SEBUAH KESAKSIAN


Tuhan Maha Penyembuh!
Tuhan selalu bisa.
Tuhan selalu punya rencana.

Kamis malam, 12 Maret, kemarin, aku mampir ke Gedung Hati Kudus Yesus, gedung paroki tempatku melayani, dengan tujuan satu: mengambil 'earphone' yang ketinggalan di meja sekber (sekretariat bersama, tempat 'kerja' para seksi). Itu mau kuberikan ke anakku. Takut keburu hilang. Habis itu mau langsung pulang lagi.

Tapi, sebelum kaki ini benar-benar menginjak pelataran gedung, hujan mulai turun. Terpaksa aku melangkah dengan agak berlari. Sampai di lantai 2, hujan mulai deras. Selagi aku masuk toilet, dari Ruang Markus-Petrus bergema nyanyian pujian. Ada PDPKK, rupanya. Ketika melewatinya kutengok, tidak terlalu penuh yang hadir. Hatiku terketuk-ketuk: ah, pengin masuk! Sepertinya aku sungguh butuh siraman rohani, nyanyi-nyanyi dalam persekutuan begitu; apalagi saat hati sedang rusuh kayak gini. Tak cukup ibadah di kantor hari Rabu yang cuma 'nyanyikan beberapa lagu.

Setelah masukkan 'earphone', yang untungnya masih ada di meja, ke dalam tas, aku bedakan dulu biar muka yang kusut ini cerah sedikit. Habis itu, segera kutinggalkan tas, hanya bawa kunci, HP, dan selembar tisu, masuk ruangan itu.

Lagu-lagunya 'nyesss' banget di hati yang seharian itu terasa makin parah galaunya dibanding kemarin-kemarin. Yeah, parah sungguh hari-hariku di bulan Maret ini. Sudah mulai sejak bulan lalu, malah. Ada rasa sepi yang 'nyiksa, rasa 'desperate' berat kalau yang ada lagi-lagi hanya rentetan pesan WA soal kerjaan dan gereja yang tak ada habisnya. Tak ada sesiapa yang 'ngajak bercanda, yang 'ngajak 'ngobrol pribadi, tanya kabarku bagaimana, sampai bikin aku bercerita tentang kecamuk aneh yang tak henti-henti di dada dan kepala tanpa bisa kutumpahkan ke mana jua. Makanya, aku seperti si gila yang mencari cinta belakangan ini. Sangat membaik perasaanku kalau ada kenalan baru di situs pertemanan yang 'chat'; berharap satu di antara mereka adalah jodoh masa depanku. Kalau tak ada siapa pun yang menyapa, begitulah, kambuh lagi hampaku.

Bukan cuma itu. Kecamukku berawal dari satu: 28 Maret adalah dua tahun meninggalnya Papa, suamiku; 29 Maret hari ulang tahunnya. Dan masalahnya, aku tak bisa mengingat dia dengan damai, apalagi mendoakannya agar tenang di atas sana. Aku saja sangat tak tenang setiap teringat dia. Ada rasa marah yang masih tak dapat kukendalikan: kenapa dia meninggalkanku dengan cara begitu rupa tanpa pernah bilang apa-apa sebelumnya; apa sebenarnya sebab matinya, apa itu juga akibat kesalahannya sendiri yang bikin orang lain nekat menghabisinya, atau apa dia sengaja membiarkan dirinya mati untuk membebaskanku mencari penggantinya, atau malah sengaja hendak menghukumku yang hampir tidak pernah menyerahkan hatiku secara utuh di masa lalu.

Kecamuk perih bercampur sedih itu tak mampu kutahan---aku tak ingin menangis lagi karena dia!---hingga aku lebih suka melarikan lelah dan resahku ke bayangan sosok seorang sahabat yang di masa sangat lalu dulu pernah dekat. Pelukannya yang menenangkan, hanya itu yang segera kubayangkan ketika segala kecamuk itu lagi-lagi mulai membayang!

