Sebuah Ruang yang (Belum) Ingin Kutinggalkan
Di ruang tamu kusam itu, waktu pernah berhenti sekali: menandai keringat yang saat itu kita peras bersama dan kita nikmati euforianya penuh ceria—sekaligus penanda luka yang kemudian tertoreh dalam, seketika. Hingga detik lalu, waktu masih terhenti di titik yang sama. Aku yang tak mengizinkannya pergi. Aku yang menekan remot lagi dan lagi, walau 'ku tahu, tak ada televisi sama sekali di depan sofa usang itu.
Aku mencoba membersihkan debu-debunya sambil berharap kamu akan mau sejenak saja duduk di sana bersamaku, lalu sejenak lagi, dan sejenak lagi—menampakkan kebersahajaanmu yang tanpa polesan kepalsuan; menyeringaikan senyummu yang sarkastis tetapi manis—yang membuatku berkali merasa jatuh cinta sekaligus patah hati dan membuatku lupa bahwa sesungguhnya kita tak pernah punya rumah.
***
Pagi ini, aku ingin duduk diam di bangku usang ini. Masa bodoh jika mungkin hanya setengah bokongku yang bisa duduk dengan aman, bahkan jika tak lama setelahnya tubuhku akan terperosok sempurna ke dasar sofa. Biar saja. Barangkali, momen mengagetkan itu justru bakal jadi titik balik bagiku, untuk memutar lagi laju waktu; untuk mengganti baterai jam meja berdebu itu dan memutar kembali jarumnya ke waktu kini, membiarkannya melompat ke waktu nanti: ketika aku telah sepenuhnya amnesia akan ruang itu..., dan sesosok bayang bernama kamu yang pernah menghiasnya bersamaku.
***
Akh, benar katamu, aku memang tak pandai memprediksi apa pun yang bakal terjadi di waktu nanti. Aku cuma tahu: yang kuinginkan saat ini hanyalah duduk diam di sini, sendiri, tanpa mencoba mengharap adamu lagi—kecuali satu pinta saja, kalau boleh: jangan hancurkan ruangan kumuh ini, meskipun mungkin kamu sangat tak ingin melihatnya lagi. Biarkan saja aku yang di sini, hingga jantungku serupa jarum jam meja kusam ini: seutuhnya terhenti.
27.04.17_vbvs

Komentar
Posting Komentar