Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Sebuah Ruang yang (Belum) Ingin Kutinggalkan

Gambar
Di ruang tamu kusam itu, waktu pernah berhenti sekali: menandai keringat yang saat itu kita peras bersama dan kita nikmati euforianya penuh ceria —s ekaligus penanda luka yang kemudian tertoreh dalam, seketika. Hingga detik lalu, waktu masih terhenti di titik yang sama. Aku yang tak mengizinkannya pergi. Aku yang menekan remot lagi dan lagi, walau 'ku tahu, tak ada televisi sama sekali di depan sofa usang itu. Aku mencoba membersihkan debu-debunya sambil berharap kamu akan mau sejenak saja duduk di sana bersamaku, lalu sejenak lagi, dan sejenak lagi — menampakkan kebersahajaanmu yang tanpa polesan kepalsuan; menyeringaikan senyummu yang sarkastis tetapi manis — yang membuatku berkali merasa jatuh cinta sekaligus patah hati dan membuatku lupa bahwa sesungguhnya kita tak pernah punya rumah. *** Pagi ini, aku ingin duduk diam di bangku usang ini. Masa bodoh jika mungkin hanya setengah bokongku yang bisa duduk dengan aman, bahkan jika tak lama setelahnya tubuhku akan terpe...

Sebuah Geram, Sebuah Gumam

Gambar
Betapapun, geram yang kusimpan dalam-dalam di balik geraham ini hanya akan merupa tonjokan-tonjokan lemah di dadamu yang akan kauaku tak lagi tambun oleh rindu manakala kita bertemu. 'Kau jahat,' akan begitu kataku. Begitu saja. 'Aku tahu dan aku sengaja berbuat itu,' akan begitu jawabmu. 'Aih, harus lebih jahat seperti apakah aku, agar kau mampu dengan kejam membalas kejamku?' lanjutmu putus asa. Sayangnya, andaipun kau mendera dan menyalibkanku, serupa Tubuh berpeluh di palang kayu itu, kau tetap tak akan mendapat balas apa-apa dariku kecuali sebatang tongkat sihir dan sebuah "voila!" dari gumam yang tertahan sekian masa.  25.04.17_p.m

Menjadi Boneka

Gambar
Hari ini, aku merasa menjadi begitu boneka dalam permainan bersama yang entah berdasarkan aturan apa —entah gilir-giliran, entah  oper-operan, entah lempar-lemparan, entah rebut-rebutan, atau petak-umpet yang tak kunjung ditemukan.   Bisakah kaubayangkan dirimu menjadi sebuah boneka yang seakan tak punya rasa dan kehendak, yang dipermainkan sesukanya oleh …—aih, aku bahkan tak punya pemilik pribadi! Aku boneka milik bersama, tanpa aturan jelas siapa yang lebih dulu boleh memainkannya dan kapan. Aku boneka serbabisa :  bisa diapakan saja tanpa tangisan —apalagi  jeritan. 20.04.17_vbvs