Sekelumit Kesan: Sang Kapten




Tak ada kata selesai untuk sebuah singgah, juga sebuah lewat---kecuali ia betul-betul t'lah berakhir dengan sebuah wafat. Demikian halnya sebuah hadir. Ia bisa berulang-ulang pergi, tetapi juga bisa berkali-kali mampir lagi, menghadir lagi, meski untuk selewatan saja. Maka, tak perlu ada kehilangan disertai sedu sedan, bukan?

Belakangan ini, saya telah agak skeptis terhadap kematian. Berita meninggalnya orang-orang dekat pun sama sekali tak membuat saya "terjatuh dan tak bisa bangkit lagi", apalagi "terjebak dalam lautan luka dalam", hehe. Ya, buat apalah sebuah wafat ditangisi teramat-amat, karena toh kita semua akan berkumpul lagi di akhirat, bukan?

Saya pun bukan orang yang gampang terharu, Pak. Namun, kepergianmu yang tiba-tiba tanpa pertanda, tanpa kode-kode apa juga, tanpa salam-pamit sebelumnya, tentulah menyisa tanya dan cukup menyesak dada. Dan, kedatanganmu yang sekali pagi tadi rasanya cukup jadi alasan bagi saya untuk terharu. Saya bahkan masih menangis ketika menulis ini, sehingga saya harus berkali berhenti demi menetralkan hati saya dan tidak membuat teman kiri-kanan curiga. Haha.

Akh, sungguh curang ini---gumam saya bulan lalu, tanpa terdengar siapa juga, tentu. Betapa rugi saya. Yang lain bisa mengalami tiga tahun perjuangan berdarah-darah namun berbuah indah bersamamu, sedangkan saya hanya kebagian waktu sepertiganya. Kau tahukah apa yang paling saya nantikan dari sebuah ibadah Rabu? Arahanmu, Kapten. Ada yang beda ketika bagian itu tak ada lalu diisi oleh orang lain yang bukan kau. Ada aura karismamu yang lenyap. Ada kehangatan sekaligus ketegasanmu yang hirap. Ada berkat-Nya yang tak lagi hinggap lewat firman-firman yang kautekankan untuk sungguh dijalankan. Keceplas-ceplosan, keterbukaan, keterusterangan, sekaligus "kesadisan"-mu, itukah musabab pergimu? Tidak, saya tahu, saya tidak cukup patut mengetahui kenapanya, dan saya tidak ingin terjebak di wilayah itu.

Apa pun kata orang, buat saya, kau orang hebat, Pak. Kau nakhoda terbaik yang pernah saya temui. Kau mengajari saya untuk sungguh hidup mengandalkan Tuhan, selalu berkata jujur, bekerja giat, menyatukan semangat, tutup telinga terhadap ocehan-celotehan si jahat. Hm, apa tadi istilahnya? Lembah lembut. Ya, itu kau, Bapak.

Saya bukan orang yang suka memuji dengan modus. Saya hanya satu di antara sekian ratus yang tak cukup berposisi terlalu dekat denganmu, tetapi saya sungguh terharu. Saya tak pernah bicara banyak-banyak---pun ketika Bapak memeluk saya tadi, saya tak bisa bilang apa-apa kecuali "terima kasih banyak", meski sebenarnya banyak yang ingin diungkap. Cuma dengan inilah saya bisa bicara dan saya ingin Bapak tahu: saya mengagumi Bapak.

Semoga Bapak selalu berlimpah berkat dan selalu jadi penerang langkah banyak orang.

13.12.17_vbvs
                                                                                                                                                                                                                                                         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam