INSECURE MIRROR #4 - THE FEELING





JUNO melempar lembaran-lembaran kertas itu ke udara. “Cerita macam apa ini?”

        “Macam kita, barangkali,” jawab Sasha sambil mengedikkan bahu. Dengan wajah kesal, dipungutnya kertas-kertas itu dari lantai.

        “Macam kita? Memangnya, kamu pikir kamu bisa menendangku seperti tokoh dalam cerpen kamu itu?” ledek Juno.

        “Bisa aja. Kenapa enggak?” tantang Sasha.

        “Halah..., nggak usah ngeyel, lah. Buktinya, kamu juga yang ke sini-sini terus. Pakai pinjam-pinjam printer-ku segala buat nge-print tulisan nggak penting itu. Ngaku aja. Ini cuma alasanmu buat ketemu aku, kan?!”

        Hmh..., dia mulai cerewet lagi, deh!—desah Sasha dalam hati. Mau tak mau, dia harus melayani. Lelaki itu tak boleh dibiarkan makin besar kepala!

        “Yeee, ge-er! Kan, aku udah bilang, aku mau kirim cerpen itu ke majalah. Lagian, gimana juga aku nggak ke sini?! Ini, kan, rumahku, dan kamu cuma nyewa paviliun ini. Lagi pula, kamu itu penyewa terjorok yang pernah tinggal di sini! Sejak minggu pertama aja, ruang tamunya udah kamu bikin kayak tempat pembuangan sampah. Apalagi kamarnya. Makanya, sejak itu aku harus sering-sering ke sini untuk beberes. Kalo enggak, bisa-bisa saat ini udah hancur, lah, rumahku. Memangnya kamu mau bayari ongkos tukang dan sebagainya?” cerocos Sasha.

        “Alasan! Yang ada, kamu itu melanggar privasi aku! Aku udah bayar lunas sewa untuk enam bulan. Mau aku berantakin kayak apa, kek..., hak aku, dong. Nanti kalo udah sempat juga bakal aku beresin semuanya. Rumahmu nggak bakalan hancur, kok!” tandas Juno. “Udah, kamu pergi aja. Aku sibuk!” Didorongnya Sasha ke arah pintu.

        “E, eh, enak aja ngusir-ngusir! Kamu itu nggak bisa manis sedikit, ya, sama perempuan?”

        “Aku, kan, udah bilang, aku sibuk. Dan, aku juga udah bilang, kalau kamu mau aku perlakukan manis-manis, jangan tolak aku lagi! Kalo enggak, tolong jangan ganggu aku. Anggap aja nggak ada siapa-siapa di sini. Jadi, kamu juga nggak usah sok baik bersihin paviliun ini, nganterin makanan, pinjam printer, and so on, and so on. Kalo kamu kangen, ngaku aja. Nggak usahlah jual mahal dan nolak-nolak terus. Aku bosan kamu begitukan! Ngerti?!” ketus Juno.

        “Sialan, ya, kamu! Baru kali ini aku ketemu orang sengeselin kamu! Apa perlu kuulang-ulang terus bahwa aku nggak bisa menjadi apa pun yang kamu mau itu? Aku masih punya suami—walaupun dia sekarang memilih pergi...—dan kamu masih punya istri, yang bahkan cuma berani kamu hindari. Kamu cuma takut pada ibumu yang menjodohkan kalian...—”

        “Diam, kamu!” potong Juno.

        Sasha tak peduli dan terus melanjutkan perkataannya tadi, “Dengar, Ju. Kalaupun pernikahanku nanti benar-benar berakhir, aku udah bilang lebih dari sekali, kan, bahwa udah ada lelaki lain yang mampu penuhi segala yang aku butuhin dan bakal bahagiain aku, dan itu jelas bukan kamu. Apa lagi yang mesti kujelasin untuk membuatmu berhenti memintaku jadi istri-istrianmu?”

        “Jelasin kenapa aku harus terus-menerus mikirin kamu!” Juno menarik tangan Sasha, mendudukkannya di satu-satunya sofa yang ada di situ. Dia sendiri duduk di samping Sasha sambil ditatapnya perempuan itu lekat-lekat.

        “Mana aku tahu? Mungkin otakmu aja yang konslet.” Sasha melengos ke samping, mengalihkan matanya dari pandangan Juno.

        “Jangan ngelak. Kamu juga merasakan yang sama, kan?” desak Juno. Dipegangnya kedua pipi Sasha sehingga wajah perempuan itu kembali menghadapnya, dan ditatapnya wajah itu dengan tajam.

        Sasha terdiam, lalu mengangguk. Dia menghela napas sebelum berkata, “Udah kubilang, Ju..., aku memang merasakan koneksi yang aneh denganmu. Tapi, sungguh, aku yakin banget itu bukan cinta, dan bukan pertanda bahwa kita akan—apalagi harus—jadi suami-istri. Itu nggak mungkin, Ju. Bukan itu yang aku rasain!” tegas Sasha.

        Juno meraih tangan Sasha. “Sa...! Jujurlah!” desaknya lagi.

        “Aku ada untuk nolong kamu, Ju. Itulah yang aku rasain. Bilang, Ju, aku harus tolong apa? Apa yang kamu butuhin dari aku?” Sasha menekankan genggamannya.

        “Panggil aku suamimu. Perlakukan aku sebagai suami yang kamu cintai. ITU YANG AKU MAU!” tegas Juno.

        “Itu lagi. Catat: KECUALI YANG ITU! Ngerti?!” Sasha berdiri, tapi Juno mendudukkannya lagi.

        “ENGGAK!” teriak Juno.

        “Hhh...!” Sasha melipat kedua tangannya dan mendesah jengah. “Aku nggak tahu mesti gimana lagi ngejelasin sama kamu!”

        “Aku nggak perlu penjelasan. Aku cuma perlu tindakan!” Juno secepat kilat mengecup bibir Sasha.

        “Sialan, kamu!” Sasha menampar wajah Juno. Dia hendak berdiri, tapi tubuhnya ditahan tangan kuat Juno. “Lepasiiin!”

        “Enggak! Pokoknya, kamu harus jadi milikku!” Juno makin kuat mendekap Sasha.

        “Kamu mau perkosa aku?! Lepasin, kubilang! Atau, kamu mau aku teriak biar tetangga ramai-ramai menggiring kamu ke pos hansip?!” teriak Sasha.

        “Oke, oke!” Juno melepaskan Sasha. “Aku nggak akan maksa kamu sekarang. Tapi, lihat aja, suatu saat nanti kamu yang akan merengek-rengek minta kunikahi!” 

        “Nggak bakalan! Mimpi aja, sana!” Sasha berdiri dan menjauh dari Juno. “Udah, ah. Aku mau pergi!” Buru-buru dia pergi menuju pintu, dan dibantingnya pintu keras-keras tanpa menoleh lagi.

        SHIT! SHIIIT!!!” maki Juno. Lebih ke dirinya sendiri.


®



Baca lanjutannya:


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam