INSECURED MIRROR #13 - "MY WORST ENEMY"
“But I hide behind my skin, afraid of what's within. //
It’s my insecurity. It’s not
you, it’s me. I’m my own worst enemy ...”
SASHA
kaget mendengar lagu yang tak sengaja terputar dari laman YouTube di laptopnya itu. Dia sedang fokus mengerjakan
order terjemahan sebuah naskah buku sehingga bagian awalnya terdengar selintasan
saja. Namun, dia terpaku saat mendengar kalimat terakhir sebelum refrein dan
bagian awal refreinnya tadi.
Sungguh persis! Itulah dia sekarang: seorang perempuan
yang hanya berani bersembunyi di balik kulitnya dan takut akan apa yang
sebenarnya ada di sisi terdalam hatinya. Bukan Juno, melainkan dirinya
sendirilah musuh terburuknya!
Penasaran, segera dia klik halaman YouTube yang dari tadi
tak dia lihat-lihat videonya dan asal mendengarkan lagu-lagu yang terputar
saja. Insecure, dinyanyikan oleh Nikki Flores. Dia putar ulang dan cermati liriknya.
Isi lagu itu secara keseluruhan agak beda dengan situasi yang sedang dia hadapi,
tetapi potongan liriknya sangat persis menggambarkan dirinya yang sedang didera
ketakutan akan berbagai hal, terutama dirinya sendiri.
Masih terdorong rasa penasarannya, Sasha mencari info
lain tentang lagu itu. Lagu lama, ternyata. Sudah ada yang mengunggahnya di
YouTube sejak 13 tahun lalu. Ada pula unggahan dari 12, 9, dan 8 tahun lalu
juga. Entah apakah di Amerika sana lagu ini cukup ngetop, tetapi dia kira di
Indonesia kurang familier. Atau, mungkin dia saja yang belum pernah dengar
karena dia memang bukan orang yang terlalu mengikuti perkembangan dunia musik.
Alih-alih melanjutkan pekerjaannya, Sasha malah melamun. Insecure.
Agaknya, baru belakangan ini kata itu sangat populer di kalangan anak muda
milenial. Dia tertawa kecil, teringat pernah dilihatnya orang menulisnya “insekyur”,
sesuai dengan pelafalannya. Ah, ada-ada saja. Kenapa pula dia, yang notabene
sudah bukan ABG lagi, harus merasakan kegalauan akut yang ternyata disebabkan
rasa tidak aman dari dirinya sendiri. Parahnya, rasa “insecure” itu mengejawantah
menjadi sikap defensif, penolakan, atau terkadang malah sebaliknya: kegarangan,
buat menutupi kelemahan atau kerapuhannya yang sebenarnya. Aaargh..., apa
Juno juga merasa seperti ini? Apa Juno juga menyadari hal ini?
¢
Suatu
sore, saat sedang sama-sama santai, Sasha membawakan kopi ke paviliun dan mengajak
Juno bicara dari hati ke hati. Dia ingin menyelesaikan segala kesalahpahaman di
antara mereka berdua. Pertama, dia mencoba menjelaskan seperti apa perasaannya
dan bertanya bagaimana sebenarnya perasaan Juno. Lalu, dia memaparkan apa
sebabnya dan akan seperti apa jadinya bila dia menerima cinta Juno. Tujuannya,
dengan menggali perasaan terdalam masing-masing lalu menyadari situasi dan
konsekuensi yang harus mereka hadapi dari segala sisi, mereka akan mampu
mengambil kesepakatan bentuk hubungan seperti apa yang terbaik bagi mereka.
Namun, belum selesai Sasha berbicara, Juno sudah menampiknya
dengan tak sabar, “Hei, hei. Udah, deh, Sa. Memangnya perlu, ya, kamu jelaskan
segala diagnosis dan teori atas ‘penyakit’-mu sendiri itu lalu mengklaim bahwa
aku juga punya ‘penyakit’ yang sama? Yang aku perlu cuma satu: kamu akui kalau
kamu cinta aku, lalu kamu bilang bahwa kamu bersedia hidup dengan aku. Soal status
dan lain-lainnya, kita cari solusinya belakangan. Selesai perkara. Kamu nggak
perlu mengumbar banyak alasan aneh itu, Sa!”
“Ish, kamu itu! Kenapa, sih, kamu selalu maksain
kehendak kamu, Ju?” Sasha mulai terpancing untuk dengan nada tinggi.
“Kamu itu yang selalu maksain bahwa hanya pikiranmu yang
selalu benar! Kamu merasa kita kayak kembar, bagai cermin satu sama lain, tapi
karenanya kita bakal saling menghancurkan? Itu, kan, spekulatif, Sa. Kamu sendiri
aja yang merasa kayak gitu. Aku enggak, tuh!” Lalu, tiba-tiba Juno
mengubah nada bicaranya, “Justru kalau kita banyak kesamaan, itu artinya kita JO-DOH.
Paham, kan, Sayang?” Kalimat ini diakhirinya dengan menowel jahil dagu Sasha disertai
pandangan menggoda.
Sasha menepis jari Juno dan mendesah jengah, lalu
berkata, “Masalahnya, kesamaan kita itu kebanyakan dalam hal yang negatif, Juuu!
Seperti ini, nih. Kita sama-sama keras kepala, nggak mau kalah dalam adu
argumen, merasa diri paling benar, dan entah apa lagi. Kamu nggak capek bertengkar
terus sama aku gini?”
“Kamu, kan, yang mulai?” Juno balik bertanya.
“Memang kali ini aku yang mulai, tapi aku maunya kamu dengerin
aku dulu baik-baik. Soal inilah yang harusnya kita pikirkan solusinya bersama,
bukannya yang tadi kamu bilang ituuu!” tukas Sasha.
“Oke, okeee, aku ngalah. Aku akan dengerin
sampai kamu selesai bicara, sekonyol apa pun itu. Promise!” Juno
mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk tanda ‘V’.
Beberapa kali Sasha menarik napas dan mengembuskannya,
seperti mengumpulkan keberanian. Akhirnya, dia mulai bicara tanpa memandang
Juno, “Aku takut, Ju.”
“Takut? Takut apa? Takut sama siapa?” Juno merasa aneh
sekaligus khawatir.
“Aku takut pada diriku sendiri..., pada perasaanku
sendiri...,” jawab Sasha pelan.
“Nah, kamu takut karena sebenarnya kamu sadar bahwa kamu
cinta aku, kan?” tembak Juno.
“Bukan seperti itu, Ju! Sejak kenal kamu, berbagai
perangai negatif yang tak aku sadari, atau yang telah lama kusembunyikan, justru
muncul dengan jelas dari diri kamu. Aku takut banget ketika menyadari itu. Itulah
yang bikin aku dulu selalu berusaha menghindar. Sekarang, dengan kita ketemu
tiap hari lalu jadi semakin akrab tapi juga semakin sering berantem, perangai
buruk itu malah muncul beneran dalam perilakuku terhadapmu.
“Aku takut, karena apa yang kulakukan terhadapmu sekarang
bukanlah semata pertahanan melawan intimidasimu, tetapi lebih merupakan pertahanan
terhadap rasa tak amanku sendiri. Aku tak ingin kalah dari kamu, juga dari diriku
sendiri. Karenanya, aku memasang tameng-tameng sebagai bentuk pertahananku. Tapi,
akibatnya, kamu juga jadi makin keras dan mungkin bisa menjadi monster yang hendak
menghancurkanku. Sebaliknya, rasa takutku juga bakal menciptakan monster tandingan
dari diriku buat menghadapimu. Sikap defensif maupun agresif, sama-sama akan
menjadi bumerang bagi kita berdua, Ju. Entahlah..., aku terus merasa akan ada hal
buruk yang terjadi dengan kita. Aku takut, pada akhirnya kita hanya akan saling
menyerang....” Sasha berhenti bicara sejenak dan menghela napas.
Tiba-tiba, Juno memotong, “Menyerang seperti ini,
maksudmu?”
Detik itu juga, Juno langsung mendekap Sasha dan menciumi
wajah perempuan itu dengan buas. Sasha berusaha menghindar dan membebaskan diri
dari pelukan Juno dan hujanan ciuman pada pipi, hidung, dagu, leher, hingga
bibirnya, tetapi lelaki itu memegangi tangan Sasha dengan kuat dan mendekap
tubuh Sasha begitu erat hingga dia hampir tak bisa lagi bergerak. Aroma parfum
Juno seakan membius dan menghipnotis Sasha hingga beberapa saat dia sempat
terlena dan tak punya daya untuk memberontak lagi. Barulah setelah dia merasa
semakin terdesak, sebuah kekuatan entah dari mana tiba-tiba membuat dia mampu
mendorong tubuh Juno dengan kuat lalu segera berlari ke luar.
Tanpa mereka sadari, di balik tembok di luar paviliun,
ada yang sejak tadi memperhatikan mereka. Sosok ber-hoodie hitam
bertudung yang menutupi mukanya dengan kacamata hitam dan masker hitam itu
mengepalkan tangannya kuat-kuat. Giginya menggeletuk geram. Matanya menyorotkan
kemarahan dan dendam.
®
Link YouTube:
Baca lanjutannya:


Komentar
Posting Komentar