INSECURED MIRROR - EPILOGUE


 



“JU, tolong aku! Feus neror aku lagi. Sepertinya dia serius. Dia akan menculik anak-anakku dan akan membunuh aku dan Daza juga, Ju!”

“Hei, hei. Kenapa kamu jadi manja begitu, sih? Kamu nggak punya alasan untuk takut menghadapi dia. Kamu pasti bisa mengatasinya, Sa.”

“Tapi, gimana kalau dia beneran nekat?”

“Sa, coba camkan ini. Sebenarnya kita semua sama, Sa. Kamu, aku, Netta..., dulu kita sama-sama punya masalah dalam kontrol diri, dalam mengendalikan emosi. Bedanya, kamu selalu lebih beruntung. Dari awal kamu lebih punya pertahanan diri yang kuat. Kamu mampu menyembunyikan kelemahanmu dengan baik. Kamu juga tahu persis apa-siapa yang kamu butuhkan, yang mampu menjaga kamu tetap berada dalam zona normal....”

“Ya. Daza. Dialah penyembuhku, penjagaku, penormalku. Sejak pertama mengenal dia, aku sudah tahu, dialah yang mampu membuatku utuh.”

“Nah, itu. Sayangnya, kami tidak seberuntung kamu. Aku dan Netta perlu dihantam oleh kejadian besar dulu untuk mampu becermin baik-baik, hingga mampu berbalik arah ke zona normal itu. Semula aku mengira kamulah itu: pelengkapku, pengendaliku. Nyatanya bukan. Kamu benar, kamu bukan pelengkapku, karena kita sama: sebagai bayangan dan cermin; reflektor satu sama lain. Kamu adalah cermin yang membuatku bisa berkaca dan melihat secara nyata: di mana borok-borok yang membuatku merasa rapuh, dan kamu menunjukkan bagaimana aku harus mengobatinya. Iya, itulah kamu.”

“Itulah kita.”

“Yap. Jadi, kenapa kamu harus merasa takut lagi bahwa sesuatu yang jahat dari luar, katakanlah: mantan suamimu itu, akan menghancurkanmu? Ketika kamu sendirian pun, kamu sanggup melawan dan bertahan hidup. Sekarang kamu punya Daza; kamu juga punya aku yang akan melindungimu dengan caraku. Jadi, setiap kali kamu takut, tatap saja bayanganmu di cermin, dan kamu akan merasa utuh. Kamu masih akan terus hidup, dan kamu akan baik-baik saja.”

“Iya, Ju. Terima kasih. Kita akan terus melanjutkan hidup, dan kita akan baik-baik saja.”

 

®

 

THE END








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam