Sebuah Geram, Sebuah Gumam

Betapapun, geram yang kusimpan dalam-dalam di balik geraham ini hanya akan merupa tonjokan-tonjokan lemah di dadamu yang akan kauaku tak lagi tambun oleh rindu manakala kita bertemu.

'Kau jahat,' akan begitu kataku. Begitu saja.

'Aku tahu dan aku sengaja berbuat itu,' akan begitu jawabmu. 'Aih, harus lebih jahat seperti apakah aku, agar kau mampu dengan kejam membalas kejamku?' lanjutmu putus asa.

Sayangnya, andaipun kau mendera dan menyalibkanku, serupa Tubuh berpeluh di palang kayu itu, kau tetap tak akan mendapat balas apa-apa dariku kecuali sebatang tongkat sihir dan sebuah "voila!" dari gumam yang tertahan sekian masa. 


25.04.17_p.m







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup