Aku, Wanita Hampir Paruh Baya yang Bahagia (sebuah fiksi)
Aku, Wanita Hampir Paruh Baya yang Bahagia*
Oleh Veronica B. Vonny
AKU seorang wanita hampir paruh baya. Hidupku baik-baik saja dan aku bahagia. Suamiku seorang pengusaha yang jauh dari ternama, tetapi dia sangat baik dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Anakku dua, sudah hampir jadi orang semua. Yang sulung sudah bekerja di sebuah perusahaan jasa dan akan segera menikah dengan atasannya yang muda dan kaya, sehingga kurasa aku tak perlu mengkhawatirkan masa depannya. Yang bungsu baru kuliah tingkat satu tapi sudah bisa mencari uang sedikit-sedikit dari menulis buku. Sedangkan aku, menjahit adalah caraku mengisi hari-hariku. Baju-baju bekas dan kain-kain perca kudaur ulang jadi pernak-pernik dan aksesoris cantik hingga tas-tas etnik nan unik.
Suamiku pengusaha sederhana yang baik hati, tapi entah kenapa aku jatuh cinta lagi. Aku jatuh cinta lagi pada seorang importir yang suka memasarkan barang-barang buatanku ke luar negeri. Ah, segala kebaikannya membuatku jatuh hati dan selalu rindukannya setengah mati. Kalau mau tahu, selain menjadi importir, diam-diam dia juga seorang rentenir dan penyihir. Untungnya dia tak kikir. Untung pula dia tak pernah menyihirku jadi buah pir. Oh, hatinya begitu bangir oleh cintanya yang masir. Tiada akhir mesranya membanjir, sehingga tanpa kusadari aku telah jatuh ke dalam pesonanya yang begitu sihir. Sebagai rentenir, dia pinjami aku cintanya bulat-bulat dengan bunga yang mungkin tak akan bisa kubayar lunas---hanya berbunga dan terus berbunga, entah sampai mana, entah bagaimana pula mengembalikannya.
Lalu, tiba-tiba saja....
Aku seorang wanita hampir paruh baya. Suamiku dua. Anakku lima---yang tiga anak tiriku dari suami kedua. Hidupku sangat bahagia. Tapi, kata semua orang, aku telah membunuh suamiku yang pertama. Tapi, apa iya? Aku tak pernah bisa mengingatnya. Aku tak pernah percaya lagi kekata siapa-siapa---kecuali suamiku kedua, sang importir yang juga rentenir yang juga penyihir. Apakah aku telah disihirnya jadi begini pandir? Aku tak percaya dia bisa begitu tega. Mungkin dia punya profesi yang tak enak didengar telinga, tapi apakah lantas berarti ia durjana? Tidak, tidak. Bagiku, dia surga. Surga duniaku terindah!
Lagi kudengar, orang-orang menghujatku setengah murka, bahwa aku telah membunuh suamiku yang pertama. Entah kenapa. Tapi, aku tak percaya kata mereka. Kalau aku memang membunuh suami pertamaku, aku pasti ingat itu. Karena, aku bukan pelupa. Aku masih ingat, kok, semua detail yang pernah terjadi di masa laluku. Masa kecilku, masa remajaku, masa pacaranku, suami pertamaku, anak-anakku---sejak masa kecil mereka hingga sekarang. Aku ingat semua itu. Bahkan, apa baju yang kupakai waktu menguburkan kucing kesayanganku dua puluh tahun lalu pun aku masih ingat. Maka, apa-apa yang kata orang aku lakukan tapi tak kuingat, berarti sebenarnya memang tak terjadi, bukan? Soal suami pertamaku itu, aku hanya tak tahu di mana kini dia berada. Tapi, dia hanya pergi, bukan mati. Dia pamit padaku, cuma pergi. Aku ingat itu. Saat itu malam Rabu. Ya, dia pamit padaku untuk pergi beberapa hari, bukan mati. Tapi, entah kenapa dia tak kembali-kembali. Entah kenapa pula anak-anakku menolak ketika kusuruh mencari. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu yang aku tak tahu. Mereka kasak-kusuk di belakangku dengan mimik begitu pilu. Tapi, tak ada yang bicara sesuatu pun yang penting padaku. Mereka semakin jarang kutemui. Entah sibuk apa saja mereka belakangan ini. Aku sepi.
Di saat-saat sepi begini, saat aku lebih banyak berada di kamar seorang diri, suami keduaku datang lagi. Ya, dia sudah menikahiku dulu, ketika aku belum ditinggalkan suami pertamaku. Tentu saja diam-diam, tanpa pesta macam-macam, bahkan tanpa siapa pun datang karena kami pasti akan diancam. Tapi, kami cinta. Begitu cinta. Cinta suami keduaku ini, buatku berarti segalanya---segala yang dulu-dulu tak pernah kupunya dalam arti sebenarnya. Ah, kukira dulu aku sudah punya semua. Tapi, ternyata tidak. Begitu banyak yang kupunya ternyata cuma pura-pura, cuma topeng berkedok sok ada, sok bahagia, padahal semuanya dusta, cuma sepertinya ada, rasa-rasanya ada, tapi sebenarnya tidak. Suami keduaku yang bukakan mataku atas semua itu. Begitu banyak yang aku tak punya dan ternyata bisa diberikannya. Dia membuatku sempurna. Cuma dia. Cuma dia! Tentu saja aku begitu bahagia ketika dia kini benar-benar ada, bukan cuma bisa kumimpikan tanpa bisa kusentuh kapan saja aku mau. Lalu, kurasakan cintaku semakin buta, padanya!
Barangkali, kalaulah aku benar-benar gila, aku yakin, gilaku pasti karena cinta---cintaku yang begitu buncah padanya. Selalu, sejak pertama kali kami bertemu! Aku tak tahu, tak tahu betapa cinta bisa begini belenggu. Tak pernah tahu dulu-dulu. Tapi, rentenirku, suami keduaku tercinta, dia yang ajarkan itu. Dia yang berikan cinta tak berujung itu padaku. Aku mabuk, semabuknya dalam dekapnya. Tak pernah sudah. Tak pernah selesai kureguk dia. Toh suami pertamaku sudah tidak ada kini. Siapa lagi yang harus menghalangi kami? Anak-anakku? Sudah kubilang, mereka tak lagi peduli. Aku pun begitu, kurasa. Toh mereka sudah dewasa semua. Sudah bisa mandiri sepenuhnya. Anak-anak suami keduaku juga. Mereka sudah besar-besar. Di mata mereka, aku ada-tiada. Tapi, aku tak hirau. Aku hanya butuh ayah mereka---rentenirku, penyihirku, suami keduaku, cinta tak sudah-sudahku.
Aku tak peduli apa pun yang orang kata. Yang penting, aku masih punya suami. Masa bodoh suamiku ganti. Yang jelas, suamiku yang ini jauh lebih ganteng dan jauh lebih baik hati. Dia rentenir tapi tidak kikir. Dia importir yang berhasil. Dia juga penyihir tapi tak jahil ataupun usil. Tak pernah disihirnya manusia jadi kerdil. Bahkan, tak pernah pula dibunuhnya lalat dan nyamuk tanpa disentil, meskipun dia sangat mahir. Ah, pokoknya, hanya dia yang percaya padaku. Hanya dia yang setia temani aku di ruangan pengap ini. Ah, biar saja pengap, yang penting kami bisa saling bersidekap, hangat. Kami masih bisa selalu saling mengempap, nikmat. Dan, yang terpenting, dia begitu cinta. Begitu cinta padaku. Buktinya, kami selalu saling berpandangan, saling berciuman, saling berdekapan, saling ber...---
Krek! Pintu terbuka tiba-tiba.
"Siapa, sih? Ganggu kemesraan saja!" rutukku.
"Hei, Mbak. Saya, kan, sudah berkali bilang, kalau mau masuk, ketuk pintu dulu!" Suamiku menyeru, mewakili juga ketergangguanku.
"Maaf, Pak, Bu, saya lupa permisi tadi." Gadis berseragam putih itu tersenyum ramah. Atau sengaja diramah-ramahkan, entah. Ya, sepertinya terlalu ramah. Pasti dia ada maunya.
Benar saja apa kuduga. Gadis itu membuka gorden jendela seraya berkata kepada kami seperti pada anak-anak balita, "Hari sudah pagi, sudah waktunya minum obat dan disuntik lagi, lho. Siapa mau disuntik lebih dulu kali ini?"
10/14.07.13
* : sebuah fiksi berdasarkan tema Beranda FF PEDAS 032: "Orang Gila"
Komentar
Posting Komentar