‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah suatu pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: Mencari.
Selama belasan tahun, kalimat dari Kooong karya Iwan Simatupang (1975: 35) ini telah memesonaku dan menjadi kiblatku untuk “terus”—seperti halnya Pak Sastro, tokoh utama dalam novel pendek ini, yang menjadikan soal “mencari” perkutut kesayangannya sebagai alasannya untuk terus hidup, untuk terus berjalan meneruskan pengembaraannya mendapatkan kebahagiaan sejati. “Terus mencari” menjadi arah bagi langkahnya, bagi semangatnya meneruskan hidup. Meskipun pada akhirnya sang perkutut tak juga mampu ditemukannya, dia telah menemukan kebahagiaan dari kebiasaan barunya: “mencari”.
Namun, baru benar-benar kusadari beberapa waktu lalu—usai percakapan panjang dengan seorang sahabat lama—bahwa hidupku selama ini bukanlah berisi “mencari”, melainkan “menunggu”. Aku tidak pergi ke mana-mana, tidak mencari ke mana-mana; hanya diam di tempatku—zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman-nyaman amat, bahkan mungkin masih jauh dari standar umum tentang sebuah “nyaman”—sambil tak pernah putus berharap akan kembali datangnya sesuatu yang telah hilang dariku berpuluh tahun lalu. Aku hanya selalu saja mencari aktivitas-aktivitas pasif yang bisa kulakukan untuk mengisi hari-hariku agar setidaknya berguna bagi orang lain, tanpa melakukan “mencari” dalam artian sebenarnya, yaitu aktif pergi ke sana-kemari mencari informasi atau melakukan usaha-usaha konkret untuk mendapatkan sesuatu yang begitu ingin kudapatkan kembali itu.
“Menunggu”, agaknya telah menjadi aktivitas terselubung utamaku selama lebih dari dua pertiga hidupku. Tepatnya, sejak aku mengalami suatu kehilangan yang teramat parah untuk pertama kalinya. Dulu, dulu sekali. Lalu, tiba-tiba saja kusadari, telah kukumpulkan setahun demi setahun dan selalu kutunggu tanggal yang sama dengan hari terakhir pertemuanku dengannya itu terulang lagi, hanya untuk kuperingati dan kuingat bahwa masa menungguku telah bertambah setahun lagi. Lalu, lewatlah sepuluh tahun, dua puluh tahun, hingga dua puluh lima tahun, pada suatu hari di musim penghujan hampir ujung tahun lalu. Terus saja aku hidup dengan percaya bahwa saat pertemuan itu akan kembali ada. Entah kapan, tetapi pasti akan ada. Pada suatu saat sebelum ujung hidupku, mungkin.
Berpikir soal “menunggu”, aku teringat lagi sebuah cerpen romantis-ironis Iwan yang sejak dulu sangat berkesan buatku di antara sekian belas cerpen dalam kumpulan Tegak Lurus dengan Langit.
"Tunggu aku di pojok jalan itu," katanya. "Aku beli rokok dulu ke warung sana."
Ia pergi. Sejak itu, istrinya tak pernah melihatnya lagi. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke kota itu. Dilihatnya istrinya masih menunggu di pojok jalan itu.
"Selamat sore," sapa istrinya.
"Selamat sore," sahutnya.
Ia mengharap lebih dari hanya selamat sore. Tetapi, istrinya tak lagi berkata apa. Ia cepat berpaling kepada laki-laki lain yang datang menghampirinya. Kepadanya ia juga memasang muka manis, dan menyapa, "Selamat sore."
…
Ia terkejut. Suatu nada asing ditemuinya pada suara istrinya.
"Mengapa kau terkejut?" tanya istrinya.
"Kau bukan kau lagi."
"Aku masih saja... menunggu," sahut istrinya.
Ia berusaha memperdengarkan suara sungguh-sungguh.
"Ya. Kulihat kemarin."
"Habis, kau suruh aku menunggu...."
…
"Ayo! Mari...," desaknya lagi.
Berpegangan tangan erat sekali mereka berdua pergi dari pojok jalan itu. Langkah-langkahnya doyong, diseret oleh langkah-langkah pasti istrinya. Tiba-tiba istrinya berhenti.
"Tunggu dulu!" katanya, sambil mengetuk tangan suaminya.
"Ada apa?"
"Tarifku dua ratus sampai tengah malam. Sampai pagi, dobel...."
Cuplikan cerpen “Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu” (1985: 62--68)
**)
Serupa itukah “menunggu”-ku? Menunggu yang (akan menjadi) “lacur”? Mungkin iya, meskipun dengan tanda kutip besar, tentu saja. Menapaki jalanan hidup yang realis dengan isi hati dan pikir yang begitu surealis! Mungkin memang itu yang berlaku. Tetapi, bukankah konyol apabila penantian nisbi itu harus diejawantahkan dengan nyata-nyata bertapa tanpa hidup dengan sesiapa—yang berarti: mengingkari kodrat dan takdir yang berlaku untukku saat ini, menghindari cinta, yang berarti juga menghindari bahagia?
Semu? Tidak juga. Aku adalah orang yang cukup ahli menyiasati bahagia. “Bahagia di atas luka”. Itu satu lagi filosofi yang selalu jadi terapi ampuhku menghadapi luka. Mencari celah bahagia di atas sebuah luka yang menganga parah. Pasti ada. Pasti bisa. Hingga luka itu sedikit-sedikit menutup lagi dan hanya menyisakan “bahagia”. Ya, ketika waktu berhasil menyembuhkannya dan luka itu tinggal lagi sebuah kenangan lama. Konsep ini, nyatanya sangat mempercepat penyembuhan luka dan tentu saja sangat membangkitkan semangat hidup yang sedang lemah. Bukti nyatanya sekali lagi aku rasakan baru-baru ini. Ya, setelah akhirnya luka parah terakhir itu pergi…! Akan aku jelaskan nanti.
Kembali pada “menunggu”. Entahlah bagaimana bisa terjadi, “menunggu”-ku belakangan telah berubah arah gara-gara satu interupsi kecil singkat, namun yang justru telanjur mentransfer segenap denyar-hampir-abadi itu ke arah yang lain. Kok bisa? Entah. Nyatanya begitu. Tentang ini aku juga sudah berkali mengorek jawab hingga ke relung terpelosok dari hatiku. Jawabnya sama. Arah itu telah berubah!
Namun, tak peduli siapa atau apa yang menjadi kiblat dari “menunggu”-ku sekarang, yang jelas aku terpapar pada satu kesadaran: apa jadinya hidupku bila tak ada yang aku tunggu? Bukan tidak pernah aku mencoba memutus rantai “tunggu” yang meliliti hari-hariku. Bukan sekali-dua, namun entah berapa kali. Tetapi, apa hasil? Aku hanya merasa begitu gamang, terombang-ambing tak tenang, begitu hampa, kosong, tak bertujuan, serupa alien tersasar di kebun binatang.
Maka, sudah cukup, kataku pada si sahabat-lama yang mungkin terlalu peduli padaku. Tak akan pernah lagi kucoba segala refleksi, terapi hati, atau apa pun yang bakal keluarkan aku dari labirin “tunggu” ini. Tak akan pernah lagi. Bahkan, berhari-hari dan berminggu-minggu setelah percakapan panjang itu—ya, sekarang ini, aku begitu terpesona pada acara “menunggu”-ku sendiri. Statusku hari-hari ini penuh ekspresi sensasi yang begitu nikmat dari “menunggu” itu.
Menunggu itu indah.
Sangat!
10.03.13
Pagi nan salju.
Tersenyum lagi pada tunggu.
Ah, ya. Menunggu itu manis!
Fantastis!
13.03.13
Dan, tak ada mimpi.
Hanya asa yang nyanyi:
Menunggu adalah romantisasi
yang
lebih seri daripada seribu pagi!
14.03.13
Ah, ya, “menunggu” ini! Aku tak pernah duduk ongkang-ongkang kaki ataupun berlama-lama memeras air mata dan ingus di pojokan gelap, meratapi yang belum juga datang itu. Aku sibuk mengisi hari-hari “menunggu”-ku ini dengan berbagai hal yang setidaknya berguna bagi orang lain, semampu yang bisa kulakukan. Aku bekerja, aku berbagi ilmu, berbagi sayang, berbagi peduli. Karena itu, tak sesiapa pun punya alasan dan hak untuk memotong rantai ini. Ini privasi! Tak sesiapa juga yang berniat kuajak ikut menikmati ini. Bagi kalian, menunggu selalu mengesalkan, merawankan hati, membuat resah, bahkan marah. Tetaplah begitu. Tak sedikit pun akan kuusik itu. Karena aku pun tak ingin hatiku yang begitu buncah dengan semangat “tunggu” ini diusik.
Aku telah berketetapan. Aku telah berkeputusan. “Menunggu” adalah aku. Aku yang sepenuhnya menerima diriku sebagai seorang yang tak pernah “biasa-biasa saja”. Aku adalah manusia jenis “upnormal”—seperti segelintir orang (istimewa; atau orang aneh?) di dunia ini—yang entah menjadi sangat terkenal, entah harus merelakan hidupnya berakhir di rumah sakit jiwa. Aku siap saja apabila harus menerima konsekuensi yang kedua. Yang jelas, baik dulu maupun sekarang maupun nanti, aku tidak hanya diam menunggu mati. Aku justru berseru pada diriku sendiri: Aku harus dan akan terus hidup hingga tiba akhir dari “menunggu” ini. Entah apa, entah bagaimana. Biarlah itu tetap menjadi rahasia, jadi misteri Tuhan terindah, hingga saatnya tiba! Yeah, still and keep waiting, until the “someday” comes!
Saat itu akan datang. Hanya itu percayaku. Suatu saat yang sama sekali tidak akan biasa-biasa saja. Karena, bukankah Tuhan tak pernah lupa menciptakan kejadian-kejadian “amazing” di hidup kita? Dan, aku percaya, saat itu akan jadi yang paling “amazing” di antaranya!
Tetapi, seandainya hingga napas terakhirku tak pernah datang “someday” yang “amazing” itu pun, barangkali aku tak akan terlalu kecewa. Karena, bagiku:
“‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ bukanlah hal yang terpenting lagi. Yang penting adalah: Menunggu. Ya. menunggu itu indah!”
Veronica B. Vonny
Diakhiri: 14 dan 15 Maret 2013
*) sebuah esai pribadi, semata ingin berbagi simpulan atas refleksi diri sepanjang Februari--Maret 2013; bukan untuk disanggah atau diperdebatkan
**) selengkapnya di: https://www.facebook.com/notes/veronica-b-vonny/tunggu-aku-di-pojok-jalan-itu-sebuah-cerpen-karya-iwan-simatupang/10151336331743931
Referensi:
- Iwan Simatupang, Kooong – Kisah tentang Seekor Perkutut (novel), Pustaka Jaya, 1975.
- Iwan Simatupang, Tegak Lurus dengan Langit (antologi cerpen), Sinar Harapan, 1985.
Komentar
Posting Komentar