MEMPRIHATINI PLAGIASI

https://www.facebook.com/notes/345845809827939/

MEMPRIHATINI PLAGIASI

“Ciri yang paling kentara dari seorang plagiator adalah: produktivitas yang berlebihan dan keambisiusan yang juga berlebihan untuk ‘ngejar setoran’ dan menjadi terkenal.”

Pendapat ini kusimpulkan dari pengalamanku sendiri selama bergiat di dunia kepenulisan. Aku tidak sedang googling apa pun dan tidak sedang membuka buku apa pun, dan tidak sedang teringat ucapan siapa pun. Kalimat di atas benar-benar baru saja keluar dari pikiranku dan membuatku memutuskan untuk menjadikannya kalimat pembuka tulisan ini (entah akan jadi tulisan apa, tapi sepertinya bisa disebut esai saja). Kalau aku mengutip, aku pasti akan menyebutkan sumbernya. Kalau tahu-tahu Anda menemukan di luar sana ada kalimat yang mirip atau bahkan serupa, yakinlah bahwa itu benar-benar kebetulan saja, yang berarti kesimpulan ini bukan semata kesimpulanku pribadi, bukan? Baguslah itu.

Bicara tentang plagiasi, ini penyakit yang rentan sekali terjadi di dunia kepenulisan, seperti juga pemalsuan produk di dunia dagang atau korupsi di dunia kerja. Menggiurkan, ya...—apalagi kalau tidak ketahuan, hahaha.... Sebagai penulis—yang syukurnya nggak pernah terlalu ambisius meraih ketenaran (apalagi dengan menghalalkan segala cara) dan nggak pernah tertarik memutilasi, mengolase, apalagi menyontek bulat-bulat tulisan orang—aku prihatin sekali dengan kejadian yang baru-baru ini mencuat. Aku tak berminat menyebut kejadian apa (toh, Anda semua sudah tahu, kan?), juga tak berminat membahasnya secara khusus. Kalaupun pada akhirnya tak ada sanksi tegas buat dia itu, mudah-mudahan dia bukan “psikopat berdarah dingin” yang tak punya rasa bersalah. Biarlah sanksi moral dari para (mantan) penggemarnya yang menghukum dia. Atau, biarlah para pencari kebenaran membuka dan membeberkan lebih lanjut apabila ditemukan lagi bukti-bukti “kejahatan”-nya yang lain. Ewww!

Memang benar, konsekuensi yang harus diterima penulis idealis macam aku ini adalah: miskin. Sudah miskin ketenaran, miskin duit pula, hehe.... Yang menjadi kebisaan dan concern utamaku adalah membagikan ilmuku secara gratis kepada mereka yang serius belajar dan jujur dengan kelebihan maupun kekurangannya. Orang-orang terdekatku menganggapku bodoh. Terkadang aku juga tergoda menganggap diriku bodoh. Punya kemampuan lebih, kok, kurang berusaha memanfaatkannya untuk menafkahi diri. Memangnya nggak butuh duit? Memangnya keluarga nggak perlu makan dan hidup? Ya, ya, mestinya bisa menyeimbangkan: tetap jadi penulis jujur dan idealis, tapi juga bisa mendapatkan imbalan secukupnya dari kegiatan menulis. Akan tetapi, aku percaya, rezeki Tuhan yang atur. Kalaupun nggak pernah kaya dan ngetop-ngetop banget di dunia menulis ini, aku merasa sangat bangga bisa menjadi penulis yang bermartabat. Dan, aku sangat bangga dan terharu membaca idealisme salah satu anak didikku. Beberapa hari lalu, dia berkomentar begini di Grup Kepenulisan B3V* yang kini kuasuh: “ yang kini kuasuh: “Di sini, kan, tempat buat belajar nulis (penulis pemula), bukan tempat buat penulis lama yang mengukur sebuah karya dari popularitas palsu. Aku amatir dan aku bangga. Amit-amit, dah. Jangan sampai anak-cucu gua punya kecenderungan sebagai plagiat. Itu, kan, mempermalukan diri sendiri.”

“AKU AMATIR DAN AKU BANGGA. AMIT-AMIT, DAH. JANGAN SAMPAI ANAK-CUCU GUA PUNYA KECENDERUNGAN SEBAGAI PLAGIAT.” Andai saja semua penulis berpikiran sama seperti bocah polos itu.... Bangga pada diri sendiri dan kemampuan sendiri, bukan membanggakan dari hasil mendompleng/mencuri karya orang lain dan mengakuinya sebagai buah kreativitas pribadi!

***

Ngomong-ngomong, bukan sekali-dua kali aku dan tim membongkar praktik plagiarisme, ketika aku masih berkecimpung secara aktif di Grup Kepenulisan PEDAS-Penulis dan Sastra. Sian Hwa, sahabatku—yang namanya baru-baru ini mencuat karena membongkar kasus plagiasi cerpen di koran ternama oleh penulis yang (konon, sih) juga cukup ternama (yep, yang kusebut di atas tadi itu)—juga tergabung di dalamnya. Memang tidak dalam skala sebesar yang sekarang ini, tetapi dua di antara beberapa kasus yang pernah kami bongkar cukup menghebohkan dunia kepenulisan Facebook saat itu. Jejak-jejaknya pasti masih bisa ditelusuri di grup tersebut. Dari situlah, antara lain, kulihat benang merah antara plagiator-plagiator amatir itu dan si penulis (ngetop?) yang karyanya sedang dikulik Sian Hwa sekarang ini. Seperti kukatakan di kalimat pertama tadi, mereka semua punya kemiripan: produktivitas yang berlebihan** dan ambisi yang berlebihan untuk eksis sekaligus meraup materi dari karya-karyanya yang diterbitkan, yang menang lomba, yang meraih penghargaan, dst.

Kasus pertama, yang kami temukan beberapa tahun lalu, adalah penjiplakan hampir bulat-bulat yang dilakukan seorang penulis asal Medan (kalau dari segi usia, sih, sudah cukup berumur). Banyak sekali puisi maupun cerpen karya orang lain yang dia akui sebagai karyanya. Hanya dengan mengubah sedikit kata-kata pada judul ataupun isi (bahkan cuma mengganti huruf besar dan kecilnya!) dia menganggap karya tersebut adalah buah pikirnya sendiri! Banyak juga karya yang “dikloning” (termasuk karya yang betul-betul karyanya sendiri): diikutkan di berbagai lomba berbeda dengan hanya mengubah 0,00... persen judul atau isinya. Orang gila, ini, mah. Orang itu benar-benar “psikopat” yang melakukan plagiasi tanpa rasa bersalah, bahkan tak (mau) (di)sadar(kan) bahwa yang dilakukannya adalah plagiat! Memang, sih, nikmat. Pemalsuan-pemalsuan itu membuat dia cukup ngetop di jagat Facebook sekitar tiga-empat tahun lalu dan sering menang lomba, yang tentunya dapat hadiah dan “karyanya” diterbitkan. Banyak pengelola grup kepenulisan yang kecolongan karena telah memenangkan dia dan telanjur menerbitkan beberapa “karyanya” yang serupa dengan yang diterbitkan penerbit lain dari event yang lain. Tentang bagaimana nasib dia sekarang, aku tak tahu dan tak mau tahu. Mudah-mudahan saja dia sudah terjebak kasus yang membuatnya bisa benar-benar jera. Dan, kalaupun tetap ingin jadi penulis, semoga dia bisa menjadi penulis yang jujur dan dapat menghargai karya orang lain.

Di catatan pribadiku, aku juga masih menyimpan bukti-bukti kasus plagiasi puisi yang dilakukan seorang gadis muda sekitar satu-dua tahun lalu. Dia ini sangat kreatif. Beberapa baris puisi penyair A + beberapa baris puisi penyair B dikolase dan dikolaborasikannya dengan diberi rangka baru, sehingga jadilah puisi C, hasil karyanya sendiri. Andai dia menyebutkan sumber, mungkin tak masalah. Andai dia hanya memosting puisi-puisi itu di akun pribadinya, mungkin juga tak terlalu masalah. Aku pribadi juga memuji kreativitasnya mengolah ulang potongan-potongan itu menjadi puisi yang sama sekali baru. Namun, menyebarluaskannya di grup-grup kepenulisan sehingga dia mendapat puja-puji, bahkan mengikutsertakannya dalam lomba-lomba, seakan semua kata-kata indah tersebut adalah murni tercetus dari isi kepalanya sendiri, itulah masalah. Dia tidak hanya tidak menghargai para penyair aslinya, tetapi juga melecehkan penyelenggara lomba. Dan, alangkah menyedihkan ketika para penyair senior—termasuk yang karyanya diplagiasi oleh bocah tersebut!—malah balik menyerang kami dan memberi pemakluman kepadanya dengan dada teramat lapang, dengan alasan: “Jangan dihakimi. Dia, kan, masih muda, belum sadar kalau yang diperbuatnya itu salah. Jangan mematikan kreativitasnya, dsb....” dan “Tidak apa-apa, namanya juga proses belajar. Saya dulu waktu baru belajar juga begitu....” Pletak!

