INSECURED MIRROR #11 - THE TEMPER


 



“MULAI hari ini, anak-anakmu aku yang antar ke sekolah!” kata Juno, saat dia mengembalikan nampan berisi peralatan sarapannya yang sudah kosong, pagi itu.

“Kenapa?” Sasha bertanya bingung. Itu penegasan, perintah, titah; bukan tawaran bantuan! Memangnya dia siapa? Baru juga dua minggu dia tinggal di paviliun, tapi sikapnya itu seolah .... 

“Karena aku udah punya mobil dinas!” jawab Juno dengan ketegasan yang berlebihan. “Kamu nggak lihat mobilnya kuparkir di halaman depan? Aku memang belum sempat cerita, tapi mestinya kamu udah lihat mobil itu ketika aku pulang kemarin sore.”

“Lalu...?” Sasha masih memasang tampang bingung.

“Yaaa...—lalu, karena aku udah ada mobil, kamu nggak perlu lagi ngantar anak-anak naik angkot tiap pagi. Aku aja yang antar! Aku juga yang akan jemput mereka pulang sekolah. Jelas?” Juno menegaskan dengan nada makin tak sabar.

“Apa itu harus?” tanya Sasha, mempertahankan kesan bingungnya, tapi sekaligus terlihat menantang.

“Harus, laaah! Kamu nggak mau menghemat waktu, tenaga, dan biaya untuk antar-jemput mereka?” Nada bicara Juno tetap tegas, seperti perintah atasan yang harus ditaati. Namun, kali ini tidak disertai emosi.

“Kalau aku tetap mau antar mereka sendiri, gimana?” Sasha makin muak dengan sikap Juno itu.

It’s OK, kamu boleh aja ikut antar mereka. Nanti aku anterin balik ke rumah.” Juno tetap dengan nada bicara tegasnya.

Lalu, dia berseru kepada Teyo dan Deiya yang sedang berjalan ke halaman, menyandang tas sekolah masing-masing, “Anak-anak, kalian udah siap? Yuk, naik ke mobil. Om yang antar!”

“Asyiiik!” Mereka berseru riang, lalu langsung lari ke mobil yang sudah dibuka Juno dengan remot dari tempatnya berdiri.

“Kamu jadi ikut? Ayo, aku tunggu di mobil, ya!” Juno melangkah menyusul anak-anak, meninggalkan Sasha yang masih mendengus kesal, tak tahu lagi harus bicara apa.

Karena tak ada waktu lagi, Sasha segera menyambar tasnya di sofa ruang tengah, lalu keluar, mengunci pintu rumah, dan menyusul ketiga orang yang sudah duduk di dalam mobil. Juno langsung membukakan pintu di samping tempat duduknya ketika Sasha mendekat. Tak lupa dia sunggingkan senyum teramat manis.

“Ayo, Ma, cepetan!” seru anak-anak yang duduk di bangku belakang, tak sabar.

Sasha tidak membalas senyum Juno, juga tidak merespons kehebohan anak-anaknya. Dia masuk ke mobil tanpa bicara. Dia hanya bicara ketika harus menunjukkan arah menuju sekolah anak-anaknya pada Juno. Lurus, belok kanan, belok kiri, lurus lagi, berhenti. Sudah.

 Setelah mengantar anak-anaknya ke depan kelas masing-masing, Sasha kembali ke mobil dengan enggan.

“Kita balik sekarang, Sa?”

Sasha hanya mengangguk. Wajahnya masih saja merengut.

“Kamu kenapa, Sayang? Kok, dari tadi diam aja?”

Sasha tak tahan lagi. “Berhenti ucapin kata ‘Sayang’ yang menjijikkan itu, kubilang!” serunya.

“Wow, wow, Princess-ku ngambek lagi, rupanya. Oke, soriii. Janji, nggak akan bilang ‘Sayang’ lagi, My Dear!” Juno mengangkat dua jarinya membentuk huruf ‘V’.

“Itu sama aja! Aku lagi nggak mau bercanda, Ju!” teriak Sasha, makin kesal dengan sikap Juno yang baginya kampungan itu.

“Aku juga nggak bercanda, Sa. Udah berkali-kali kubilang, aku betul-betul cinta sama kamu!”

“Dan, aku udah berkali-kali juga menegaskan bahwa aku nggak bisa mencintai kamu!” tegas Sasha.

“Oke, oke, terserah kamu. Tapi, bukan itu yang bikin kamu uring-uringan sejak tadi, kan?”

“Jelas bukan, tapi semuanya gara-gara kamu!”

“Aku? Aku salah apa?”

Sasha sudah mau menyemburkan serentetan makian, tapi Juno buru-buru memotong, “Nanti dulu. Rasanya kurang etis kalau kamu teriak-teriak di parkiran sekolah begini, kan? Kalau ada guru atau orangtua murid yang dengar, gimana? Kita jalan dulu aja.”

Juno menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya keluar dari area sekolah.

Sasha menghela napas, menyabar-nyabarkan hatinya sendiri. Sejuknya AC di dalam mobil, harus diakui Sasha, sedikit berjasa mendinginkan kepalanya yang serasa terbakar.

“Oke, sekarang tolong jelasin, kamu itu kenapa,” ujar Juno, setelah lima menit berlalu dan Sasha tak mengucapkan apa-apa.

“Kamu nggak sadar apa yang udah kamu lakukan?! Kamu bersikap seakan anak-anakku adalah anak-anakmu, dan aku sebagai ibu kandung mereka tak berhak mengatakan tidak untuk perintah tololmu!” sembur Sasha.

“Perintah tolol? Perintah apa? Perintah yang mana?” Juno mendelik.

“Kamu memang betul-betul nggak sadar, rupanya! Kamu terlalu berlebihan!” maki Sasha.

“Berlebihan gimana? Aku cuma mau bantu kamu, Sa!”

“Kamu bukan mau bantu, tapi cuma mau nunjukin kehebatan kamu! Memangnya kamu siapa? Bapaknya anak-anakku?! Baru dapat mobil dinas aja kamu seenaknya merintah-merintah orang!”

Ciiittt! Juno menghentikan mobilnya mendadak.

“Aduh!” Kepala Sasha hampir membentur dashboard saking mendadaknya Juno mengerem, meskipun Sasha mengenakan sabuk pengaman. Untung tangannya sempat melindungi dahinya. 

“Oooh, jadi itu?! Jadi, kamu nggak suka aku berniat baik mengantar anak-anakmu?!” seru Juno dengan muka merah menahan amarah, tak menyadari apa yang terjadi pada Sasha. 

Sasha menatap Juno dengan marah sambil mengusap-usap punggung tangannya yang sakit, karena telah menjadi tumbal demi mengamankan dahinya. “Kamu hampir mencelakai aku!” serunya geram.

Juno tersentak. Barulah dia menyadari bahwa tindakannya tadi hampir mencederai Sasha. Aura kemarahan langsung lenyap dari wajahnya. Buru-buru diambilnya tangan Sasha dan diusap-usapnya dengan khawatir. “Maafin aku, Sa...—aku nggak sengaja.... Sakit, ya?”

Diangkatnya tangan itu ke bibirnya, hendak dikecupnya penuh sayang. Namun, Sasha segera menarik tangannya dan menjauhkan tubuhnya hingga menempel ke pintu mobil. 

“Aku nggak perlu dikasihani, Ju! Nggak perluuu!” Sasha tak bisa menahan aliran air dari matanya. Kedua tangannya menutupi matanya yang basah. Tubuhnya berguncang pelan menahan sengguk. Dia terlalu kesal, terlalu marah, terlalu kecewa, terlalu merasa patah....

“Hei, hei..., jangan nangis, Sa. Maafin aku. Maaf kalau sikapku sudah keterlaluan sama kamu. Kamu nggak apa-apa, kan...?”

Dengan khawatir dan sangat merasa bersalah, Juno menyentuh kepala Sasha lembut, berusaha membawa kepala itu ke pelukannya. Namun, Sasha menepisnya.

“Sa..., lihat sini, Sa....” Juno mengangkat dagu Sasha, berusaha membuat perempuan itu menatap kesungguhan di matanya. Sigap, tangannya meraih tisu dari dashboard lalu menghapus air mata Sasha. “Maafin aku..., oke...?” Dia kembali menyentuh dagu Sasha dan mengangkatnya.

Sasha terpaksa mendongak, lalu mengangguk-angguk di sisa sengguknya.

“Kalau kamu nggak suka aku antar-jemput anak-anakmu, oke, nggak apa-apa,” lanjut Juno lembut.

“Aku cuma nggak suka cara kamu yang sok maksain kayak tadi. Paham?” ujar Sasha pelan.

“Oke, aku minta maaf. Mungkin aku terlalu antusias aja tadi. Aku sangat senang kalau kehadiranku berguna buat kamu dan anak-anakmu. Aku lelah dianggap nggak penting dan nggak berguna oleh istriku, Sa! Mungkin itu juga salah satu penyebab sikapku tadi.”

Sasha terdiam. Sebenarnya, sikap Juno tadi mengingatkan dia pada sikapnya sendiri. Dia sendiri sering bersikap seperti itu terhadap Feus, suaminya. Di sisi lain, mungkin dia juga sama seperti istri Juno yang mengganggap suaminya tak berguna dan selalu salah... dan Juno sama seperti Feus.

Tapi, laki-laki itu memang tak berguna! Aku bersikap begitu karena dia memang tak pernah jadi suami dan ayah yang bertanggung jawab! Wajarlah kalau aku selalu mendikte dia harus ini atau harus itu, karena yang dia lakukan tak pernah benar!—teriak hati Sasha.

Dia bahkan berencana menggugat cerai Feus dalam waktu dekat ini. Toh, sudah hampir enam bulan Feus pergi tanpa kabar berita, dan tak sekali pun dia mengirim uang seperti yang dia janjikan. Buat apa lagi pernikahan mereka yang sudah lama kacau itu dipertahankan?

“Sa..., kenapa diam?” Juno menyadarkan Sasha dari lamunannya.

“Oh, nggak apa-apa, kok,” jawab Sasha cepat. “Kepalaku agak pusing, Ju. Kita bisa pulang sekarang?”

“Oke, Sa.”

Juno menyetir mobilnya dengan perasaan tidak tenang. Sebentar-sebentar ditengoknya Sasha yang menunduk dengan mata terpejam sambil tangan kanannya memegangi kepalanya yang semakin sakit.

“Sa, kita ke rumah sakit, ya…,” ujar Juno hati-hati, takut Sasha menganggap dia salah bicara lagi lalu mengamuk lagi.

Nggak usah, Ju. Aku udah biasa begini, kok, kalau lagi banyak pikiran. Nanti pulang, aku minum obat terus tidur, pasti sembuh,” jawab Sasha pelan.

“Tapi, wajah kamu pucat sekali, Sa. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa….”

Nggak usah, kubilang! Udah, deh, nggak usah peduliin aku. Buruan aja antar aku sampai rumah. Aku nggak sanggup lagi adu mulut dengan kamu!” Sasha mulai emosi lagi tetapi masih berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi.

“Iya, iyaaa,” jawab Juno. Dari mulutnya hampir saja tersembur lagi bantahan atas ucapan Sasha barusan, tetapi dia berusaha keras menahan diri agar tidak menjawab macam-macam lagi. Setir mobil dicengkeramnya erat-erat sebagai pelampiasan rasa tak berdayanya, rasa marahnya pada dirinya sendiri.

Sasha sakit gara-gara aku! Gara-gara aku! Aku memang tak pernah bisa membahagiakan perempuan yang aku cintai…! Shit!  Shit!

Dilarikannya mobil lebih kencang.

 

®


Baca lanjutannya:

Komentar