INSECURED MIRROR #9 - THE FIRST DAY
SASHA membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur, seakan tak bisa menemukan posisi
yang nyaman. Tengah malam sudah lewat dan dia belum tidur sama sekali pada
siang ataupun sore harinya, sehingga hampir dapat dipastikan dia tak akan bisa
bangun pagi untuk menyiapkan anak-anaknya sekolah karena dia pasti masih akan
sangat mengantuk, atau tertidur menjelang pagi seperti kebiasaan buruknya
selama ini. Dulu, sewaktu Feus—suaminya—masih ada di rumah, suaminya itulah
yang selalu bangun subuh-subuh lalu
membangunkan dia. Feus juga selalu siap mengantar kedua anak mereka ke sekolah
dengan motornya, yang sejak pukul enam sudah disiapkan di halaman rumah.
Sekarang, tiga bulan lebih sejak Feus pergi entah ke mana—Sasha
yang mengusirnya, sebetulnya—Sasha harus selalu mengantar mereka naik angkot.
Dia harus bangun lebih pagi sedikit, karena sebelum mengantar dia harus mandi
dan mempersiapkan diri dulu. Malu dengan ibu-ibu anak-anak lain yang selalu
datang dengan make up tebal dan
pakaian bagus. Meskipun make up tebal
tak akan repot-repot Sasha poleskan ke wajahnya karena itu sama sekali bukan
gayanya, minimal bedak dan lipstik tipis, sih, harus. Pakaian pun baginya cukup
yang simpel saja, yang penting rapi; tidak tampak belum mandi dan malu-maluin.
Namun, malam ini dia benar-benar tak bisa tidur. Dia
masih tak percaya bahwa hanya beberapa meter dari kamar tidurnya, terbaring seorang
lelaki asing yang sebelumnya selalu membuat tubuhnya
bergetar aneh dan tenggorokannya seperti tercekat, setiap kali dia teringat
pada laki-laki itu. Seperti inikah rindu yang dibarengi ketakutan dan
kekhawatiran? Atau, perasaan apa ini...?
Sasha semakin tak mengerti apa yang diinginkan Tuhan
dengan kehadiran lelaki itu secara begitu tiba-tiba di hadapannya. Dia yang
semula sangat curiga, cemas, dan takut, ternyata mendapat jawaban-jawaban yang
melegakan dan Juno berhasil meyakinkannya bahwa tak ada yang perlu dia
khawatirkan. Dan, spontan saja, dia malah menawari lelaki itu minum dan
sarapan, seakan jelas sekali menandakan bahwa dia ingin lelaki itu tinggal
lebih lama, ingin mengenalnya lebih banyak, dan ingin juga lelaki itu lebih mengetahui
tentang dirinya dan kehidupannya!
Ah, pertahanan diri yang payah! Mestinya aku bisa saja mengusir
dia dan tak mengizinkan dia menyewa paviliunku. Mestinya aku biarkan saja
dia pergi mencari sarapan, tak perlu membuatkan teh manis dan nasi goreng, tak
perlu pula menunggu dia datang lagi lalu mengajaknya makan siang di ruang
makanku—yang berarti mengizinkannya masuk!—dengan masakan yang spesial pula:
ayam goreng dan sop jamur kuping!
Oke, itu masakan kesukaan anak-anakku, kok, jadi bukan berarti
aku memasakkan khusus buat Juno. Cuma, berhubung aku membeli bahan-bahannya
dari uang sewa yang diberikan Juno, wajar saja kalau dia kuajak makan, kan?
Lagi pula, karena dia penyewa baru, tak ada salahnya aku bersikap ramah kepadanya, kan?
Berbagai penyalahan sekaligus pembenaran diri terus
berkecamuk di kepala Sasha.
Tapi..., kenapa harus dia lagi...? Setengah mati aku
berusaha melupakan dia, melupakan bahwa monster itu pernah ada dan aku pernah
berkenalan dengan cara yang teramat salah dengan dia. Lalu, kenapa tiba-tiba
dia ada di sini? Di paviliun, pula! Oh, God!Sungguhkah
dia bukan monster tukang maksa, bukan maniak seks, bukan ...—
¢
“Suami
kamu ke mana?” Pertanyaan itu terlontar untuk kedua kalinya ketika Juno duduk
di meja makan rumah Sasha bersama Teyo dan Deiya, dua anak Sasha yang berumur
10 dan 7 tahun.Teyo kelas IV SD dan Deiya kelas I SD. Pertanyaan pertama, yang
diajukan Juno ketika pertama kali masuk rumah itu tadi, tak digubris Sasha; dia
pura-pura tidak mendengar.
“Kerja, di luar kota,” jawab Sasha enggan. “Deiya mau
tambah ayamnya?” Dia mengalihkan pembicaraan, menghindari pertanyaan Juno lebih
lanjut.
“Mau, Maaa!” Deiya segera menyodorkan piringnya.
“Mau tambah juga, Ju?”
“Oh, enggak, makasih. Ini udah cukup, kok,” jawab
Juno tersenyum, lalu menyuapkan nasi banyak-banyak ke mulutnya. Akan tetapi,
dia tak bisa menahan rasa penasarannya. “Luar kotanya di mana, Sa?” tanya Juno
dengan mulut masih setengah penuh.
“Bisa di mana aja.” Lagi-lagi Sasha terpaksa
menjawab dengan enggan.
“Om, Om...! Kata Mama, kalo lagi ngunyah makanan, nggak
boleh ngomong. Nanti kesedak, lho!” tukas Deiya dengan mimik lucu.
“Tau, nih, si Om! Nggak usah tanya-tanya soal
Papa, deh. Males banget, tau nggak?!” Teyo menimpali sambil menggigit
paha ayam besar-besar, seakan melampiaskan rasa kesalnya ke daging ayam itu.
Dia tampaknya tidak terlalu suka ayahnya disebut-sebut. Anak itu pasti sudah
bisa memahami bagaimana perilaku ayahnya dan apa sebabnya sang ayah pergi.
Sebagai anak laki-laki sulung, wajar jika dia punya naluri spontan untuk
melindungi ibunya.
“Oke, oke. Maaf, ya, Anak-anak. Maaf, ya, Sa.... Aku
hanya ingin tahu. Nggak ada maksud apa-apa, kok.” Juno jadi merasa tidak
enak.
Sasha meneguk air putihnya, lalu tersenyum. “It’s okay, Ju. Terusin aja
makannya.”
“O, ya, Anak-anak, kalian suka main gim?” Juno berusaha
mencairkan suasana sambil menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit.
“Suka, Om, suka!” Teyo dan Deiya berebutan menjawab. Teyo
rupanya sudah lupa pada kekesalannya.
“Tapi..., Deiya suka sebel, Om, kalo Deiya mau
main gim di laptop Mama, Mama suka nggak kasih, soalnya Mama mau ngetik....”
Deiya yang polos langsung mengadu.
“Oh, gitu.” Juno mengangguk-angguk penuh perhatian pada Deiya.
“Nah, Om punya gim baru
di laptop Om. Deiya sama Teyo mau main?”
“Mau, Om!” Deiya cepat menjawab.
“Mau, dong, Om!” jawaban Teyo terlambat setengah detik.
“Aaa..., Kakak! Deiya duluan yang bilang mau. Jadi, Deiya
duluan yang main, ya, Om!”
“Yeee..., enak aja. Yang gede duluan, dong!”Teyo
tak mau kalah.
“Udah, udah. Nanti Om yang tentuin siapa
yang duluan. Sekarang habisin dulu makanan kalian. Nih, lihat, Om udah
habis, lho!” Juno bangkit ketika Sasha hendak membawa piringnya dan piring Juno
ke dapur. “Aku bantuin, ya, Sa....”
“Nggak usah, Ju. Aku cuci sendiri aja. Kamu
temenin anak-anak ngabisin makanan mereka aja.”
“Oke, deh.” Juno duduk lagi.
Sasha menumpuk piring Juno dan sendok-garpu ke atas
piringnya, lalu segera hendak melangkah ke dapur, tetapi tangannya ditahan oleh
Juno.
“Mm..., Sa, habis ini boleh, kan, anak-anakmu kuajak main
gim di
paviliunku?”
Juno meminta izin.
“Halah..., basa-basi banget, deh, kamu. Udah nawarin
duluan, minta izinnya belakangan. Kalau anak-anak udah antusias gitu,
aku larang pun nggak ada gunanya, lah, Ju....” Sasha tersenyum gemas.
“Hahaha..., sori, sori. Aku emang suka anak-anak
dan cepat akrab dengan mereka. Anak-anakmu kritis dan lucu. Aku hanya ingin
menyenangkan mereka sedikit....”
“Sambil modus deketin ibunya?” sela Sasha, agak
mendekat ke telinga Juno.
“Yah, kalo ibunya mau...,” balas Juno setengah
berbisik.
“Ogah!” Sasha melepaskan pergelangan tangannya yang masih
dipegang Juno, lalu langsung membawa peralatan makan ke dapur, diikuti tawa tertahan
Juno.
“Om, Om, Deiya udah habis, nih!”
Kalau bukan karena Deiya yang menyodorkan piringnya ke hadapan
Juno, mungkin Juno masih menatap ke arah pintu dapur, meskipun Sasha sudah
menghilang di baliknya dan sedang berkutat dengan sabun cuci piring dan kucuran
air dari wastafel dapur.
“Sini, Kakak bawa piring kamu ke dapur, Deiya.” Teyo
bangkit dan mengangkat piring Deiya bersama piringnya. “Bentar, ya, Om...,”
katanya pada Juno.
“Oke, tenang aja, Om tungguin di sini, kok,”
jawab Juno.
Sasha mendengar semua itu dari dapur. Dia hanya
tersenyum-senyum sendiri sambil memindahkan piring-piring yang sudah dicucinya
ke rak piring.
“Idih, Mama senyum-senyum sendiri...!” ledek Teyo yang
tiba-tiba meletakkan piring-piring ke wastafel. “Mama suka sama Om Juno, yaaa...?”
Sasha agak kaget walaupun mestinya dia tahu Teyo memang
akan ke dapur. “Apaan, sih, Teyo?! Udah, kamu main aja, sana.
Biar piring-piringnya Mama yang cuci,” katanya untuk menutupi wajahnya yang
mungkin bersemu merah.
“Kok, Mama tumben nggak nyuruh aku nyuci
piring sendiri?” tanya Teyo.
“Ya..., kan, kamu mau main gim sama Om Juno. Kasihan ntar Om Juno nungguin
kamu nyuci piring dan adikmu keburu nggak sabar....”
“Iya, deh, Ma. Makasih, ya, Maaa...!”
“Ingat, jangan nakal dan jangan bikin berantakan, yaaa! Jagain
adikmu!” seru Sasha sebelum Teyo keluar dari dapur.
“Iya, Ma!”
“Oke, Sa, aku culik anak-anakmu dulu, ya!” kata Juno yang
tiba-tiba muncul di pintu dapur dan merangkul Teyo.
“Oke.” Sasha menjawab singkat, lalu segera mengalihkan
perhatiannya ke sabun cair dan spon pencuci piring.
Eh, apa dia bilang? “Culik”? Tuhan, jangan sampai dia
benar-benar menculik anak-anakku.... Sasha bergidik.
®


Komentar
Posting Komentar