Beginikah wajah dunia kepenulisan kita? Dipenuhi sikap-sikap permisif yang menganggap praktik-praktik plagiasi adalah lumrah, menganggap sah-sah saja praktik COPASUS (COpy - PASte - Ubah-ubah Sedikit :p) kecil-kecilan itu selama masih “proses belajar”? BELAJAR apa? Belajar jadi PLAGIATOR ULUNG? Bukankah justru yang kecil-kecil itu, jika dibiarkan dan terus dimaafkan tanpa sanksi tegas, akan menjadi monster yang pada saatnya bisa membunuh dan menghancurkan dunia kepenulisan yang seharusnya kita junjung bersama ini? Bukankah menjaga moral sebagai “penulis bermartabat” menjadi tanggung jawab kita bersama?

Justru, kalau si plagiator yang ketahuan itu adalah teman Anda, saudara Anda, penulis favorit Anda, seharusnya Anda-lah yang lebih tegas bersikap terhadapnya, karena Anda-lah yang telah dikhianati dan paling dikecewakan bulat-bulat olehnya. Adalah aneh apabila karena dia teman atau favorit Anda, Anda jadi “cinta buta” terhadapnya, tak mau melihat kesalahannya, dan malah memusuhi pihak yang hanya ingin menguak kebenaran atas dasar hati nurani. Aku tidak sedang menjadi “pahlawan kesiangan” bagi Sian Hwa, sahabatku, yang sempat diserang balik oleh para pencinta buta dari si penulis (ngetop?) minggu lalu***. Justru aku ingin mengatakan, kalau suatu saat aku menemukan dia—atau siapa pun sahabat atau orang yang kukenal—terjegal kasus semacam ini, aku tak akan membela mati-matian atas kesalahan yang sudah jelas-jelas dia perbuat. Justru akulah yang akan menghunus pedang paling tajam di hadapannya dan meminta pertanggungjawabannya. Itulah teman sejati. “Teman sejati bukanlah dia yang selalu membelamu, tetapi yang mampu mengingatkanmu dan menunjukkan kesalahanmu.” (Kalau kalimat ini, terus terang bukan karanganku sendiri, tapi kurang-lebihnya pernah kubaca dari kumpulan kata-kata bijak.) Syukurlah, dari catatan FB yang di-posting Sian Hwa kemarin, tampaknya sudah banyak yang “melek”, karena “kekhilafan” yang dilakukan secara tidak sadar tentu berbeda dengan “kebiasaan”.

Akhirnya, semoga “Say NO to Plagiarism” menjadi gerakan kita bersama—tanpa pilih-pilih, tanpa pandang siapa, dan aku pun tak perlu menamai calon anak anjingku kelak: “Plagiasi Prihatini”—demi memperingati hancurnya dunia kepenulisan yang kucintai ini oleh monster-monster plagiarisme. :)

Jakarta, 13-04-2016

Veronica B. Vonny

Penulis dan editor independen, pencinta Sastra Indonesia

Catatan kaki:

* Maaf, nggak usah cari-cari alamat grup ini, ya. Nggak bakal ketemu karena kuseting “privat” alias “rahasia”. Ini cuma grup kecil berisi segelintir anak-anak didikku di grup terdahulu yang ingin memperdalam lagi kemampuan mereka—anggaplah semacam bimbingan lanjutan, karena dasar-dasar menulis sudah mereka kuasai dengan cukup baik. Sengaja tidak kubuat “closed group”, apalagi “public”, karena aku tak mau diribetkan dengan permintaan masuk yang berjibun setiap hari, lalu anggota menjadi membeludak dan pembelajaran menjadi tidak efektif lagi. (Mmm..., baiknya skip saja bagian tak penting ini.)

** Produktivitas yang berlebihan memang bukan patokan seseorang pasti plagiat. Aku punya seorang sahabat yang bisa menulis beberapa karya sekaligus dalam satu malam. Itu karena dia insomnia dan, menurut pengakuannya, pada saat-saat itu dia seperti kesetanan. Inspirasi tak berhenti mengalir dari kepalanya, dan kepalanya justru bisa meledak kalau tidak dia salurkan ke dalam tulisan saat itu juga. Dan, aku tahu persis, semua tulisannya asli. Dia ini termasuk yang paling keras juga menentang plagiasi. Aku sendiri pun, saat inspirasi sedang deras mengalir, pernah menulis lebih dari lima puisi dalam sehari. Namun, pastilah tampak beda antara produk yang dihasilkan dari buah pemikiran pribadi yang matang (kualitas) dan produk yang asal jadi-asal banyak, entah sumbernya dari mana dan dikuasai benar-benar atau tidak (kuantitas).

*** Karena tepat di hari dia memosting tulisan gugatan itu, ayahku meninggal, sehingga aku tidak bisa mendukungnya saat itu. Baru ini sempat menulis note. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam