INSECURED MIRROR #19 - TRY TO REACH YOU
DELAPAN
bulan ternyata belum cukup bagi Juno untuk memulihkan diri sepenuhnya setelah
dia terbebas dari kondisi koma. Berbagai pengobatan dan terapi intensif yang diberikan
dokter sudah diikutinya dengan tekun, dan kondisi fisiknya memang berangsur
pulih dengan cepat. Dia sekarang sudah bisa berjalan sendiri meski masih harus
ditopang tongkat. Penyebabnya adalah luka tusuk yang mengenai salah satu syaraf
tulang belakangnya. Kondisinya sudah aman karena tim dokter sudah berhasil menyambungnya
kembali dalam serangkaian operasi saat dia masih belum sadar, termasuk operasi
pada pembuluh darah dekat jantungnya yang juga terkena sayat. Namun, perlu
waktu dan terapi lebih lanjut untuk sampai benar-benar pulih. Sudah dua bulan
ini dia diperbolehkan keluar dari rumah sakit, tetapi masih harus berobat jalan
seminggu dua kali.
Saat dia masih menjadi penghuni tetap rumah sakit, terkadang
rasa bosan dengan berbagai terapi yang harus dijalani membuatnya marah dan
masih sulit mengontrol emosi. Dia juga dilarang keras oleh ibunya untuk memegang
ponsel maupun laptop, apalagi coba-coba membuka media sosial. HP-nya pasti
sudah dimusnahkan oleh ibunya, agar dia tak bisa lagi terhubung dengan
teman-temannya yang dulu. Untuk membeli ponsel baru, jelas waktu itu dia belum
bisa. Dia hanya bisa menghabiskan waktu dengan menonton teve atau membaca buku.
Kadang pula, kalau teringat perlakuan buruk yang pernah dialaminya ataupun yang
pernah dia lakukan terhadap ibunya atau Netta atau Sasha, atau rasa bersalah
dan tak berdayanya muncul lagi, emosinya pun masih suka naik-turun seperti roller
coaster dan kadang kala terwujud menjadi perilaku yang kurang baik—entah dengan
membentak perawat, melempar barang, berteriak keras, atau hal buruk lainnya.
Sisi itulah yang menurut tim dokter lebih serius untuk ditangani
dan dipulihkan. Lebih-lebih, Juno punya riwayat kondisi psikologis yang cukup
ekstrem di masa lalu yang berpotensi untuk terakumulasi dalam wujud kekerasan,
seperti yang dia lakukan terhadap Sasha. Yang lebih berat lagi, sekarang dia harus
menjalani kehidupan dan identitas yang sama sekali baru. Karena itu, dia harus
memiliki kondisi psikis dan pribadi yang kuat dan stabil agar tidak goyah dan
terseret lagi ketika diterpa masalah berat. Berbagai konseling dan terapi
psikologis itu ternyata memakan waktu lebih panjang. Namun, dia menjalani semua
itu dengan tekun agar dapat segera memulai kehidupannya yang baru.
Juno banyak berpikir dan merenung di sela-sela waktu
senggangnya tentang apa yang akan dia lakukan dalam sisa hidupnya, hidupnya
yang kedua ini. Ibunya membebaskan dia memilih pekerjaan macam apa yang dia
inginkan, apartemen seperti apa yang dia sukai, dan wanita seperti apa yang dia
mau untuk mendampingi sisa hidupnya. Semua akan diberikan oleh ibunya.
Soal yang pertama, karena dia ingin terus mengembangkan
minat dan pengalamannya di dunia periklanan, ibunya memerintahkan Pak Handono mendirikan
perusahaan periklanan yang bisa Juno kelola setelah sembuh. Syaratnya hanya satu:
jangan pernah menjalin kontak lagi dengan rekan kerja dan kliennya yang dulu. “Karena,
jika yang satu tahu, yang lain juga akan segera tahu bahwa kamu masih hidup. Bisa
panjang urusan hukumnya nanti. Belum lagi kalau ada pihak lain yang mau mencelakai
kamu!” pesan ibunya.
Soal kedua, tempat tinggal, itu juga bukan masalah sama
sekali. Sekarang dia sudah menempati apartemen yang cukup luas dan mewah, tak
jauh dari kantornya. Soft launching kantornya akan dilakukan bulan depan.
Sedangkan, untuk yang ketiga, soal pendamping hidup, dia sudah punya rencana
sendiri.
¢
Juno—bukan;
sekarang dia sudah resmi menggunakan nama Widi Wikara—malam itu duduk santai di
apartemennya sambil meneguk secangkir esspresso. Dia menelepon Pak
Handono, menanyakan soal ‘transfer’ yang dilakukan siang harinya, apakah sudah berlangsung
dengan baik. Handono pun sudah terbiasa memanggilnya Widi.
“Sudah. Semua aman dan lancar. Besok Mas Widi sudah bisa berkunjung.
Tapi, Mas Widi harus ekstrasabar karena pasti itu tidak mudah dan instan. Semoga
ketulusan Mas akan berbuah manis.”
“Amin. Tapi, nggak perlu terburu-buru, biar dia
beradaptasi dulu dengan lingkungan yang baru. Oke, terima kasih banyak, Pak Han!”
¢
Institute
of Mental Health, Singapura, kini menjadi tempat yang dikunjungi Widi seminggu
sekali setiap akhir pekan. Dia sudah berkonsultasi dengan dokter di sana perihal
kondisi pasien yang belum lama ini dipindahkan ke sana dari RSJ di Indonesia
atas permintaannya. Bagaimana cara mulai mendekati pasien itu, kemungkinan
positif maupun negatif yang harus dia hadapi, apa saja yang harus dia lakukan, terapi dan obat apa saja
yang diberikan pihak rumah sakit, semua dia tanyakan.
Kali pertama dan kedua, orang yang dia kunjungi menolak bertemu
karena tidak mengenalinya dan tidak suka bertemu orang yang asing. Kali ketiga
dan keempat, dia menunjukkan beberapa foto mereka berdua di masa lalu. Dia memperkenalkan
diri sebagai Widi, “kembaran Juno”, tetapi pasien itu hanya menatapnya nanar. Kali
kelima, saat dia menunjukkan foto-foto yang sama lagi, sang pasien mulai
merespons. Sepertinya dia mulai mengenali atau teringat siapa “Juno”, tetapi
lalu berteriak-teriak ketakutan dan mengusirnya pergi karena yakin Juno itu sudah
mati. Kali keenam juga sama. Kali ketujuh, pasien yang dikunjunginya itu mulai percaya
bahwa yang datang itu memang bukan Juno melainkan kembarannya, bernama Widi. Dia
mulai mau duduk dan berbicara sepatah-dua patah kata. Kali kedelapan, Widi
sudah bisa mengajak berkomunikasi lebih banyak. Kali kesembilan dan seterusnya,
pasien itu tampak senang setiap kali Widi datang. Widi selalu mengatakan
hal-hal lucu, mengajak pasien itu bercanda, mengobrolkan topik-topik yang ringan,
sampai akhirnya dia mulai berani menceritakan kenangan manis mereka berdua (yang
dengan susah payah digalinya). Dia juga selalu membawakan makanan atau barang
kesukaan pasien itu sehingga kian terjalin kedekatan di antara mereka. Bahkan, pada
hari Widi akan datang, pasien itu akan menyisir rambutnya dan mengikatnya dengan
rapi, juga mengenakan bedak tipis di wajahnya. Widi senang sekali melihat perkembangan
yang pesat itu. Dia yakin, tidak sampai bertahun-tahun, pasien itu sudah bisa keluar
dan hidup normal kembali.
“Kamu cantik sekali, Netta. Rasanya aku jatuh cinta sama
kamu,” goda Widi.
Tidak, kali ini dia merasa sungguh-sungguh jatuh cinta. Wajah
Netta yang polos tanpa garis-garis kemarahan, kedengkian, apalagi kekejian,
juga tak terpoles riasan tebal, membuatnya tampak seperti bidadari lugu yang
baru turun dari khayangan. Dulu-dulu, dia tak pernah melihat Netta dalam
kepolosan seperti itu.
Sayangnya, ada saja kendala yang menghalangi niat baik
kita. Suatu kali, sesama penghuni rumah sakit jiwa itu memulai perkelahian yang
menyakiti tubuh Netta secara fisik. Trauma masa lalunya mencuat kembali dan membuat
dia teringat apa yang dia lakukan malam itu. Dia meyakini bahwa dirinya telah membunuh
suaminya sendiri.
“Aku pembunuh! Aku pembunuh! Kamu bukan Juno! Kamu sudah mati
kubunuh!” Kata-kata itu berulang-ulang diucapkannya hampir setiap saat, membuat
mentalnya down kembali dan kenormalan yang mulai menguasai dirinya terbenam
lagi ke dalam.
Namun, Widi tak putus asa. Dia terus berusaha meskipun
harus memulai pendekatan dari awal lagi, sambil terus berkonsultasi dengan
dokter di RSJ itu dan terus mengikuti sesi demi sesi konseling dengan dokternya
sendiri.
Aku tak mau lagi hidup sebagai pecundang, Netta. Kamu jadi
seperti itu karena aku, karena kelakuan-kelakuan bodohku, karena kamu sangat
mencintaiku dan tak mau kehilanganku. Kamu harus sembuh! Kamu tak boleh
menyerah! Aku yakin, kita masih akan punya hari depan yang bahagia bersama. Kita
mulai dari awal lagi, Istriku. Kali ini kita tak akan hidup tanpa beban, tanpa
kepura-puraan, dan tanpa saling menyakiti lagi. Aku akan selalu ada untukmu. Hatiku
seutuhnya milikmu, tak akan pernah lagi berpaling kepada siapa pun, sehingga
kamu tak perlu takut kehilanganku lagi. Jangan sembunyi lagi. Biarkan hatiku
mencapaimu, meraihmu, dan menjaga hatimu sepanjang sisa hidupku....
®


Komentar
Posting Komentar