INSECURED MIRROR #20 - ABOVE-GROUND
Sasha tersenyum. Sekarang sudah tebersit apa yang hendak
ditulisnya. Dikliknya kolom untuk meng-update status. Namun, tak sengaja
matanya hinggap ke list chat di kolom kanan bawah. Tiba-tiba, matanya
membelalak dan refleks dia mencengkeram
kedua lengannya sendiri untuk meredam gigil dan gemetar yang sekonyong-konyong
terasa. Apa-apaan itu? Akun Juno online lagi? Bagaimana mungkin...?
Dia cermati lagi lingkaran kecil di
sebelah kiri dan nama akun di sampingnya. Itu benar-benar akun Juno dan akun
itu sekarang online! Siapa yang mengakses akun itu...?
Penasaran
karena terpikir barangkali ada yang meretas akun Juno dan mengunggah hal yang
aneh-aneh di situ, dengan tangan bergetar dikliknya profil akun itu. Tidak, tidak
ada postingan baru. Status-status teratas yang ada di beranda itu masih ucapan-ucapan
dukacita dan ungkapan-ungkapan kesedihan dari teman-teman Juno, lebih dari
setahun lalu. Banyak yang tak percaya akan kepergiannya yang begitu tiba-tiba
dan tragis. Namun, ada juga beberapa ungkapan yang justru mensyukuri dan merasa
lega karena lelaki itu meninggal dengan cara yang setimpal dengan perbuatannya.
Itu pasti dari perempuan-perempuan masa lalu yang pernah dipermainkan Juno. Semua
itu telah dibaca Salsa lebih dari sekali sejak tahun lalu. Namun, sensasinya
masih sama: ada rasa perih, sedih, miris, kecewa, juga ada rasa rindu, sayang,
bangga, dan bahagia karena dia pernah mengenal lelaki dengan seribu perangai
itu, yang bagaikan kembarannya, cerminnya.
Tangan
Salsa bergerak ke arah album foto Juno, lalu mengekliknya. Foto terakhir yang
diunggah Juno adalah tampak samping postur Salsa yang sedang duduk sambil
tertawa lepas menyaksikan Deiya dan Teyo sedang bermain ayunan di taman
bermain. Waktu itu, Juno mengajak mereka mampir ke taman itu sehabis menjemput mereka
pulang sekolah dan Sasha ikut menjemput. Sasha ingat, tumben-tumbennya juga
mereka lagi akur. Hari itu, Juno tak mengatakan apa pun yang membuat Sasha
tersulut marah. “Keluarga masa depanku,” tulis Juno di sana.
Dasar
gila!—gumam Salsa,
getir.
Ada
lagi beberapa foto lama Juno bersama Netta. Hhh..., Salsa mendesah. Ia
tahu bahwa senyum Juno di foto itu hanyalah senyum artifisial, bukan senyum
yang terpancar dari hati yang sungguh bahagia. Padahal mereka tampak serasi,
pikirnya. Sayang sekali semuanya tidak berjalan baik, bahkan ....
“Halo,
Sa. Lagi kepoin akunku, ya?” Tiba-tiba, sebuah jendela chat
muncul di kanan bawah layar.
Salsa
kontan kaget. Tubuhnya menggigil hebat. Rasa panas dan merinding menjalar di
tengkuknya. Nggak mungkin! Siapa sebenarnya yang sedang membuka akun
Juno ini?! Bagaimana dia tahu kalau aku sedang menengok akunnya?
Astaga!
Ternyata tak sengaja aku mengeklik gambar jempol di foto Juno dan Netta
barusan! Pantas saja dia tahu karena pasti ada notifikasi yang masuk!
“Jangan
bercanda! Siapa kamu?” Takut-takut, Sasha mengetik kata-kata itu.
“Ini
aku, cerminmu, Sa! Masa lupa? Tadinya aku mau ganti mode offline dulu
biar aman, lalu mau ngecek kabar teman-temanku yang semuanya nggak akan mungkin
aku kontak lagi karena mereka semua mengira aku udah mati, termasuk kamu. Eh, keburu
kepergok kamu.”
“Hah?
Apa maksudmu? Tolong jangan bercanda, deh! Plis, jujur, deh. Kamu siapa?”
Sasha makin takut tetapi juga makin penasaran.
“Sebentar,
ya. Aku kirim fotoku, deh, kalau kamu nggak percaya. Real time, nih, Sa!”
Setengah
menit kemudian, muncul kiriman sebuah foto. Mulut Sasha ternganga! Itu benar-benar
Juno! Wajahnya tampak segar. Tubuhnya tampak lebih bugar dan agak gemukan. Kulitnya
tampak lebih bersih. Latar belakangnya adalah perabotan sebuah apartemen. Di bawah
foto itu tertera jam-menit-detik foto itu dibuat. Benar-benar real time, jadi
pasti bukan foto rekaan. Jadi..., jadi..., apa... Juno masih hidup...? Bagaimana
mungkin?
“Hayo!
Kaget, kan?” Muncul chat lagi dari akun itu.
“Tolong
jelaskan sejelas-jelasnya kalau kamu benar-benar Juno...,” balas Sasha.
“Panjang
banget ceritanya, Sa. Kalau ditulis bisa jadi satu novel, kali. Aku sendiri
masih nggak percaya dengan jalan hidupku yang superaneh ini. Tapi, ini beneran
aku, Juno yang dulu. Cuma, sekarang namaku bukan Juno dan nggak boleh ada yang
tau aku masih hidup. Ibuku udah bikin Juno yang asli mati secara resmi dan
sekarang namaku WIDI WIKARA, warga negara Singapura!”
“What???”
Sasha benar-benar bingung.
“Kapan-kapan
kita teleponan atau video call-an, deh, biar enak ceritanya. Kamu baik-baik,
kan? Udah nikah, ya, sama Daza? Aku barusan lihat foto pernikahan kalian. Semoga
bahagia seperti impian kamu, ya. :)”
“Iya,
aku bahagia. Makasih, ya. Kabar kamu gimana?” Sasha masih merasa aneh harus
membalas chat itu.
“Syukurlah,
Sa. Seneng dengernya. Aku minta maaf banget waktu itu udah sandera kamu dan
bikin kamu luka. Maaf juga udah ninggalin kamu begitu lama. Aku sekarang udah
nikah lagi dengan Netta.”
“Netta?
Dia udah keluar dari ....” Sasha sungkan menuliskan kata RSJ.
“Iya,
dia udah sembuh. Kami sehat dan bahagia sekarang. Bahkan, sebentar lagi aku
akan jadi ayah!”
“Iyakah?
Aaaah, selamaaat! Salam buat Netta, ya!”
“ Makasih, Sa. Salam buat Daza juga.”
“SASHAAA!!!
DI MANA KAMU??? KEMBALIKAN ANAK-ANAKKU ATAU AKAN KUHANCURKAN HIDUPMU!!!”
Feus!
®


Komentar
Posting Komentar