Sejumput Sejarah

—ketika sesosok makhluk aneh mengguncang hari-hari—

malam begitu kelabu di karmel house ketika remaja-remaja usai bertangisan (hanya sebuah latar yang kebetulan). sebuah hati yang bandel terhenyak di pinggiran yang gelap dan dingin. di kiri-kanan: ratap ; di ruang: lagu kematian ; di atas: gelap ; di pojok depan: sesosok makhluk aneh yang kutemukan di tempat persinggahan menggelitik begitu manis. lantai-lantai beku tak mempan tenteramkan pintu yang dikoyak-moyak durjana baru. duh, ramalan akan kena sasaran! akan berlatar pengulangan adegan zaman purbakala!

emosi kosong menggelegak tanpa sebab dan pentalkan pelakon-pelakonnya di emperan ; yang laki-laki begitu terhina oleh kilas-balik yang demikian nakalnya sehingga yang tersisa di benaknya cuma mati secepatnya! yang betina cuma bisa obral ketawa sebentar buat kemenangan berkedok untuk kemudian hampir pula wafat diterjang orang-orang sekitar yang berkomplot seakan membela si lelaki padahal demi tulang-tulang mereka sendiri!

uh, untung saja dia kuat! tak gubris lagi pejantan konyol itu bikin dia disambut lagi kemudian. ya, suatu keberuntungan yang kebetulan!
nah, itu cerita masa lalu. entah kini bila pembalikan kecut akan persis seperti demikian. cuma ketakutan akan kiamat kedua yang menimpa badan-badan pelakon atau kutukan tersendiri pada sang makhluk atau hilangnya bayangan seorang pejuang hidup yang mesti ada di benak, mendorong menutup pintu rapat-rapat dari penasaran-penasaran iseng yang menyergap di itu malam tanpa jawab-jawab kepastian.

buat apa menambah-nambah cerita kalau ending-nya cuma seperti lakon-lakon sandiwara cengeng? toh tak akan ada orang yang mau bantu-bantu menangis atau orang yang begitu gila sampai mau menumpangkan harapan-harapan konyol empat kali dan siap-siap berperang-ria untuk yang kedua kalinya--melawan tua-tua yang terhormat, sengsara-sengsara, dan korban-korban di tengah jalan.
sekali lagi: sungguh kasihan bila tulang-tulang sang makhluk mesti hancur berserakan!

maaf-maaf saja buat anda--makhluk aneh di perpustakaan.
persetan pada semua bujukan--karena dewasa ini yang diperlukan cuma diam dan kesendirian. persetan dengan wanita-wanita lainnya yang bergiliran akan anda undang satu-satu dengan ceracau konyol anda: ‘yang ini namanya siapa? kok saya lupa...’ dan seterusnya dan seterusnya.

ya, mudah-mudahan saya lupa selama-lamanya pada gigi-gigi drakula anda!
asal tahu saja: saya sama sekali tak pernah bermimpi gigi-gigi itu menyentuh wajah saya!! maaf-maaf saja!!

14.11.1989

**********

*sejumput catatan:

Percaya atau tidak, ini karma. Yang kusebut "makhluk aneh dengan gigi-gigi drakula" itu bernama Etha Suheriyanto, yang masih saja membuatku keasyikan dipagutnya, sampai sekarang.

Percaya atau tidak, ini kutulis saat kelas III SMP. Aslinya masih ada (kalau-kalau ada yang tak percaya): selembar kertas A4 yang bawahnya dipotong seukuran puisi ini (ini puisi, kan?) berisi huruf-huruf cetak kecil dari mesin tik manual 10 pt.

Percaya atau tidak, aslinya memang begitu. Huruf kecil semua? Memang disengaja, sehingga "Anda" pun jadi dihurufkecilkan.

Typo-nya cuma:
- dulu belum tahu bahwa yang baku "terenyak" (tanpa 'h') bukan "terhenyak".
[God! Berapa banyak penulis yang sampai sekarang pun belum tahu???];

- ada spasi di depan titik-koma (;) >> tapi dulu memang disengaja, untuk memisahkan bagian-bagian yang sepadan dalam satu kalimat, agar tidak rancu dengan hal-hal yang dijelaskan oleh titik-dua (:) di sana. Buktinya, dulu aku sudah tahu bahwa titik-dua/tanda tanya/tanda seru, harus tanpa spasi alias nyambung dengan kata sebelumnya.
[God! Berapa banyak pula penulis yang sampai sekarang masih salah???]; 

- tanda kutip satu (') pada kutipan >> seharusnya kutip dua (");

- penulisan 2 tanda seru >> mestinya, kalau 1 aja terasa kurang, harus 3 (pengulangan huruf/tanda baca yang cuma 2 berurutan seakan "diharamkan" dalam kebiasaan editorial fiksi).


Tidak percaya, sih, kenapa tiba-tiba pengin banget posting (ulang) ini. Apa karena jatuh cinta lagi (pada suami)?

Tidak percaya juga, kenapa posting puisi zaman purba malah jadi pengajaran EYD begini. :p
Tapi, percayalah, sepertinya aku memang terlahir "upnormal"!


26.04.2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam