INSECURED MIRROR #17 - COME BACK
SUARA teriakan terdengar dari salah satu kamar
perawatan VIP sebuah rumah sakit besar di
Singapura. Seorang perawat berambut pirang bergegas menghampiri kamar 1203 itu. Pasien penghuninya dipindahkan ke rumah sakit mewah tersebut dari
sebuah rumah sakit di Indonesia dalam keadaan koma sejak tiga bulan lalu. Apa
dia sudah sadar?—pikir sang perawat sambil membuka pintu.
Ternyata iya! Lelaki berambut hitam agak ikal itu
memandang sang perawat dengan kebingungan sambil matanya mengitari ruangan itu,
mencoba mengenali di mana dia berada. Tentu saja sia-sia. Tempat itu asing
baginya. Dia hanya bisa menduga, terlihat dari peralatan dan perabotan yang ada
di situ, bahwa dirinya berada di rumah sakit. Dia mencoba mengangkat kepala dan
menggerakkan tangan dan kakinya, tetapi tubuhnya terasa sangat lemah. Berbagai
alat yang menempel di tubuhnya juga membuat dia susah bergerak.
“Di… di mana saya? Saya kenapa? Mana Sasha…?”
Sepertinya perawat
itu tidak mengerti bahasa Indonesia, karena dia seakan tidak
menggubris pertanyaan tadi dan malah membalas dengan pertanyaan lain dalam bahasa Inggris, “Sir, are you okay? Welcome back to the world,
Mr. Widi Wikara!”
“What?”
“Your name is… Mr. Widi Wikara, right?”
Perawat itu menengok dan membaca nama pasien yang tertera di papan kecil yang
tergantung di ujung tempat tidur, meyakinkan diri bahwa dia tidak salah sebut.
“No…,” gumam lelaki itu sambil menggeleng bingung.
“It’s okay, Sir. Maybe you’re still confused
because you’ve been
in comma for about three months. Let me call the doctor to check you,”
kata perawat itu sambil keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter.
Apa? Aku koma tiga bulan…? Ini di mana? Siapa yang disebut perawat tadi? Lalu, Sasha di mana?
Selamatkah dia?
Bertubi pertanyaan menumpuk di kepala lelaki itu. Dia merasa pusing karena kesadaran
dan ingatannya belum pulih sepenuhnya. Sasha…?!
Siapa Sasha...?
Dia mencoba menggali ingatannya. “SASHAAA!” Ya, itulah kata pertama yang dia
teriakkan, yang membuat dirinya terlonjak kembali ke alam kesadaran. Rasanya bagai
tersentak bangun dari sebuah mimpi buruk yang panjang..., atau bagai terlontar kuat
ke permukaan air setelah sekian lama tenggelam di dasar danau.
Ya, seperti itu rasanya.
Nama itu keluar lagi dari
mulutnya secara spontan ketika sang perawat muncul.
Sepertinya, itu nama seseorang yang sedang dalam bahaya dan sangat dicemaskannya. Dia memejamkan mata, mencari-cari lagi dalam memorinya. Muncul
sekelebat bayangan seorang perempuan yang terikat dan butuh pertolongan.
“SASHAAA!” Tubuhnya
tersentak dan teriakan khawatirnya terlontar sekali lagi saat
dia teringat siapa pemilik nama itu.
Déjà vu! Benar. Dia tersentak bangun dari kondisi komanya setelah alam bawah
sadarnya seperti berulang-ulang menayangkan bayangan Sasha yang sedang duduk
terikat di hadapannya. Dia sendiri sedang berlutut dan berbicara ketika
tiba-tiba punggungnya ditusuk bertubi-tubi... hingga tubuhnya roboh ke dada
perempuan itu!
Lelaki itu panik dan berusaha melepaskan alat-alat
yang menempel di tubuhnya, mencoba bangun. Aku harus cari Sasha!
Saat itulah, seorang dokter paruh baya—yang juga
berkulit putih dan berambut pirang seperti perawat yang tadi, yang kini pun masuk bersama sang dokter—berusaha menenangkannya. Namun, karena si pasien masih berontak dan tampak panik, dokter segera menyuntikkan sesuatu untuk
menenangkannya. Selanjutnya, dokter itu memeriksa kondisinya dengan teliti dan
si perawat dengan sigap mencatat hasil pemeriksaan itu.
¢
“Juno!
Kamu sudah sadar? Kamu baik-baik saja, Nak? Oalah…, Ibu kangen! Tidurmu
lama sekali, Nak….”
Lelaki itu terbangun mendengar suara seorang ibu
yang mendekatinya dengan heboh. Suara itu terdengar sangat familier.
“Ibu…?” tanyanya ragu.
“Iya, ini Ibu! Syukurlah, akhirnya kamu sadar
kembali, Nak…!” Sang ibu memeluk putranya yang sudah lama terbaring koma itu.
“Aku… benar-benar masih hidup, Bu?” tanya lelaki itu
di telinga Aliya, sang ibu, yang masih memeluknya.
“Iya, Juno! Ibu sangat bersyukur karena kamu
berhasil bertahan, Nak…!” ucap Aliya sambil mengusap air mata haru dan bahagia.
Dia melepaskan pelukan dan duduk di samping ranjang putranya.
“Bu…, ini di mana?” Pertanyaan yang belum dijawab
oleh perawat tadi ditanyakannya lagi kepada ibunya.
“Kamu di rumah sakit terbaik di Singapura, Juno. Om Dirgo yang mengirim kamu ke sini agar
mendapat perawatan yang lebih baik,” jelas ibunya.
“Ini di Singapura?
Owh….” Juno terdiam sejenak.
“Lalu, lalu..., di mana Sasha, Bu? Ibu tahu Sasha, pemilik
paviliun kontrakanku itu, kan?” lanjutnya.
“Kamu pikirkan kesehatanmu sendiri dulu, Juno. Kamu
baru siuman dan masih lemah. Nanti pelan-pelan akan Ibu ceritakan semuanya.
Yang penting kamu sehat dulu, oke?” Sang ibu seperti menghindar dan mengalihkan
ucapannya.
“Iya, Bu….” Juno terpaksa mengangguk.
“Bu, tadi… waktu aku pertama bangun, kenapa Suster
memanggil aku dengan nama lain, Bu? Aku masih bingung, lalu… tiba-tiba aku nggak
ingat apa-apa lagi….”
“Soal itu juga nanti Ibu jelaskan, ya, Nak. Kamu tak
usah pikirkan itu dulu. Kalau dokter atau suster panggil kamu dengan nama lain,
iyakan saja, tidak usah protes. Pokoknya, nanti Ibu jelaskan semuanya kalau
kamu sudah cukup kuat. Yang jelas, kamu masih Juno, anak Ibu. Kamu masih hidup,
dan kamu harus berjuang supaya cepat pulih. Janji, ya?” kata sang ibu sambil
mengusap pipi Juno dengan sayang.
Juno hanya bisa mengangguk lagi, meskipun beribu
pertanyaan yang berkecamuk di otaknya membuat kepalanya sakit.
¢
Juno
menggeleng-geleng, tersenyum getir, menggeleng lagi, tersenyum getir lagi, memejamkan
mata, berpikir, memijat-mijat kepalanya yang pening, lalu menarik napas panjang
beberapa kali. Dia masih berusaha mencerna segala penjelasan ibunya barusan. Ibunya sekarang pergi untuk
membeli makan siang. Sekarang Juno sendirian, masih merasa tak percaya dengan
semua yang terjadi.
Hari itu sudah hari ketujuh dia sadar. Sudah tiga hari ini kondisinya
sudah cenderung stabil dan tidak
tiba-tiba drop lagi seperti sebelumnya. Dia sudah bisa didudukkan di tempat
tidur dan makan makanan yang lunak. Dia juga merasa memorinya baik-baik saja. Dia ingat semua perjalanan
hidupnya hingga kejadian tragis malam itu. Justru
karena itulah, dia mendesak ibunya untuk menceritakan apa yang terjadi pada
dirinya sampai dia harus koma selama tiga bulan, lalu bagaimana dia bisa berada
di rumah sakit di luar negeri.
Semuanya seperti
kisah dalam novel atau sinetron saja. Tak masuk akal, tetapi nyata!
Sang ibu menceritakan
bahwa dia sempat mati suri selama beberapa menit. Surat keterangan kematian dari rumah sakit sudah dibuat dan
ditandatangani ketika kemudian dia bernapas lagi.
“Lalu, demi
keamananmu dari penjahat yang mencoba
membunuhmu itu atau siapa pun yang ingin mencelakaimu, Ibu, Om Dirgo, dan Pak Handono terpikir untuk mengatur
agar semua orang mengira kamu sudah meninggal malam itu. Semua ini demi kebaikan kamu,
Nak...,” kata sang ibu tadi.
Juno tercenung. Kini
dia memiliki identitas yang sama sekali baru. Dia, Juno Prastomo, harus hidup
dengan nama yang dipilihkan ibunya: “Widi Wikara”, selamanya!
“Widi itu dalam
bahasa Sansekerta artinya ‘izin’, ‘restu’
atau ‘takdir’. Widi juga kependekan dari ‘Hyang Widi’ yang berarti ‘Tuhan’.
Wikara artinya ‘berubah keadaan’. Tuhan sudah mengizinkanmu untuk menikmati kesempatan hidup yang kedua, Juno.
Keadaanmu telah diubah Tuhan dengan mukjizat-Nya. Karena itu, Ibu harap, kamu
tidak menyia-nyiakan hidup keduamu ini untuk hal-hal yang tidak jelas seperti dulu. Kamu harus berubah sesuai dengan takdir Allah yang baru ini.”
Begitu penjelasan ibunya tadi.
Baiklah, soal itu aku tak punya pilihan selain
menerimanya dan membiasakan diri dengan nama baruku, batin
Juno. Tapi, bagaimana aku harus mengikuti ‘perintah’ Ibu selanjutnya ini?
“Kamu harus memulai hidup yang benar-benar baru di
sini, di Singapura ini, atau di mana pun yang kamu mau, kecuali di Indonesia.
Ibu larang kamu untuk kembali lagi ke Indonesia seumur hidupmu! Ibu mau kamu
jauhi semua orang dari masa
lalumu yang memberikan pengaruh buruk dan membuatmu celaka.
Jangan pernah hubungi siapa pun yang pernah kamu kenal dulu. Ingat, jangan
sia-siakan hidupmu lagi! Mengerti?”
Astaga, Ibuuu…! Harus hidup sebagai siapakah aku?
Widi Wikara itu siapa? Apa Ibu juga sudah mengatur aku akan bekerja di mana, menikah dengan siapa, lalu kapan
pula matiku yang sebenarnya dan di mana
kuburku nanti?
Ya, Tuhan…. Haruskah aku bersyukur Kau berikan kesempatan hidup kedua ini?
Baiknya Kau cabut lagi saja nyawaku sekarang dan jangan pernah mengembalikannya
lagi, Tuhan…, apalagi kepada ibuku!
Ibu tidak tahu, Sasha-lah yang membuatku berjuang
untuk kembali hidup saat aku mati suri di
ruang operasi malam itu. Ingatan tentang Sasha jugalah yang menguasai alam bawah sadarku dan akhirnya
membuat aku mampu terbangun lagi. Namun, apa Ibu mau percaya jika kukatakan perempuan
itulah alasanku bertahan hidup? Bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang tanpa tahu
bagaimana kondisi Sasha yang kutinggalkan dalam keadaan seperti itu akibat
perbuatan bodohku? Bu, kenapa Ibu terus menghindar setiap kali aku menanyakan
perihal Sasha? Apa yang Ibu sembunyikan? Lalu, Netta? Kenapa Ibu juga belum
mau menceritakan kabar Netta?
¢
Hari berikutnya, ketika Juno mendesak lagi, barulah sang ibu mengungkapkan
bahwa yang menusuknya adalah Netta, istrinya sendiri. Masih penuh emosi, ibunya mengatakan sangat bersyukur
karena Netta sekarang dinyatakan tidak waras
dan masih mendekam di rumah sakit jiwa. Dia berharap, Netta terkurung di sana seumur hidupnya.
“Ibu tidak akan pernah
mengampuni dia! Pokoknya, kamu melupakan Netta, Juno! Kamu harus mulai hidup
baru di sini dan jangan pernah temui dia lagi! Ibu tidak rela anak Ibu
dicelakai lagi!” tegas sang ibu.
Juno tak habis pikir, bagaimana
mungkin Netta berbuat sekeji itu. Memang, Netta seorang yang temperamental,
posesif, dan pendendam. Saat terakhir bertemu, Netta mengancam hendak membunuh dia
sekaligus Sasha sekeluarga. Namun, dia tak pernah menyangka Netta benar-benar mampu
melakukannya.
Netta menjadi pembunuh sadis? Mentalnya terganggu? Kondisi kejiwaannya cukup
parah? Ya, Tuhan..., apa semua itu gara-gara aku? Mengapa aku tak menyadari
keanehannya selama ini? Tapi..., apa salahku? Bukankah dia telah membuatku
menderita selama pernikahan kami? Bukankah justru aku yang jadi korban dan
hampir mati?
Tapi..., bagaimanapun, aku
pernah cukup lama hidup bersamanya. Kelakuanku jugalah yang membuat dia tak
bisa merasa tenang dan bahagia bersamaku. Haruskah aku mengikuti kata Ibu untuk
melupakan dia dan membiarkan dia membusuk di rumah sakit jiwa? Aku tak bisa
membayangkan, Netta yang selalu tampil cantik, elegan, modis, dan mewah kini harus
memakai seragam rumah sakit, rambutnya acak-acakan, mukanya tak terpoles make up, dan menghabiskan hari-harinya dengan meracau,
mengamuk, tertawa atau menangis sendiri, dan terpuruk dalam kondisi itu
selamanya. Apa yang harus aku lakukan...? Haruskah aku merasa bersalah dan
berbuat sesuatu, atau membiarkannya saja...?
Kembali dia teringat kondisi
fisiknya sendiri. Saat ini dia belum bisa banyak bergerak. Tangan dan kakinya
sangat lemah jika digerakkan. Dokter bilang, syaraf-syarafnya masih butuh
pemulihan dan fisioterapi sampai dia dapat menggerakkan semua anggota tubuhnya dengan
bebas dan dapat berjalan normal kembali. Semua butuh waktu yang tidak sebentar,
bisa berbulan-bulan sampai setahun. Kecepatan pemulihan fisiknya juga
tergantung kondisi psikisnya sendiri. Dia dilarang untuk berpikir yang berat-berat
dan fokus pada kesehatannya saja. Akan tetapi, bagaimana dia bisa menghindari
pikiran yang berat-berat kalau begitu banyak kenyataan yang mengagetkan dan baru
diketahuinya, dan berjibun pula pertanyaannya yang belum terjawab?
®


Komentar
Posting Komentar