Sebuah Ruang yang (Belum) Ingin Kutinggalkan
Di ruang tamu kusam itu, waktu pernah berhenti sekali: menandai keringat yang saat itu kita peras bersama dan kita nikmati euforianya penuh ceria —s ekaligus penanda luka yang kemudian tertoreh dalam, seketika. Hingga detik lalu, waktu masih terhenti di titik yang sama. Aku yang tak mengizinkannya pergi. Aku yang menekan remot lagi dan lagi, walau 'ku tahu, tak ada televisi sama sekali di depan sofa usang itu. Aku mencoba membersihkan debu-debunya sambil berharap kamu akan mau sejenak saja duduk di sana bersamaku, lalu sejenak lagi, dan sejenak lagi — menampakkan kebersahajaanmu yang tanpa polesan kepalsuan; menyeringaikan senyummu yang sarkastis tetapi manis — yang membuatku berkali merasa jatuh cinta sekaligus patah hati dan membuatku lupa bahwa sesungguhnya kita tak pernah punya rumah. *** Pagi ini, aku ingin duduk diam di bangku usang ini. Masa bodoh jika mungkin hanya setengah bokongku yang bisa duduk dengan aman, bahkan jika tak lama setelahnya tubuhku akan terpe...