INSECURED MIRROR #20 - ABOVE-GROUND


 



MALAM ini, Sasha sedang duduk sendiri di depan laptop. Daza dan anak-anak sudah tidur. Dia ingin menulis sesuatu, tetapi belum ada ide yang mampir ke kepalanya. Iseng, dia membuka akun Facebook-nya, hendak menulis sebuah puisi pendek tentang betapa bahagia hidupnya sekarang, di status berandanya. Tak sengaja, matanya melirik dua pigura ukuran besar yang terpajang di tembok. Yang satu adalah foto upacara perkawinannya dengan Daza yang sederhana tetapi khidmat dan mengharukan. Upacara itu dilaksanakan empat bulan lalu di pendopo taman budaya. Tidak banyak yang diundang karena masih terbatasi dengan protokol kesehatan; hanya beberapa teman dekat Daza, sesama seniman dan budayawan di kota itu yang hadir. Pada pigura satu lagi, tampak Sasha dan Daza bersama Deiya dan Teyo, kedua anak Sasha, berfoto di depan pendopo itu. Mereka berempat tertawa lepas sambil berpelukan hangat.

Sasha tersenyum. Sekarang sudah tebersit apa yang hendak ditulisnya. Dikliknya kolom untuk meng-update status. Namun, tak sengaja matanya hinggap ke list chat di kolom kanan bawah. Tiba-tiba, matanya membelalak dan refleks dia mencengkeram kedua lengannya sendiri untuk meredam gigil dan gemetar yang sekonyong-konyong terasa. Apa-apaan itu? Akun Juno online lagi? Bagaimana mungkin...?  Dia cermati lagi lingkaran kecil di sebelah kiri dan nama akun di sampingnya. Itu benar-benar akun Juno dan akun itu sekarang online! Siapa yang mengakses akun itu...?

Penasaran karena terpikir barangkali ada yang meretas akun Juno dan mengunggah hal yang aneh-aneh di situ, dengan tangan bergetar dikliknya profil akun itu. Tidak, tidak ada postingan baru. Status-status teratas yang ada di beranda itu masih ucapan-ucapan dukacita dan ungkapan-ungkapan kesedihan dari teman-teman Juno, lebih dari setahun lalu. Banyak yang tak percaya akan kepergiannya yang begitu tiba-tiba dan tragis. Namun, ada juga beberapa ungkapan yang justru mensyukuri dan merasa lega karena lelaki itu meninggal dengan cara yang setimpal dengan perbuatannya. Itu pasti dari perempuan-perempuan masa lalu yang pernah dipermainkan Juno. Semua itu telah dibaca Salsa lebih dari sekali sejak tahun lalu. Namun, sensasinya masih sama: ada rasa perih, sedih, miris, kecewa, juga ada rasa rindu, sayang, bangga, dan bahagia karena dia pernah mengenal lelaki dengan seribu perangai itu, yang bagaikan kembarannya, cerminnya.

Tangan Salsa bergerak ke arah album foto Juno, lalu mengekliknya. Foto terakhir yang diunggah Juno adalah tampak samping postur Salsa yang sedang duduk sambil tertawa lepas menyaksikan Deiya dan Teyo sedang bermain ayunan di taman bermain. Waktu itu, Juno mengajak mereka mampir ke taman itu sehabis menjemput mereka pulang sekolah dan Sasha ikut menjemput. Sasha ingat, tumben-tumbennya juga mereka lagi akur. Hari itu, Juno tak mengatakan apa pun yang membuat Sasha tersulut marah. “Keluarga masa depanku,” tulis Juno di sana.

Dasar gila!—gumam Salsa, getir.

Ada lagi beberapa foto lama Juno bersama Netta. Hhh..., Salsa mendesah. Ia tahu bahwa senyum Juno di foto itu hanyalah senyum artifisial, bukan senyum yang terpancar dari hati yang sungguh bahagia. Padahal mereka tampak serasi, pikirnya. Sayang sekali semuanya tidak berjalan baik, bahkan ....

Halo, Sa. Lagi kepoin akunku, ya?” Tiba-tiba, sebuah jendela chat muncul di kanan bawah layar.

Salsa kontan kaget. Tubuhnya menggigil hebat. Rasa panas dan merinding menjalar di tengkuknya. Nggak mungkin! Siapa sebenarnya yang sedang membuka akun Juno ini?! Bagaimana dia tahu kalau aku sedang menengok akunnya?

Astaga! Ternyata tak sengaja aku mengeklik gambar jempol di foto Juno dan Netta barusan! Pantas saja dia tahu karena pasti ada notifikasi yang masuk!

Jangan bercanda! Siapa kamu?” Takut-takut, Sasha mengetik kata-kata itu.

Ini aku, cerminmu, Sa! Masa lupa? Tadinya aku mau ganti mode offline dulu biar aman, lalu mau ngecek kabar teman-temanku yang semuanya nggak akan mungkin aku kontak lagi karena mereka semua mengira aku udah mati, termasuk kamu. Eh, keburu kepergok kamu.”

Hah? Apa maksudmu? Tolong jangan bercanda, deh! Plis, jujur, deh. Kamu siapa?” Sasha makin takut tetapi juga makin penasaran.

Sebentar, ya. Aku kirim fotoku, deh, kalau kamu nggak percaya. Real time, nih, Sa!

Setengah menit kemudian, muncul kiriman sebuah foto. Mulut Sasha ternganga! Itu benar-benar Juno! Wajahnya tampak segar. Tubuhnya tampak lebih bugar dan agak gemukan. Kulitnya tampak lebih bersih. Latar belakangnya adalah perabotan sebuah apartemen. Di bawah foto itu tertera jam-menit-detik foto itu dibuat. Benar-benar real time, jadi pasti bukan foto rekaan. Jadi..., jadi..., apa... Juno masih hidup...? Bagaimana mungkin?

Hayo! Kaget, kan?” Muncul chat lagi dari akun itu.

Tolong jelaskan sejelas-jelasnya kalau kamu benar-benar Juno...,” balas Sasha.

Panjang banget ceritanya, Sa. Kalau ditulis bisa jadi satu novel, kali. Aku sendiri masih nggak percaya dengan jalan hidupku yang superaneh ini. Tapi, ini beneran aku, Juno yang dulu. Cuma, sekarang namaku bukan Juno dan nggak boleh ada yang tau aku masih hidup. Ibuku udah bikin Juno yang asli mati secara resmi dan sekarang namaku WIDI WIKARA, warga negara Singapura!

What???” Sasha benar-benar bingung.

Kapan-kapan kita teleponan atau video call-an, deh, biar enak ceritanya. Kamu baik-baik, kan? Udah nikah, ya, sama Daza? Aku barusan lihat foto pernikahan kalian. Semoga bahagia seperti impian kamu, ya. :)

Iya, aku bahagia. Makasih, ya. Kabar kamu gimana?” Sasha masih merasa aneh harus membalas chat itu.

Syukurlah, Sa. Seneng dengernya. Aku minta maaf banget waktu itu udah sandera kamu dan bikin kamu luka. Maaf juga udah ninggalin kamu begitu lama. Aku sekarang udah nikah lagi dengan Netta.

Netta? Dia udah keluar dari ....” Sasha sungkan menuliskan kata RSJ.

Iya, dia udah sembuh. Kami sehat dan bahagia sekarang. Bahkan, sebentar lagi aku akan jadi ayah!”

“Iyakah? Aaaah, selamaaat! Salam buat Netta, ya!”

Makasih, Sa. Salam buat Daza juga.

SASHAAA!!! DI MANA KAMU??? KEMBALIKAN ANAK-ANAKKU ATAU AKAN KUHANCURKAN HIDUPMU!!!

Feus!


®


Baca lanjutannya:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam