INSECURED MIRROR #7 - THE BIG LUCK!
DAHULU,
Juno mengira, emosi Netta yang tak stabil
akan mampu diredamnya seiring waktu. Mungkin mereka hanya
butuh waktu untuk lebih saling mengenal dan menyesuaikan diri. Juno yakin, tak
mungkinlah dirinya yang jago menaklukkan wanita bisa tak berkutik di hadapan istrinya
sendiri. Namun, akhirnya dia lelah berusaha menjadi suami yang baik dan setia,
karena apa pun yang dilakukannya selalu salah. Dia lalu memilih melakukan
sebaliknya.
Kembalilah Juno ke perilakunya yang dulu. Lelaki itu membiarkan
dirinya kian tersudut dan terkalahkan di rumah, tetapi tanpa setahu Netta, dia
kian menjadi-jadi di luar. Dia mengisi waktu-waktu sepulang kerja dengan hang out di kafe atau diskotik—kadang
minum-minum sampai mabuk dengan teman-teman lelaki, kadang mengencani
perempuan-perempuan cantik yang masih mengagumi ketampanannya dan penasaran
akan kemampuannya menghangatkan tubuh mereka barang satu-dua jam. Tak peduli
gadis muda atau tante-tante, asalkan wajah dan bodi mereka tak bikin mual
ketika dipandang, jadilah!
Pada saat-saat itulah, dia merasa kembali menjadi Juno
Prastomo Notodiprodjo yang bukan budak siapa pun. Dia bisa melakukan apa pun
pada perempuan-perempuan itu, dan rata-rata mereka malah menyukainya. Padahal,
terkadang dia sengaja bermain kasar untuk membuat mereka kesakitan dan
memohon-mohon ampun. Hanya satu-dua yang kapok dan langsung memutuskan kontak
sejak malam itu; yang lain malah menantikan kencan berikut dengan tak sabar.
Namun, bagi Juno tak ada kencan kedua dan seterusnya, karena tak ada satu pun
yang berkesan baginya.
"Akulah yang mengendalikan situasi! Akulah pengontrol
segalanya! Aku yang memutuskan dengan siapa aku mau menghabiskan malam, bukan
mereka. Mereka tak punya hak apa-apa atas diriku. Tak punya! Hahaha...." Tawa Juno menggelegar. Untunglah, saat itu tak ada yang mendengar.
Sudah dapat dipastikan, situasi di rumahnya malah semakin
panas karena Netta menjadi semakin overprotektif dan cemburu berlebihan. Dia bisa
langsung meradang setiap kali ada pesan atau telepon yang masuk ke ponsel Juno.
Tak peduli itu teman kerja atau klien penting Juno, kalau yang muncul di layar
yang berkedip-kedip itunama atau foto perempuan, Netta bisa langsung merebutnya
dan melabrak si penelepon atau pengirim pesan.
Tak
tahan dengan kondisi rumah yang jauh dari kondusif itu, Juno sadar, percuma saja
dia berusaha menghadapi Netta secara frontal. Dia tak akan pernah menang. Akhirnya,
dia menemukan
solusi untuk meredam kecemburuan Netta yang sering membuatnya naik darah itu. Dia selalu pulang ke
rumah tepat waktu dan berusaha
bersikap manis dan mesra. Tak pernah lagi di ponselnya masuk pesan ataupun telepon
dari perempuan mana pun selama dia di rumah.
Sudah tobatkah? Ohoho..., tidak juga! Untuk menikmati
kesenangan pribadinya, dia mengambil waktu di sela-sela jam kerja, atau ketika ada
tugas di luar kantor. Semua kontak yang terindikasi bakal menjadi sasaran
kecurigaan Netta, dia alihkan ke ponsel lain dan nomor lain yang hanya dia
sendiri yang tahu. Ponsel itu dia sembunyikan di celah tersembunyi di tas
kerjanya, dan selalu dia matikan ketika di rumah. So far, sejauh ini masih aman-aman
saja. Dia baru mengeluarkan ponsel itu ketika Netta sedang tidak ada di rumah
atau sudah tidur pulas—seperti malam itu, juga malam-malam sebelumnya, yang dia
isi dengan memandangi foto-foto Sasha..., dengan tekad yang semakin kuat buat
memiliki perempuan itu!
Beberapa
kali dia mencoba lagi mengirim pesan chat ke Sasha dengan akunnya yang
lain. Namun, entah radar apa yang dimiliki perempuan itu. Berpura-pura sebagai
lelaki lain dengan gaya tulisan dan bahasan yang sama sekali lain pun, ternyata
Juno tak mampu juga mengelabui Sasha. Perempuan yang makin menggetarkan hatinya itu
selalu bisa mendeteksi siapa dirinya. Lagi-lagi, akun palsunya kena blokir!
Akan
tetapi, tetap saja, Juno tak putus asa. Aku harus menemukan dan menemui dia
secara langsung!—tekadnya. Hanya dengan berhadapan langsung, pikir Juno,
dia akan bisa mengetahui perasaan dia yang sebenarnya terhadap Sasha, juga perasaan
Sasha terhadapnya. Sungguhkah dirinya benar-benar menyebalkan, bahkan
menakutkan bagi Sasha, atau sebaliknya?
Sekarang, yang harus dia pikirkan adalah cara menemukan alamat perempuan itu dahulu. Pernah dia mencari info lewat komunitas penulis yang ada di kota tempat Sasha tinggal. Namun, ternyata Sasha tak pernah bergabung di sana. Beberapa teman dunia maya Sasha yang Juno tanyai juga tak ada yang tahu di mana alamat perempuan itu. Menyuruh anak buahnya mencari tahu, atau membayar informan? Ah, sepertinya terlalu berlebihan. Dia ingin menemukan Sasha dengan usahanya sendiri, tanpa pertolongan siapa pun. Dengan begitu, dia pun dapat menjaga kemungkinan bahwa keberadaan Sasha di hatinya akan diusik oleh Netta.
Perempuan-perempuan lain yang pernah didamprat Netta, Juno tak peduli, karena dia tak merasa perlu memperjuangkan apa pun buat mempertahankan mereka. Tetapi, Sasha beda. Dia bertekad akan terus mencari perempuan itu. Dia yakin, dia akan menemukan Sasha dan akan mendapatkan perempuan itu, tanpa membuat Sasha jadi korban 'kebuasan' istrinya.
¢
Aha! Gosh! This is my luck! My big luck!—hati Juno melonjak-lonjak.
Dalam rapat manajemen tadi, atasannya membahas rencana pembukaan
kantor cabang perusahaan
periklanan mereka di…—di
kota tempat Sasha tinggal! Astaga! Sungguhkah ini…?
Sungguh
di luar dugaan Juno, ternyata kota itulah yang dipilih bosnya sebagai tempat
ekspansi perusahaan mereka. Rencana pembukaan kantor cabang memang sudah pernah
dibahas jauh sebelumnya, tetapi sang bos masih merahasiakan lokasinya. Biar surprise, katanya. Baru kali itulah rencana tersebut dibicarakan lebih matang,
termasuk di kota mana lokasinya dan siapa saja tim manajemen yang akan dikirim untuk menangani kantor baru
itu.
Tak
perlu berusaha terlalu keras, dengan jabatannya
sekarang dan pengalamannya selama ini, ditambah kemampuannya
berdiplomasi dan bernegosiasi, Juno berhasil mendapatkan kepercayaan bosnya untuk
memanajeri
kantor cabang itu! YES!!!
¢
Dan,
di sinilah
dia sekarang. Dia harus stay selama beberapa bulan untuk membimbing para
pegawai baru dan memastikan operasional kantor baru tersebut berjalan
lancar. Hm…,
sebenarnya bisa saja menjadi lebih lama, bahkan permanen, jika aku melakukan ‘manuver-manuver’ lebih lanjut, pikirnya. Namun, soal itu dipikirkan nanti saja. Ada yang jauh lebih
penting baginya.
Yang pertama tebersit di pikiran Juno ketika tiba di kota
itu adalah berkeliling kota, dengan harapan yang teramat kecil bahwa barangkali
saja dia bisa secara
kebetulan berpapasan atau melihat Sasha, lalu… menguntitnya
atau… bagaimanalah..., untuk mengetahui
di mana tempat tinggal
Sasha, tempatnya biasa hang
out,
kebiasaan dan kegiatan Sasha sehari-hari, dan sebagainya.
Namun, sumpah, dia belum terpikir harus mulai dari mana.
O, ya,
dia harus mencari tempat kos atau kontrakan dulu, tentunya. Tak enak lama-lama
tinggal di hotel. Kalau sudah dapat tempat tinggal yang nyaman, dia akan lebih
santai dan fokus buat memikirkan langkah-langkah ‘perburuan’-nya.
“Pak
Didi!” Juno memanggil sekuriti kantor barunya saat dia hendak balik ke hotel
sore itu, lalu bertanya, “Bapak tahu kos-kosan, kontrakan, atau paviliun sewaan
yang bagus di sekitar sini? Kalau bisa yang daerahnya nggak terlalu ramai dan
yang sewa di situ juga nggak banyak orang….”
Pak Didi
berpikir sebentar, lalu menjawab, “Oooh, iya…! Ada, Pak. Tempatnya nggak jauh
dari sini, kok. Jalan kaki paling sepuluh menitan. Jalannya agak sepi dan masih
asri banget, Pak. Saya selalu lewat situ kalau berangkat dan pulang kerja. Di
pagar rumah itu ada plang,
tulisannya:
‘Disewakan: paviliun dua kamar. Nyaman, harga
terjangkau’. Tapi,
saya belum pernah catat nomor teleponnya, Pak….”
“Oh,
berarti bukan kos-kosan atau kontrakan yang rame, kan, ya?” Juno memastikan.
“Bukan,
Pak. Itu rumah biasa, cuma di sampingnya ada paviliun kecil gitu. Kayaknya cuma
paviliun itu yang disewakan, kok. Halamannya luas, pohonnya juga banyak. Kalau
Bapak mau lihat, besok saya catatkan dulu nomor teleponnya, ya, Pak….”
“Letaknya
sebelah mana, Pak? Kalau gampang dicari, besok pagi saya langsung aja ke sana,
deh.”
“Oh,
jalannya cuma lurus ke arah sana, Pak, lalu gang pertama belok kiri.” Pak Didi menunjukkan
arah. “Bapak jalan aja terus, sampai ketemu rumah yang cat pagarnya udah agak
pudar, halamannya luas dan banyak pepohonannya, terus di pagarnya ada plang
paviliun disewakan. Mudah-mudahan cocok, ya, Pak.”
“Oke,
Pak Didi. Sip, sip. Besok saya langsung ke sana aja, deh. Makasih, ya,
infonya.” Juno menepuk pundak Pak Didi, tanda terima kasih.
“Siap,
Pak Juno!” Pak Didi tersenyum dan mengangguk hormat.
Saat itu, Juno
masih belum tahu bahwa kali ini dia akan mendapatkan double strike. The
real jackpot.
®
Baca lanjutannya:


Komentar
Posting Komentar