Selukis Pagi Tentangmu
Pagi ini terasa dingin dan nyaman. Mungkin karena masih sepi
saja di sini, walaupun jam kantor sudah mulai hampir setengah jam lalu. Kau
tahu? Aku baru saja menganalogikanmu seperti masakan Italia atau Jepang nan lezat
menggiurkan, yang sering di-upload
teman kita di grup WhatsApp, yang jika nekat kubeli bisa menguras biaya makanku
satu minggu. Kau juga seperti barang-barang bermerek yang dijajakan online shop—keren dan sangat mengundang
minat, tetapi jika nekat kupesan pastinya akan langsung menghabiskan gajiku
satu bulan.
Ya, bisa saja aku memesanmu hingga kau bisa kunikmati dan
kulumat habis sekenyangku, menjadikan kau milikku, seutuh. Akan tetapi, aku tak
ingin begitu. Entah mengapa, menatapmu dan menikmatimu hanya dari balik kaca
etalase begini ini terasa jauh lebih nikmat. Tak habis-habis. Tak rusak-rusak.
Dengan begini ini, kau tak akan menjadi ampas dalam perutku yang bakal harus
kubuang besok pagi. Kau juga tak akan menjadi rongsokan tak berguna apabila
waktu kesialan tiba dengan tiba-tiba. Gawai semahal apa pun bakal retak atau hancur juga jika jatuh, bukan? Maka, kubungkus
siluet senyummu untuk bekal makan siangku dan kusimpan kelebatan rambut ikalmu
buat memayungiku, kalau saja hujan menang dari matahari, siang ini.
09.02.17_vbvs

Komentar
Posting Komentar