INSECURED MIRROR #18 - REASON TO LIVE
“SABAR, Mas. Mas Juno harus sabar menghadapi Ibu.
Ibu memutuskan semua itu dengan pertimbangan matang setelah membahasnya panjang
lebar dengan saya dan Dokter Dirgo, sepupu Ibu yang dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit itu.
Semua ini buat kebaikan Mas Juno semata. Percayalah!” Handono, lelaki paruh baya yang sudah
lama menjadi tangan kanan Aliya Notodiprodjo,
ibunda Juno, berusaha menyabarkan Juno yang curhat kepadanya dengan emosi, ketika
Handono datang sendirian menjenguk Juno.
“Situasinya sangat kacau saat itu, Mas. Setelah saya mendapat informasi
di kantor polisi, saya segera ke rumah sakit. Saat itu Ibu masih menunggu Mas
Juno yang sedang dioperasi. Dia sangat marah saat saya laporkan bahwa pelakunya
Mbak Netta. Belum pernah saya lihat Ibu
semurka itu. Saya takut Ibu kena serangan jantung lagi mendengar hal itu, apalagi kalau ternyata Mas
Juno sampai meninggal. Tapi,
syukurlah, Ibu
benar-benar kuat, Mas,” cerita Handono.
Sudah enam tahun ini Handono menjadi
orang kepercayaan Aliya, tepatnya sejak dibuatnya kesepakatan antara kedua
keluarga: perkawinan Netta dan Juno, yang dibarengi dengan kerja sama antara
kedua perusahaan. Sebelum bekerja pada Aliya, Handono sudah lama mengabdi di
Grup Bintang Pembangunan milik Bambang Susastro, ayah Netta. Dia terkenal
pintar, cerdik, tetapi jujur dan bersih. Dia selalu punya strategi untuk
memajukan perusahaan tanpa perlu main kotor, meskipun dia punya hubungan baik
dengan para pejabat tinggi yang berpengaruh di negara ini. Bisa dibilang, baru
sekali ini dia memanfaatkan koneksinya itu. Itu pun semata demi keselamatan
Juno, putra bosnya, bukan untuk mengisi pundi-pundi pribadinya.
Berkat tangan dingin Handono,
dalam waktu enam tahun, perusahaan konstruksi milik keluarga Notodiprodjo yang
terancam bangkrut berhasil tegak kembali, bahkan kini sudah berkembang pesat
dan memiliki beberapa anak perusahaan. Bambang sendiri yang merekomendasikan Handono
kepada Aliya Notodiprodjo, sahabat lamanya, untuk membantu janda pertengahan
enam puluhan itu meneruskan perusahaan yang didirikan almarhum suaminya. Namun,
sejak Aliya tahu bahwa Netta hampir membunuh anak semata wayangnya yang notabene
suami Netta sendiri, Aliya langsung menyuruh Handono mengurus pemutusan hubungan
kekeluargaan maupun bisnis dengan Bambang. Bahkan, utang bisnis pada perusahaan
Bambang sudah ditutupnya dua kali lipat agar tidak ada kaitan uang maupun utang
budi apa pun lagi di antara mereka.
Setelah menarik napas sejenak,
Handono meneruskan ceritanya, “Tak lama kemudian, Dokter Dirgo muncul dari
ruang operasi dengan lesu, mengabarkan bahwa Mas Juno tak berhasil
diselamatkan. Seorang perawat menyusul keluar dan memberikan dokumen Sertifikat
Medis Penyebab Kematian. Eh, saat Dokter Dirgo dan Ibu Aliya selesai menandatangani
dokumen itu dan Ibu menyerahkannya ke saya untuk saya simpan, tiba-tiba seorang
perawat tergopoh-gopoh keluar dari ruang operasi dan mengatakan nadi Mas Juno
berdenyut lagi. Dokter Dirgo segera masuk untuk memeriksa. Kami berdua menunggu
dengan cemas. Map berisi dokumen surat kematian itu masih saya pegang. Sekitar lima
belas menit kemudian, Dokter Dirgo keluar dan mengatakan bahwa benar Mas Juno
masih hidup meskipun sangat kritis. Katanya, kalau sampai pagi Mas Juno masih bertahan,
kemungkinan Mas Juno akan mampu keluar dari masa kritis dan selamat.”
“Kami semua lega tapi sekaligus
khawatir. Bisa saja Mbak Netta kabur dari penjara atau rumah sakit jiwa lalu
berusaha membunuh Mas Juno lagi, atau mungkin saja ada orang lain yang juga
ingin mencelakai Mas Juno kalau tahu Mas Juno masih hidup. Dokter Dirgo
merekomendasikan agar Mas Juno dipindahkan ke sini dan ditangani oleh dokter koleganya
di sini yang lebih berpengalaman jika kondisi Mas Juno sudah lebih stabil,
sekaligus demi keamanan Mas Juno. Jadi, begitulah. Dokter Dirgo menangani
urusan di rumah sakit, mengadakan pemakaman tertutup dengan alasan positif
COVID-19, sampai keluar surat kematian legal dari instansi pemerintah. Dia juga
memastikan jangan sampai ada dokter atau perawat yang membocorkan hal ini. Sementara,
saya mengatur urusan dengan pihak kepolisian, kejaksaan, hingga media massa, sehingga
semua orang tahunya Mas Juno tewas dalam tragedi itu.”
“Ya, Tuhan...!” Juno menutup
mulutnya dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Cerita Pak Handono, orang
kepercayaan ibunya itu, lebih detail daripada cerita sang ibu sebelumnya. Dia bisa
membayangkan situasi pada saat itu.
“Jadi, Netta juga tahunya saya
sudah mati dan dia berstatus seorang pembunuh?”
“Yang pertama iya. Ibu sangat
mewanti-wanti agar Mbak Netta jangan pernah sampai tahu bahwa Mas Juno masih
hidup. Tapi, soal apakah dia menyadari statusnya sebagai pembunuh atau tidak,
saya kurang tahu, Mas. Saya baru mendapat laporan hasil observasi dokter bahwa
Mbak Netta mengalami gangguan jiwa dan tidak cukup mampu menghadiri persidangan.
Saya belum sempat melihat, seperti apa kondisinya sekarang.”
“Pak Han bisa bantu cari tahu keadaannya
sekarang? Bagaimanapun, dia pernah jadi istri saya dan dia melakukan semua itu gara-gara
saya juga. Saya nggak bisa mengabaikannya begitu saja seperti kemauan Ibu,
Pak....”
“Baiklah. Saya akan menyuruh
anak buah saya untuk cari tahu secara diam-diam. Jangan sampai Ibu tahu lalu
merasa kecewa lagi terhadap Mas Juno, ya. Bagaimanapun, Ibu Aliya sangat sayang
pada Mas Juno. Syukurlah, sampai sekarang kondisi Ibu tak pernah sampai drop
meski dia harus bolak-balik menjenguk Mas Juno selama tiga bulan ini,
bergantian dengan saya dan Dokter Dirgo, karena hanya kami bertigalah yang tahu
Mas Juno masih hidup.”
“Iya, Pak. Saya juga bersyukur
punya ibu yang sangat tangguh. Meskipun hidup saya selama ini tersiksa dalam
pernikahan yang tidak sehat dengan Netta, sedikitnya dengan begini saya bisa
berbakti pada Ibu. Saya hanya masih tak terbayang, apa yang harus saya lakukan
dengan identitas baru saya ini, Pak Han....”
“Pelan-pelan saja, Mas. Fokus pada
kesembuhan dulu. Nanti sedikit-sedikit akan muncul titik cerahnya. Ngomong-ngomong,
saya salut dengan Mas Juno dan Mbak Netta yang berhasil mengelabui kami selama
ini. Kalian berdua sepakat untuk tidak memberitahukan
keadaan rumah tangga kalian yang sebenarnya kepada Ibu, kan?”
“Yah, begitulah, Pak Han. Mungkin itu satu-satunya
hal yang pernah kami
sepakati bersama. Untuk hal-hal lainnya, kami selalu beda pendapat. Netta itu
seperti prototipe Ibu dalam versi muda. Saya cuma harus
menuruti kehendak dan perintahnya. Tapi, saya jalani saja semua itu dan membuat kesan seakan saya bahagia dengan pilihan Ibu, supaya Ibu terus sehat
dan fokus pada pekerjaannya. Terbukti, Ibu semakin
bersinar sebagai ‘ibu suri’ di Notodiprodjo Group, kan, Pak Han?”
“Betul, Mas. Ibu bisa
terus sehat dan sukses membesarkan perusahaan karena bahagia melihat rumah tangga
anaknya bahagia. Jadi, sekarang ini pun, saya
berharap Mas Juno memikirkan hidup Mas ke depan saja seperti keinginan Ibu. Tapi,
cobalah untuk tidak melakukannya dengan terpaksa, Mas, tetapi dinikmati, agar
tidak sampai terjadi ‘ledakan’ yang tidak terkendali seperti waktu itu,” saran
Handono.
“Iya, Pak..., saya sadar, saya
sendirilah penyebab semua itu. Mungkin saya yang terlalu serakah, atau terlalu
ingin bahagia dengan pilihan saya sendiri. Saya merasa pantas mengejar kebahagiaan saya setelah saya berkorban menuruti
kehendak Ibu. Sasha itu sangat istimewa buat saya, Pak. Saya bisa hidup sampai sekarang pun mungkin karena rasa bersalah dan khawatir saya
terhadap dia. Ingatan saya akan keadaan
terakhir Sasha-lah yang membuat saya belum mau menyerah kepada maut. Jadi,
bisakah Pak Han kasih tahu bagaimana kabar Sasha sekarang?” Juno memohon.
Karena Handono ragu-ragu untuk menjawab,
Juno meyakinkan dia, “Saya nggak akan melakukan apa pun, kok, Pak. Saya sadar,
lebih nggak mungkin lagi dia mau menerima saya setelah semua yang saya
lakukan itu. Lebih baik dia tahunya saya sudah tiada. Saya hanya ingin tahu,
apa dulu dia terluka, dan apa dia aman sekarang. Tolong, Pak, biar saya
tenang....”
“Baik, Mas. Saya hanya tahu, malam itu dia juga terluka tetapi tidak parah. Ada
seorang lelaki yang terus menemani dia di rumah sakit, yang juga menjadi saksi
mata kejadian itu. Dengar-dengar, dia juga yang melapor ke polisi dan memanggil
ambulans, Mas. Saya sempat beberapa kali melihatnya. Tapi, selanjutnya, saya
kurang tahu karena saya fokus mengurusi Mas Juno. Tapi, saya rasa Mbak Sasha
baik-baik saja. Apalagi, ada seseorang yang menjaga dia. Tampaknya dia orang
baik dan sangat perhatian pada Mbak Sasha, Mas.”
Juno tersenyum mendengar itu.
Itu pasti Daza. Jadi, Daza sudah datang menjemput Sasha, bahkan
menyelamatkannya.
“Baguslah. Semoga mereka bahagia...,”
gumamnya. “Sekarang saya tahu, apa yang harus saya lakukan.”
®


Komentar
Posting Komentar