INSECURED MIRROR #1 - TWIN'S HURT
“KAMU harus jadi milikku, Sayang! Berhentilah berontak. Sia-sia saja. Makin kamu bergerak, ikatan itu akan makin menyakitimu!” seru laki-laki itu.
“Buka, Ju...! Sakiiit!” Suara perempuan itu memelas.
“Diam, kamu!” Lelaki itu membentak dan menamparnya.
“Aaarghhh...!” Jeritan sang perempuan membelah malam pekat di paviliun itu.
Lelaki itu membungkuk sedikit, mengusap-usap bercak merah pada pipi mulus yang baru saja ditamparnya.
“Maafin aku, Sayang...,” katanya lembut.
Dia menatap lekat-lekat sambil mengangkat dagu perempuan itu. Jemarinya menelusuri wajah tirus di hadapannya yang tak lagi terpoles make up sedikit pun. Rambut perempuan itu sudah berantakan setelah beberapa kali dijambaknya: cawut-mawut tak beraturan, menutupi dahi dan tepi-tepi wajahnya yang basah oleh peluh.
“Kita nikah, ya, Sa. Kamu mau, kan, Sayang?”
“Lalu, membiarkan hidupku dikuasai orang sakit jiwa seperti kamu?!” balas perempuan itu cepat.
“Sakit jiwa??? Aku sakit jiwa, katamu?! Kalaupun aku sakit jiwa, itu semua gara-gara kamu! Hidupku normal-normal saja sebelum aku bertemu denganmu!” seru lelaki itu.
“Normal? Normal macam apa? Kamu cuma pandai menyembunyikan kegilaanmu!”
“Dan, kamu yang memicunya ke permukaan! Kamu yang membuatku sadar bahwa aku memang gila. Menggila-gilai kamu, Sa!” balas lelaki itu lagi. “Kamu mau hidupku normal lagi? Kita menikah, Sayang. Aku akan perlakukan kamu sebagai istri yang sangat kuhormati dan kusayangi. Aku akan memanjakanmu, melindungimu, berikan apa saja yang kamu butuhkan, dan kamu nggak akan butuh siapa-siapa lagi selain aku,” katanya lembut. Namun, tiba-tiba dia berubah garang, “Kamu pilih! Mau jadi ratu segala cintaku atau mau aku lebih gila lagi?! Mau rasakan yang lebih sakit lagi daripada ini?! Jangan kira aku nggak berani, Sayang!” Gigi laki-laki itu bergemeretuk menahan amarah.
Perempuan itu merasakannya. Dia tahu kegetiran yang ditanggung laki-laki itu. Dia tahu, lelaki itu mampu lakukan apa saja dalam keadaan terdesak, termasuk kepada dirinya. Namun, dia tidak takut. Bukan itu yang dia takutkan.
“Andainya bisa, Ju....” Lirih, perempuan itu berkata. “Andainya bisa, aku ingin lakukan apa pun untuk bahagiain kamu. Tapi, kamu tahu, semua itu nggak mungkin! Begini saja kita sudah saling menghancurkan sebegini parah, Ju. Lalu, bagaimana kalau kita menikah? Ingat, Ju, kita kembar! Kita nggak mungkin menikah! Kita nggak mungkin jadi satu!”
“DIAM!!! Berhenti bilang kita kembar! Kita beda, Sa, beda! Asal kita beda, usia kita beda, darah kita beda! Ditelusuri dari sisi mana pun, kita nggak punya hubungan darah sedikit pun—semua beda! Kembar dari mana?!” teriak si lelaki.
“Kita sudah sering bahas ini sebelumnya, Ju. Kamu tahu apa yang kumaksud. Kamu juga tahu, aku punya kekuatan yang sama denganmu. Kita cuma akan saling menghancurkan kalau kita bersatu! Lagi pula, kamu tahu, aku punya seseorang yang sungguh-sungguh aku cintai. Kalaupun aku bisa dan hendak menikah lagi, hanya dengan DIA-lah aku akan menikah!” tegas sang perempuan.
“Cukup, Sa! Berhenti bicara tentang DIA! Kamu harus jadi milikku! Cuma milikku, mengerti?!”
Darah lelaki itu menggelegak. Tangannya bergerak hendak mencekik perempuan di hadapannya yang tetap saja tak mau mengalah.
“Cekik aja. Ya, bunuh aja aku!” tantang perempuan itu.
Tangan lelaki itu menegang di udara. Dia tak sanggup....
Dia berlutut lemah di hadapan perempuan itu. Wajahnya menampakkan kegetiran. Kemarahannya telah lenyap. Beberapa detik kemudian, dia mengerang dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“Errrgh.... Kenapa, Sa...? Kenapa selalu seperti ini? Kenapa aku selalu nggak berkutik tiap kali berhadapan dengan kamu? Kenapa kamu nggak pernah mau menurut saja sama aku? Kenapa kamu nggak pernah mau membiarkan aku menang?” ratapnya---penuh tanya dan putus asa. Matanya basah.
Perempuan itu menggigit bibir. “Ju..., maafin aku....” Dia berbisik.
Lelaki itu mendekat. Dahinya ia dekatkan ke dahi perempuan itu. Tangannya meraih tengkuk perempuan itu, merengkuh kepala sang perempuan kuat-kuat ke dadanya yang berguncang menahan sengguk. Tangis perempuan itu tak kalah perih terasa.
“Ju, kamu tahu..., ini bukan soal kalah-menang atau mengalah dan membiarkan kamu menang, tapi karena aku benar, Ju...,” bisik perempuan itu lagi di telinga sang lelaki yang masih memeluknya. Lalu, dia menjauhkan wajahnya, mengambil jarak agar lelaki itu bisa menatapnya, dan melanjutkan, “Karena aku tahu, bahagiamu yang sejati bukan dengan aku. Demikian juga aku. Kelemahanmu adalah kelemahanku. Kekuatanmu adalah kekuatanku. Ketika kuat, kita kuat bersama. Namun, jeleknya, kita cuma akan adu kekuatan meskipun kita tak menghendakinya. Kita akan selalu saling menyakiti dan menghancurkan! Ketika kita lemah, kelemahan kita pun akan berlipat dua. Bagaimana dua manusia yang sama-sama lemah akan mampu bertahan dari kerasnya hidup? Kita cuma bisa saling isi, saling melengkapi, dan saling membangun ketika kita menjadi sahabat dan saudara, Ju, bukan pasangan kekasih, apalagi pasangan yang terikat pernikahan! Percayalah...!” Kembali dia mencoba meyakinkan lelaki itu.
“Maafin aku.... Aku selalu nggak bisa apa-apa di depan kamu. Aku cuma lelaki rapuh yang tolol dan nggak berguna! Aku cuma pantas jadi budakmu, Sa....” Lelaki itu terus meratapi dirinya sendiri.
“Ssst, sudah, Ju. Jangan seperti itu. Kamu lelaki kuat, Ju, teramat kuat. Kamu selalu mampu membuatku melihat cerminan diriku dalam dirimu. Segala kekuatan dan kelemahanku ada di kamu, Ju....” Dia berhenti sejenak. “Dan, kamu...—kamu memang kuat dan penuh pesona. Kamu mampu lakukan apa pun kepada wanita mana pun yang kamu mau, kan.... Ingat?”
“Itu bukan aku! Itu aku yang sebelum ketemu kamu, dan aku benci diingatkan lagi pada masa-masa itu!” seru lelaki itu geram; masih pada posisi berlutut di hadapan perempuan yang sejak berjam-jam lalu dia ikat di kursi dengan kedua tangan di belakang.
“INI YANG AKU, SA. INI!” Dia menunjuk dadanya. “Ini aku. Aku yang cuma mengingini kamu...! Tapi, justru cuma kamu yang nggak pernah menganggap aku kuat dan penuh pesona!” Dia mendesah, lalu menggeleng-geleng sambil tersenyum pahit. “Shit! Aku cuma bisa kalah oleh kamu! Hahaha…. Puas, kamu?!”
“Juuu, cukuuup. Kamu nggak kalah. Kamu nggak pernah kalah dari aku...,” desis perempuan itu, lirih. Dia sangat lelah dan muak dengan keadaan itu, tetapi dia terus mencoba meyakinkan lelaki itu lewat kesungguhan yang dipancarkannya lewat matanya. “Percayalah, Ju. Kamu nggak pernah kalah dari aku. Kamu nggak …—”
“YA, KALIAN MEMANG TAK PERNAH SALING MENGALAH. TAPI, AKULAH YANG SESUNGGUHNYA MEMBUAT KALIAN BERDUA KALAH TELAK!”
Sesosok wanita bermantel hitam dengan tudung kepala tiba-tiba berkelebat muncul dari kegelapan dan berseru lantang sambil melompat dengan gesit ke arah mereka. Detik itu juga, sebilah belati panjang langsung ditusukkannya bertubi-tubi ke punggung lelaki yang masih berlutut di hadapan sanderanya itu. Lelaki itu tak pernah sempat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang tiba-tiba menyerangnya.
“AAARGHHH...!” Tusukan terakhir yang ditancapkan kuat-kuat di punggung kiri lelaki itu membuat tubuh kekarnya ambruk sempurna ke dada perempuan yang duduk terikat di hadapannya, dan belati tajam itu tembus ke dada kanan si perempuan.
®
Baca lanjutannya:
INSECURED MIRROR #2 - BLEEDING AGAIN


Komentar
Posting Komentar