Tahu absurdnya? Teman masa laluku itu sudah mati juga; teramat kurus dan ringkih ketika sakit menggerogoti tubuh tinggi-gantengnya hingga dia tak kuat jalani hidupnya lebih lama lagi. Jadi, aku melarikan resah akibat almarhumnya suamiku ke sosok lain yang sama almarhumnya---cuma lebih manis dan dapat dibayangkan dengan damai, tanpa dibayangi sedikit pun masalah! Sementara, di dunia fana ini, aku mengejar obsesi untuk segera mendapatkan seorang calon suami baru nan sempurna yang mampu mengusir rasa hampaku tapi mau menerima segala syarat dan ketentuanku yang jelas sangat susah tanpa bisa ditawar lagi. Ribet dan langka, jelas. Buktinya, beberapa teman maya baru yang telanjur disuka tiba-tiba lenyap tanpa berita. Ini juga menyisakan tanya dan ganjalan yang lumayan 'nganga. Jelas aku butuh obat penyembuh kalau tak mau hidupku makin bermasalah!

Aku lupa mengandalkan Tuhan. Aku tak percaya Yesus sanggup ubahkan kesepian-kehampaanku. Tapi, rangkaian lagu dan doa yang dipandu Worship Leader malam itu menyadarkanku.

"Waktu Tuhan pasti yang terbaik, walau kadang tak mudah dimengerti. Lewati cobaan 'ku tetap percaya, waktu Tuhan pasti yang terbaik!" Itulah saat ketika bayangan peluk hangat si teman yang manis berubah menjadi pelukan Yesus! Ya, sejak kapan Yesus kalah ganteng dan kalah ampuh sebagai penyembuh?! Astaga! DIA menempatkanku kembali pada kenormalan yang seharusnya. Buat apa galau gaje, cari cinta ke sana kemari, kalau ada Yesus di hati?

Tak cukup sampai di situ. Pengajaran yang singkat tapi 'dalem banget' oleh Alex Yuniarto, yang menekankan lagi tentang "waktu Tuhan", "rencana & rancangan Tuhan", pasti bukan kebetulan. Ya, Lex, bukan cuma lagu-lagunya yang pas banget dengan renungan dadakanmu yang "padahal gak janjian sama sekali". 'Tarikan-Nya' dengan hujan yang tiba-tiba deras sehingga aku gak bisa langsung pulang dan 'terpanggil' masuk ruangan itu, lalu doa "altar call"-mu yang entah dari mana tahunya kok bisa-bisanya 'nyebut masalahku juga dalam doa itu... ya, ya, apa lagi namanya kalau bukan "Tuhan yang punya bisa!"? Aku sudah 80% 'nangis waktu kamu kembali 'ngajak hadirin nyanyi "Waktu Tuhan" lagi. Dahsyat banget lagu itu!

Habis acara itu, sampai di sekber lagi, sendirian, saat sudah tak ada yang keluar-masuk, aku menangis beneran. Kali ini tangis yang tak perlu kutahan lagi (seperti biasa) supaya tak ketahuan siapa-siapa dan tak ditanyai apa-apa. Aku 'nangis sepuasnya sambil minta ampun ke Tuhan karena telah meragukan rencana-Nya dan lebih percaya manusia-manusia---yang nyatanya tak bisa diandalkan satu pun bisa jadi pembawa sukacita yang sesungguhnya. Saat itu, aku juga berdamai dengan Papa. Aku tak lagi marah ataupun merasa terluka saat mengingat dia. Aku kembali bisa merasa damai dan yakin dia juga damai di alam sana. Aku juga yakin, Tuhan akan kasih pendamping terbaik pada saatnya.

Begitulah. DIA menyembuhkan dengan cara ajaib-Nya. Selalu. Hanya aku yang sering lupa bersyukur dan kurang menghargai berkat-Nya.

13.03.20_vbvs

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam