Kurang Setahun dari Seperempat: Sebuah Esai-Puisi


Pengantar


Begitulah aku menamai tulisan ini. Bukan berarti mau ikut-ikutan atau sebaliknya bikin pelesetan, juga tak bermaksud mengklaim bahwa inilah “genre baru (lagi) yang belum pernah ada di dunia”. Tidak, aku tak tertarik sama sekali untuk “nyemplung” sebagai yang pro maupun yang kontra. Tiba-tiba tebersit saja untuk menulis sebuah catatan (pribadi) dengan gaya seperti ini, di hari yang boleh dikata spesial (untukku) ini. "Esai-Puisi": sebuah esai dengan catatan kaki berupa puisi-puisi. Namun, sungguh, aku tak peduli sahnya ini dinamai apa. 

Sebelum masuk ke bahasan inti, menarik bagiku—dan karenanya, aku tertarik membagikan—status lama seorang kawan, yang menurutku adalah rangkuman sekaligus pandangan singkat yang sangat bernas dan cerdas atas berbagai definisi penting berikut ini.


Dunia literasi (selanjutnya baca: literer) adalah dunia penuh dinamika yang memukau. Sebenarnya, tanpa disadarinya, setiap orang selalu bersinggungan dengan dunia ini. Kajian literer melengkapi sejarah manusia dengan menambal 'blank spot' dan menautkan 'missing link' yang ada.

Penulis profesional adalah orang yang secara sadar bersinggungan dengan dunia literer untuk kemudian memasukinya dengan persiapan-persiapan matang. Persiapan-persiapan matang ini adalah bentuk tanggung jawab seorang penulis terhadap sejarah---sejarahnya sendiri, setidaknya.

Apa jadinya ketika demikian ramai orang terpukau oleh dunia literer dan "nyemplung" tanpa bekal apa pun? Aku rasa, sejarah kita nanti akan dibaca anak cucu kita sebagai sekumpulan kekonyolan tercatat!
(17 Maret 2016)


Maka, setidaknya, sebagai bentuk “tanggung jawab penulis” (meskipun aku tak mempersiapkannya secara matang juga), setidaknya aku mau menjelaskan bahwa esai ini adalah semacam refleksi dari “sejarah”-ku “sendiri”, berdasarkan beberapa puisi karyaku sendiri dari tahun ke tahun lampau yang kucantumkan dalam catatan kaki—tepatnya kusebut: “Catatan Puisi”. Semoga tak ada yang lantas diare atau sakit gigi, apalagi ingin bunuh diri. 

Kini saatnya menengok ke judul utama.


***


Kurang Setahun dari Seperempat


Dua puluh empat, angkanya. Seperempat abad, bayangkan seberapa lamanya. Mungkin sebagian kalian belum lahir atau masih imut ketika itu. Aku juga masih imut, belum genap dua puluh, waktu itu. Nekat? Iya. Salah? Mungkin, kalau dilihat bahwa kebelumdewasaan itu mengimbas ke mana-mana selanjutnya. Namun, sama sekali tak salah jika kita melihatnya sebagai anugerah-Nya, jalan terbaik yang telah ditetapkan-Nya. 

Nah, sebelum melangkah ke mana-mana, baiknya kita simak dulu status seorang kawan yang satu ini. Bisa dibilang, dari titik sinilah aku melangkah.


--ihwal "zona aman" dan "zona nyaman"--
coba pikir, berapa banyak perempuan yang mau tak mau mengubur kisah "cinta sejati"-nya demi bisa berada di "zona aman" pun "zona nyaman"? banyak, sodara-sodara!

adalah manusiawi keinginan untuk aman dan nyaman dalam menjalani kehidupan ini. so, tidak usah aneh jika banyak jomblo baru bersebab pasangannya lebih memilih orang lain yang kelihatan/terbukti lebih menjanjikan keamanan dan kenyamanan.

anda yang tak/belum mampu menyediakan/menciptakan/(bahkan sekadar) menjanjikan "zona aman" dan "zona nyaman" bagi pasangan anda, jangan misuh-misuh gaje. nikmati saja, sudah ada jatah masing-masing kok.
(26 November 2014)

Sebetulnya, aku agak terganggu dengan kata “mau tak mau” di paragraf pertama, karena ada unsur kepasrahan dan keterpaksaan banget di situ. “Mau tak mau (harus) mengubur kisah 'cinta sejati'”? Buatku, itu tidak berlaku. Tak ada yang perlu dikubur demi sebuah “keamanan” dan “kenyamanan”. Lagi pula, "aman-nyaman" macam apa yang bisa terbuat dari keterpaksaan? 

Paragraf kedua, aku setuju, itu memang kenyataan. Banyak yang begitu. Ini justru bertentangan dengan paragraf pertama yang menyatakan bahwa banyak perempuan yang—dalam interpretasiku—“rela berkorban” dengan: memilih melupakan cinta sejati yang tak bisa dimiliki demi menikah dengan (mungkin) pilihan orangtua, atau orang yang lebih menjanjikan, atau semacam-macam itulah. Paragraf kedua ini justru mau bilang bahwa banyak pasangan yang tak tahan dan memilih berpisah, demi “orang lain yang kelihatan/terbukti lebih”. 

Aku hanya setuju bahwa itu ada, dan banyak. Namun, buatku—kendati kuakui bahwa dulu-dulu aku sering ingin dan pernah mencoba memilih jalan itu—penghindaran macam itu bukanlah penyelesaian. Berwaktu-waktu telah terlewat dengan segala konsekuensi dari itu, sampai pada akhirnya aku sungguh percaya pada paragraf ketiga: “nikmati saja, sudah ada jatah masing-masing kok”.

Tak bisa dibilang mudah, memang, tetapi bukan berarti tak bisa. 


Berawal dari puisi-puisi lama yang dihadirkan oleh notifikasi "Pada Hari Ini" di Facebook, jadilah aku menapaktilasi momen-momen puisiku pada tanggal-tanggal berdekatan (2829 Januari) hingga empat tahun ke belakang. Dalam puisi-puisi itu kalian mungkin menemukan kegetiran dan kekecewaan yang kental, tetapi sekaligus sebuah sikap bertahan yang kukuh dan asa yang masih selalu ada. 

"Sep(b)erdua Masa" (1), menandai momen ke-20 yang mungkin terasa agak euforis bagi diriku sendiri. "Dadaku pun masih mendada di itu dada. Belum dadah!—," kukata. Ya, betapapun, aku belum dan tak akan pergi ke mana-mana. Dalam "Dua Puluh" (2) dan status pendek tanpa judul (3) aku menegaskan itu. Ada kegamangan, sekaligus ketakmaumenyerahan. Demi sebuah surga di ujung sana. 

“Kontradiksi Kuadrat” (3) di peringatan ke-21 dan “Ingat dan Lupa” (4) setahun sesudahnya, di peringatan ke-22, ternyata bicara hal yang hampir senada. Aku agak memaksa diri memahami keberadaanku yang kata dia—kata mereka—sungguh berharga dan penting tetapi justru hampir tak pernah diingat dan diucapi doa-doa berkat dan selamat dari keluarga dan teman dekat. Biasanya tak ada yang tahu; tak ada yang ingat—termasuk dia sendiri yang, katanya—tapi kupercaya benar, selalu mencintaiku sepenuh hati. Miris, ya. Bukankah kelanggengan juga harus didukung faktor eksternal seperti doa dan ucapan selamat? Tak heran jika sebuah status pendek di hari yang sama juga bicara bahwa rasanya ada esensi yang salah (5).

Tanggal 28 Januari 2017, setahun lalu, aku masih menulis status privat seperti dalam (7). Ah, seburuk itukah refleksi tahunanku? Masa-masa terburuk memang telah lama lewat, tapi yang buruk kadang masih menghantui.  Raportku kadang masih saja merah. Sebagian besarnya—kuakui—memang tersebab ulahku sendiri. Ada banyak sebab yang melatari, tetapi tak perlulah mengurai benang kusut usang itu lagi. Terkadang, raport merah itu cuma tersebab kemanjaan yang berlebih semata, kok, yang sesaat saja masa berlakunya.


Sebaik-baiknya adalah selalu membuka hati, memberi maaf dan memaafkan diri sendiri, serta mensyukuri apa pun yang terberi sebagai pengalaman, lahir maupun batin, bahkan sepahit apa pun ia. Dan, itulah yang kulakukan: mensyukuri pengalaman, termasuk—tentu saja!—mensyukuri kenangan. Yang baik maupun yang terburuk, bagiku, semuanya adalah proses mendewasakan diri, memperkaya batin. Semua itu kupercaya sebagai bagian dari “mengaman-nyamankan” diri dan hati sedemikian rupa sehingga apa yang sebenarnya adalah suatu penderitaan mampu kita terima sebagai kegembiraan, kebahagiaan.

Ya, barangkali naif, aku. Barangkali terkesan: “itu sandiwara bertopeng”, “itu sinetron”, atau itulah yang tak kuakui sebagai “zona aman-nyaman” yang terpaksa kudiami karena memang itu saja yang terberi. Namun, apa pun kesannya, dari empat tahun lalu hingga saat ini, masih saja doaku adalah: semoga aku terus bisa mendampinginya, dengan setulus hati, dengan keyakinan bahwa dialah yang terbaik bagiku dan demikian juga aku baginya, hingga… (semoga) mencapai surga. 


Perkawinan bukanlah sebuah istana di awan yang selalu indah, tetapi juga bukanlah sebuah neraka yang selamanya hanya berisi serapah dan amarah. Ada banyak keindahan-kebahagiaan yang harus terlahir dari sebuah usaha dan perjuangan keras—yang kupercaya sebagai tuntunan-Nya, mukjizat-Nya; dari berkali-kali kegagalan yang terus diperbaiki dan disempurnakan; bukan yang terhadiahi dari langit begitu saja. Namun, ketika yang begitu itu hadir, sesederhana apa pun, teramat manislah rasanya. Ketika satu masalah besar terkalahkan dan kita berhasil melewatinya tanpa menyerah duluan dan meninggalkan arena, berarti naik satu levellah kita. Entah itu bernama uji kesabaran, uji kejujuran, uji kebenaran, atau uji nyali, yang jelas: mempertahankan memang lebih sulit daripada sekadar mendapatkan. Tinggal: apakah kita mau membiarkannya lepas atau tetap tergenggam erat. Apakah kita mau menerima ini-itu sebagai musibah atau anugerah. Apakah masih mau memanjakan nafsu-nafsu klise dan goda-goda gaje atau melemparnya jauh-jauh ke dasar laut tanpa ragu. Selalu ada dua pilihan yang berkutuban. Selalu ada tantangan dan ujian, tetapi juga selalu ada kekuatan yang dikaruniakan-Nya dalam diri kita untuk memilih: "Bagaimana kita kemudian bisa menjadi bahagia di atas luka-luka kita” (dalam sebuah puisi yang sudah sangat lama: "Tentang Pilihan Keempat" (8))


Pada akhir tulisan ini, dengan penuh kesadaran kutulis sebuah "Prasasti" (9). Inilah caraku mencintai. Dan, inilah caraku bertahan, selalu dengan hati penuh syukur.



Veronica B. Vonny
28–30 Januari 2018


--------------------------------------


Catatan Puisi:


(1)  Sep(b)erdua Masa
Masih terlalu pagi ketika mimpi yang belum tanak harus kumamah dalam puluh kali puluh kali puluh babak belum tamat-tamat.
Lelakon gegantian sudah dalam setengah masa hidup, sekarang.
Gelaran wayang mungkin masih panjang;
Dalang belum menanda-nanda pertanda pulang.
Dadaku pun masih mendada di itu dada.
Belum dadah!—
Meski kadang bawah-dada begitu dupa pada rerongga kepala dan harus kuhidu wewangi campah.
Belum habis kumamah masa.
Sudah (atau baru?) seperdua; seberdua.
Kunyah lagi hingga lumat pada—barangkali—surga.
29.01.14’pa 



