INSECURED MIRROR #8 - BINGO!
SASHA
baru saja masuk dan menutup pintu setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah.
Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu depan ketika dia baru hendak masuk
kamar dan berganti pakaian.
“Cari siapa, ya…?”
tanya Sasha begitu pintu dibukanya.
Seorang lelaki yang tak dia kenal berdiri di depannya, berjaket kulit, berkacamata
hitam, bersepatu
kulit, dan menyandang sebuah ransel. Semua yang dipakai lelaki itu membuatnya
sekali pandang langsung terlihat keren. Tanpa disuruh,
hati kecil Sasha mengakui itu, kendati penampilan seseorang biasanya tak terlalu
berpengaruh buatnya.
Juno membuka
kacamatanya dan bertanya sopan, “Maaf, Mbak. Di sini ada paviliun yang disewakan, ya? Masih kosong?”
Ada desiran aneh di dada Juno ketika dia
melihat mata perempuan yang membukakan pintu. Diperhatikannya
wajah perempuan itu lebih intens saat dia bertanya. Mungkinkah dia ...—? Ah, mana mungkin? Sinetron banget!
“Oh, ada. Kebetulan lagi kosong, Mas,” jawab perempuan
itu, sembari juga memperhatikan sosok di hadapannya lebih lekat. Wajah itu
seperti pernah dilihatnya di suatu tempat.... Atau, mungkin pernah dia lihat fotonya di medsos?
“Wah, syukurlah. Boleh saya lihat?” tanya lelaki itu
gembira. “O, ya, kenalkan, nama saya Juno...,” lanjutnya seraya mengulurkan
tangan.
Alih-alih balas mengulurkan tangan, perempuan itu malah
terperangah, terbelalak, dan menutup mulutnya sembari mundur selangkah.
“JU…-JU-NO...??? Kamu…, Juno yang...—ya,
Tuhan!” Sasha tergagap saking kagetnya. Spontan, kecurigaannya
melonjak ke puncak.
“Hei, kamu berani stalker-in
aku sampai ke rumahku
ini?
Astaga! Apa, sih, maumu?!” serunya.
“Jadi..., kamu..., SA-SHA...? Beneran???” Juno tak
kalah terkejut. “Ya, ampuuun! Baru
aja aku mau kelilingi kota ini buat cari kamu. Jodoh memang nggak
ke mana, ya!” Matanya berbinar
dan dia mengembangkan tangan spontan, hendak memeluk Sasha
saking gembiranya, bagai menemukan emasnya yang hilang.
“Stop!!! Awas kalau kamu
maju lagi dan berani masuk rumahku!” seru Sasha tegas, membuat pertahanan.
“Wow, wow...! Ini bukan penyambutan yang sopan buat
seorang calon penyewa
paviliunmu...,” ucap Juno sambil menampakkan mimik kecewa.
“Apa
maksud kamu? Calon penyewa…?” Sasha bingung.
“Maaf kalau aku bikin
kamu takut, Sayang, tapi aku benar-benar nggak pernah stalker-in kamu! Sumpah! Aku benar-benar
nggak tahu, lho, kalau ini rumah kamu!” Juno berkata dengan mimik
sungguh-sungguh.
“Diam, kamu! Jujur, deh, apa tujuan kamu kemari?” Sasha masih tak percaya.
“Sa…, calm down, please…. Aku nggak akan ngapa-ngapain
kamu, oke?” Juno berusaha menenangkan Sasha. “Boleh aku duduk sebentar untuk tunjukin
bukti bahwa aku beneran butuh penginapan untuk beberapa bulan dan aku
sama sekali nggak tahu bahwa ini rumah kamu...?” lanjutnya hati-hati.
“Oke, silakan. Tapi, duduk di situ aja dan
berhenti panggil aku ‘Sayang’!” tegas Sasha sembari menunjuk kursi-kursi di beranda.
“Oke,
makasih, ya.” Juno segera duduk, lalu mengangkat tas ranselnya ke atas meja. “Sebentar,
aku ambil buktinya dulu di tasku ini. Tapi…, kamu duduk juga, dong. Tenang aja,
aku nggak akan lakukan apa pun yang akan mencelakakan kamu.” Juno
meyakinkan.
Sasha lalu duduk di hadapan Juno, masih dengan pandangan waspada.
Kicau burung di pohon mangga dan akasia yang sudah puluhan tahun tertanam di
halaman rumah itu, serta aroma rumput basah yang menguar dari sana, mempermanis
suasana pagi dan sedikit menenangkan perasaan Sasha. Dia sungguh
berharap, Juno tidak sedang berusaha mengarang kebohongan yang akan menjebaknya ke dalam
kesulitan.
“Ini, Say...—ups, Sa-sha, maksudku. Ini surat
resmi dari kantorku yang menugaskan aku menangani operasional kantor cabang
baru kami di kota ini, sampai semuanya dapat dihendel dengan baik oleh
manajemen cabang di sini. Kamu lihat sendiri, alamat kantorku nggak
jauh dari sini.
Aku tadi jalan kaki ke sini.” Juno mengeluarkan selembar surat berlogo perusahaannya dan
menunjukkannya kepada Sasha.
Sasha langsung membacanya dengan teliti.
“Aku tiba di kota
ini kemarin, dan semalam aku nginap di hotel yang agak
jauh dari sini yang
biaya per malamnya lumayan mahal.” Juno bercerita tanpa diminta. “Kantorku
tentu rugi, dong, kalau harus biayain aku tinggal di hotel terus selama berbulan-bulan.
Makanya, aku nyari kos atau kontrakan yang dekat kantor, yang tempatnya nyaman,
nggak rame dengan kendaraan yang lewat ataupun orang di sekitar, supaya
aku bisa kerja ataupun istirahat dengan tenang. Nah, sekuriti kantorku kemarin sore ngasih
tahu, di sini ada paviliun yang bagus
dan terlihat nyaman, halamannya luas, banyak pohonnya, sepi dan asri pula.
Sesuai kriteriaku banget,
lah. Dia
cuma ngasih petunjuk secara lisan, tapi terus aku catat biar nggak
lupa. Ini....”
Juno mengeluarkan secarik kertas dari sakunya berisi
coretan kasar arah jalan dan ciri-ciri rumah yang diberi tahu Pak Didi,
memberikannya pada Sasha, lalu melanjutkan, “Pak Satpam nggak
nyebut-nyebut nama kamu sama sekali, kok. Aku juga nggak tahu dia kenal
atau enggak sama kamu. Dia bahkan nggak nyatetin nomor telepon yang ada di plang di
depan pagar itu. Jadi, ya...—pagi ini aku coba aja ke sini berbekal petunjuknya
kemarin. Aku juga kaget banget dan nggak nyangka kalau ini
rumah kamu dan bisa ketemu kamu di sini! Beneran, Sa. Ini seratus persen
kebetulan dan nggak ada urusan stalker-stalker-an
sama sekali. Swear!” tegas Juno
sembari jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
Dia menarik napas panjang melihat wajah Sasha yang sudah
berubah semakin tenang. “Kamu percaya sekarang...?”
Sasha tersenyum, lalu menyerahkan kembali surat dan
carikan kertas tadi. “Oke, aku percaya. Sori kalau tadi reaksiku berlebihan...,”
jawab Sasha. Dia lega, ternyata lelaki itu tidak punya maksud buruk terhadapnya
dan cukup bisa dipercaya.
“Jadi, ini berarti aku boleh nyewa paviliunmu di
sini, atau aku harus cari tempat lain, nih?” tanya Juno sambil mengangkat
ranselnya.
“Mmm..., kamu lihat-lihat aja dulu. Kalau cocok,
silakan sewa dengan bayar sebulan di muka. Kalau nggak cocok, ya, udah....” Sasha bangkit
dan memberi isyarat bagi Juno untuk mengikutinya. “Tas kamu taruh aja di
situ.” Dia menunjuk kursi yang tadi diduduki Juno.
“Oke.” Juno menaruh tasnya, lalu mengikuti Sasha
melangkah di jalan setapak di samping rumah, menuju paviliun kecil yang
terletak di belakang rumah itu.
“Ini tempatnya. Memang nggak begitu bagus lagi
karena ini bangunan tua dan belum sempat direnovasi, tapi kalau kamu butuh
ketenangan, aku jamin kamu nggak akan terganggu oleh bising kendaraan, berisik
suara tetangga, ataupun teriakan tukang jualan yang mondar-mandir. Suara ribut
anak-anakku pun nggak akan kedengaran dari sini,” terang Sasha. Dia
membuka pintunya yang tak dikunci, lalu mempersilakan Juno masuk dan
melihat-lihat.
“Hmmm..., aku suka tempat ini!” kata Juno setelah melihat
kamar-kamar, kamar mandi, dan dapurnya. “Berapa sebulannya?”
Sasha menyebutkan suatu angka.
“Oke, deal. Aku
bayar langsung untuk tiga
bulan, ya. Kalau aku masih harus lebih lama stay di
sini, aku tambahin lagi nanti,” kata Juno tegas. “Berapa nomor rekening kamu?” tanyanya sambil membuka
aplikasi mobile banking di ponselnya.
“Wow..., nggak kecepetan, nih, mutusinnya?
Nggak mau lihat-lihat tempat lain dulu yang mungkin lebih bagus?” Sasha balik
bertanya alih-alih menyebutkan yang diminta Juno.
“Nggak perlu. Buat apa buang waktu ke tempat lain?
Lagi pula, di tempat lain mana ada bonus spesialnya? Hehehe...,” jawab Juno
dengan senyum teramat manis.
“Bonus spesial? Bonus apa?” Sasha tak
mengerti.
“Ya…—kamu!”
Juno menunjuk
ke arah hidung Sasha.
“Jadi, kamu sengaja mau nyewa di sini karena tempat ini
milik aku? Biar kamu bisa sering-sering ketemu aku, pedekate ke aku, gitu?” Sasha curiga lagi.
“Kan, tadi aku bilang, aku nyari tempat yang
nyaman, sepi,
asri, dan dekat dari kantor. Tempat ini memenuhi semua
kriteria itu. Kalau ternyata ini rumah kamu dan aku jadi bakal sering-sering
ketemu kamu, ya..., itu
bonus spesial aja, kan! Anggaplah
berkah anak saleh! Hehehe....” Juno tertawa renyah.
Sasha mengedikkan bahu. “Ya, sudah. Makasih, ya. Mungkin
ini memang rezeki anak-anakku...,” katanya setengah bergumam.
“Jadi,
berapa nomor rekening kamu?” Juno mengulangi pertanyaannya yang tadi belum dijawab
Sasha.
Sasha
menyebutkan nomor rekeningnya. Tak lama, Juno menunjukkan layar ponselnya
yang menampilkan
bukti bahwa transaksinya berhasil.
“Nih,
ya, udah kubayar buat tiga bulan.”
“Eh,
kamu serius langsung bayar tiga bulan? Ya, Allah, makasih, Juno…,” ucap Sasha. Matanya berbinar.
“Sama-sama,”
jawab Juno yang entah kenapa ikut lega. Sepertinya, Sasha sungguh membutuhkan uang
itu dan sangat berterima kasih mendapatkan rezeki tak terduga tersebut.
Mereka berjalan
kembali ke beranda.
“Jadi,
kapan kamu mau masuk?” tanya Sasha.
“Hari ini, lah. Sekarang aku naruh ranselku ini dulu, ya.
Barang-barangku sebagian masih ada di hotel. Nanti jam sembilan aku harus ke
kantor lagi, meeting dengan para karyawan cabang.
Habis itu, aku akan balik ke hotel dan check
out, lalu balik ke sini dengan semua barangku,” jelas Juno. “O, ya, aku
minta kuitansi, ya, buat pertanggungjawaban ke bagian keuangan kantor.”
“Oke, nanti aku siapkan,” jawab Sasha.
Juno melihat jam tangannya. Baru jam delapan. “Eh, di sekitar sini ada yang jualan sarapan enak nggak? Aku pengin cari sarapan dulu, nih..., lapar.”
“Banyak, sih. Ada
bubur ayam, bubur kacang ijo, nasi uduk....”
“Yaaah, itu, sih, sama aja dengan di Jakarta. Bosen,
ah. Nggak ada yang spesial, gitu?”
“Ada yang spesial dan nggak ada yang nyamain, tapi
aku nggak tahu kamu bakal suka atau enggak...,” kata Sasha spontan, tapi
agak ragu sendiri di ujung kalimatnya.
“Apa, tuh?” Juno penasaran.
“Nasi goreng buatanku. Kata anak-anakku, sih, nasi
gorengku enak banget, walaupun nggak pakai campuran macam-macam,” jawab Sasha.
“Wah, kamu mau masakin buatku? Mau banget, lah!”
respons Juno antusias.
“Oke, kamu tunggu sini, ya. Awas kalau masuk-masuk!” Sasha beranjak.
“Iya, iyaaa. Takut banget, sih?! Memangnya aku punya
tampang pemerkosa atau penculik?”
Juno merengut.
“Ya..., enggak, sih. Tapi, kita, kan, baru kenal dan aku
sendirian di rumah,” tegas Sasha.
“Baru kenal? Bukannya udah cukup lama?” kerling
Juno.
“Iya, cukup lama buat kamu mengganggu hidupku,” ralat
Sasha sambil mengalihkan pandangan.
“Maaf, deeeh, tapi aku nggak bermaksud begitu, lho.
Kuharap, setelah ini kita bisa saling mengenal dengan lebih baik, ya....”
“Aku nggak berharap, tuh.” Sasha menjawab
dingin.
“Oke, oke, nggak pa-pa. Kamu tenang aja.
Aku akan jadi penyewa yang baik, kok!” Kembali Juno menunjukkan tanda ‘V’
dengan kedua jarinya.
“Oke, makasih. Aku buatin dulu nasi gorengnya. O,
ya, kamu mau minum apa?”
Sasha beranjak sambil memegang hendel pintu depan.
“Teh aja, soalnya perutku belum diisi apa-apa pagi
ini,” jawab Juno. “Yang manis, ya...,” lanjutnya sambil mengedipkan sebelah
mata.
“Oke, tunggu bentar, ya.” Sasha menutup
pintu dan menghilang dari pandangan Juno.
Lelaki itu menengadah sambil tersenyum semringah dan bergumam,
“O, God!
So amazing You are!”
Sambil melangkah ke dapur, Sasha baru tersadar dan mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Ya, Tuhan, apa maksudnya semua ini...? Dia...—cowok aneh itu—ada di sini dan dia akan lama tinggal di sini?! Lalu, apa yang barusan aku lakukan? Menawarinya nasi goreng dan teh manis? Astaga, Sasha! Kamu waras??? Dia memijat kepalanya sendiri.
®


Komentar
Posting Komentar