Di Ujung Petang, di Ambang Remang; Masih Ada Banyak Siang
Petang seperti makin tak sabar menjemput senja. Angka lilin tak mau kalah dengan helai putih di kepala. Haruskah aku terus duduk mencangkung dengan linglung hingga senja ditalak sang malam lalu semua waktuku tenggelam? Ada yang harus dieksekusi. Ada yang harus diputus sampai di sini : Kepasrahan bodoh pada yang-selama-ini-kukira-takdir. Sebab, ada yang harus dimulai lagi. Ada jalan terang menuju pintu di depan sana yang sebetulnya sudah lama terbuka lebar. Sayang saja, selama ini aku tak mencoba menembus rintang belukar, selalu merasa jalan itu terlalu terjal. Padahal, malam belum bakal mengambil ajal. Pagi demi pagi masih 'kan selalu hadirkan mentari, yang kian siang 'kan transformasikan senyum kecilnya dengan sinar nan garang ... dan aku akan terpanggang pesona: betapa dahsyat karunia Sang Maha! 14.03.25_vbvs