(2)  Dua Puluh
Kesimpulannya: lanjut saja, hingga entah mana. Siapa tahu surga memang di ujung sana adanya.
Mari selebrasi, sambil ber-"semoga tak lekas basi".
28.01.14'pa


(3)  [tanpa judul]
Bukankah sejauh mana pun terbang,burung selalu kembali ke sarangnya lagi?
29.01.2014



(4)  Kontradiksi Kuadrat
Jika sejak awal tak pernah diingat, buat apa ditangisi ‘pabila suatu saat ia sebenar minggat?
Lalu, seperlu apa ia dianggap kodrat yang telanjur lekat seerat dan tak bakal habis digerogoti ngengat?
Padahal, kalian lihat? Ngengat pun tak pernah lupa berpeluk hangat!
29.01.15_vbvs 
#21



(5)  [tanpa judul]
Pagi yang aneh.
Lagi, aku terbata:
pada yang bukan semestinya,
pada esensi yang salah....
29.01.16_vbvs


(6)  
Ingat dan Lupa
Sudah lewat tengah hari. Angka-angka kian panjang berderet di depan tahun-tahun yang makin sibuk mengarsipkan sejarah---entah untuk apa.
"Lupa pun apa ruginya? Bukankah kau saja tak pernah lancar mengeja maknanya?" sergahmu, waktu-waktu lalu.
Entah mengapa, aku selalu ingat meskipun selalu gagal kupahami esensinya. Kau yang selalu lupa. Orang-orang bahkan tak pernah ingat. Mereka dan kau selalu bilang bahwa sejarah harus terus dipertahankan, tak boleh diubah, tapi justru kalian yang tak pernah memperingatinya, tak pernah menganggapnya berharga. 
Kali ini, aku merasa tak perlu mengingatkanmu lagi. Duapuluhdua, entah akan berakhir di berapa---biarlah terus sebuah tanya. Aku sudah berjanji tak akan mengakhirinya sepihak saja, dan akan kubiarkan takdir bertitah pada saatnya. Lalu, kau? Terserah saja. Aku masih di sampingmu, bukan?

29.01.16_vbvs 


(7)  [tanpa judul]
Waktu-waktu begini, tanggal ini, biasanya adalah waktu berefleksi. Untuk cuma menemukan lagi kemasihgagalanku memperbaiki apa yang bertahun lalu telanjur rusak itu. Masih saja merah raportku, dan masih kuharap remedial berpuluh kali lagi. Entahlah apakah bakal pernah lulus aku.
Dua puluh tiga, besok. Tapi, masih saja tidak betul-betul sejalan. Perasaan tak pernah saling kompromi. Apa yang kupikir sudah lumayan, bagi dia masih juga bernilai di bawah 5. Bikin frustrasi, bukan? Bikin malas usaha lagi dan jadi cenderung membiarkan saja. Wajarkah?"  
28.01.17_vbvs 


(8)  Tentang Pilihan Keempat
Jika seseorang diharuskan memilih satu di antara dua pilihan
bukankah salah jika dia memilih pilihan ketiga:
yaitu memilih untuk tidak memilih apa-apa?
Dua pilihan itu adalah sama luka
dan luka akan jadi tambah parah jika satu di antaranya dipilih;
dan luka akan lebih parah lagi jika tak satu pun di antaranya dipilih!
Bukankah demikian?
Karena itu, jika lalu ia memilih pilihan keempat yang berarti:
mencari celah-kecil di antara tiga pilihan yang tak mengenakkan,
bagaimana? 
Bagaimanapun, lambat laun kita akan jadi mengerti
: Bagaimana kita kemudian bisa menjadi bahagia di atas luka-luka kita.
26.03.97


(9)  Prasasti
"Aku milikmu
selama Dia masih menginginkannya begitu."
29.01.18_pa 



Komentar

  1. Aku pengen bisa nulis esai behini, panjang dan lancar, walau kutahu enggak dalam sekejal mata.

    BalasHapus
  2. Makasih udah mampir, Wid. Memang gak sekejap, sih, tapi pasti bisalah kamu nulis yang lebih bagus, hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Bund. Hahaha. Aku kurang banget baca untuk bentuk begini.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam