INSECURED MIRROR #3 - THE CONNECTION


 


SUDAH tiga tahun Daza mengenal Sasha lewat grup kepenulisan yang diasuhnya di Facebook. Sasha salah seorang anggotanya. Dia selalu suka dengan gaya tulisan-tulisan Sasha. Sasha juga terkadang memberikan komentar atau kritik terhadap tulisan anggota lain yang keliru. Cara Sasha menerangkan teori-teori kepenulisan kepada sesama anggota grup itu menunjukkan bahwa dia benar-benar memiliki kompetensi sebagai mentor dan editor. Karenanya, Daza ‘melamar’ Sasha untuk menemaninya menjadi admin di grup kepenulisan itu.

Daza merasa menemukan orang yang sepemahaman dan selevel dengannya. Karena, sering sekali dia menemukan orang-orang yang dengan bangganya mengaku diri sebagai “mastah” dunia kepenulisan dan memiliki banyak pengikut, tetapi membedakan “di” yang dipisah dan disambung saja masih salah, menulis kalimat yang benar saja masih belum bisa, bahkan teori-teori Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PU EBI) yang mereka ajarkan kepada para “pengikut” mereka terkadang sangat keliru. Kalaupun benar, alasannya yang ngaco. Pernah dia menulis begini kepada Sasha: “Duh, sampai pengin gigit besi, rasanya!” saking dia gemas dan geram melihat ulah para “mastah” itu.

Tentu saja Sasha menerima ‘lamaran’ itu dengan sangat antusias. Sasha juga mengagumi tulisan-tulisan Daza dan komentar atau kritiknya terhadap karya-karya anggota grup. Dia pun sering merasa jengkel dengan teori-teori ngaco yang diajarkan para “mastah” tersebut di grup-grup kepenulisan lain. Diajak menjadi admin membuatnya merasa mendapat kesempatan untuk membagikan sedikit ilmunya sekaligus meluruskan pemahaman-pemahaman para penulis pemula yang masih sering keliru atau ‘disesatkan’ oleh para “mastah” tersebut.

Asyik sekali mendiskusikan berbagai hal tentang dunia literasi—termasuk mendiskusikan cara ‘membantai’ para “mastah” itu—bersama Sasha. Dari situlah kedekatan mereka bermula. Dari situlah dia makin mengenal Sasha. Dari situlah dia—bukan; tepatnya: mereka—jatuh cinta. Dari situ jugalah, Daza berkali-kali merasa hatinya patah.

Sasha bukan miliknya. Dia istri orang. Dia punya suami dan dua anak. Itu pula sebabnya, selama tiga tahun, dia selalu menahan keinginan hatinya untuk menjumpai Sasha, untuk memandang mata perempuan itu lekat-lekat dengan tatapan penuh cinta. 

Kita dipertemukan untuk suatu tujuan mulia. Jadi, seidealis apa pun itu, sebaiknya kita tidak mengacaukannya.

Kata-kata itu terus diulang-ulangnya dalam chat pribadi dengan Sasha—demikian juga sebaliknya—setiap kali mereka sudah mulai terhanyut dalam rasa rindu yang terlalu menggebu. Itulah cara mereka saling mengingatkan, hingga kata-kata tersebut menjadi semacam jargon atau moto bagi mereka berdua. “Tujuan mulia” yang dimaksud tentu saja soal membagikan pemahaman berbahasa yang benar dan tepat kepada sesama penulis—terutama para penulis pemula.

 

¢

 

Sasha mungkin terlihat keras dan kaku bagi orang yang belum mengenalnya, tetapi ada kelembutan dan ketulusan kuat yang selalu terpancar dari hatinya dan membuat orang mengaguminya dan mengakui bahwa kesan pertama mereka ternyata salah. Daza setuju dengan pendapat itu. Dulu, saat dia pertama kali mengirimkan pesan pribadi lewat Messenger, dia juga merasa begitu. Sasha yang biasanya ramah di grup, di chat pribadi malah terkesan jutek. Rupanya, itulah cara Sasha memproteksi dirinya.

Sori, ya, Daz. Soalnya, aku sering  digangguin cowok iseng, sih, yang nge-chat dengan tujuan nggak jelas! Dibilang aku punya suami, masih aja berani ngerayu. Bahkan, ada juga yang terang-terangan ngajak selingkuh!” Begitulah alasan Sasha. Namun, setelah semakin akrab, Sasha adalah teman ngobrol yang sangat mengasyikkan.

Daza juga sepakat kalau ada yang menganggap Sasha bagaikan malaikat. Sasha selalu tulus menolong orang, tak pernah hitung-hitungan kalau sudah mengerjakan sesuatu yang mampu dilakukannya demi membuat orang lain bahagia.

Pernah, Sasha mendampingi seorang teman penulis yang memiliki trauma psikologis karena pacarnya bunuh diri. Sasha menjadi teman curhat yang teramat sabar bagi temannya itu. Bahkan, dia berhasil mendampingi temannya itu mengalihkan stres dan traumanya ke dalam tulisan sampai menjadi sebuah novel yang sangat bagus.

Pernah juga, Sasha sampai datang ‘mengemis-ngemis’ ke sebuah redaksi majalah—yang memang terkenal agak lambat dalam hal administrasi—agar honornya segera dicairkan, karena dia ingin membantu seorang ibu, tetangganya yang bekerja sebagai buruh cuci, yang butuh uang untuk berobat.

Sialnya, ketulusannya itu dilakukannya juga buat Juno, lelaki yang sangat terobsesi pada Sasha sendiri.

Semula, Daza merasa kesal juga saat mendengar cerita Sasha yang sering diperlakukan seenaknya oleh penyewa paviliunnya itu. Akan tetapi, Daza tahu, percuma dia komplain ataupun memaksa Sasha menghindari interaksi yang terlalu dekat dengan Juno, apalagi mengusirnya. Itu tidak mungkin. Daza akhirnya percaya pada Sasha.

Ini cuma ‘proyek amal’-ku lagi, Daz. Juno nggak beda dengan orang-orang lain yang sebelumnya pernah kutolong,” jelas Sasha dalam percakapan mereka di WhatsApp.

Kamu itu memang terlalu baik sama orang,” balas Daza. “Mending aku kirimi kamu uang untuk balikin uang sewanya, lalu suruh dia pergi.

Aku nggak bisa, Daz. Dia nggak jahat, kok. Aku selalu merasakan koneksi yang aneh antara aku dan dia dari pertama kami kenal... entah apa. Tapi, aku percaya intuisiku. Dia butuh pertolonganku. Dia cuma tampak arogan dan ngeselin di luar, tapi sebetulnya dia rapuh dan lemah di dalam. Aku cuma ingin dia bisa lebih bahagia, seperti aku sekarang bersama kamu.

Ya, tapi... dia nggak terlihat butuh kamu, Sa. At least, bukan ‘butuh’ dalam arti yang positif!

Nggak gitu juga, lah, Daz,” kilah Sasha.

Kamu yang cerita sendiri gimana seringnya dia bikin kamu kesal dan marah. Apa lagi yang masih kamu harapkan dari dia? Dia itu nggak sopan banget sama kamu!” Daza protes.

Dia cuma pura-pura nggak butuh. Dia butuh aku untuk jadi penyeimbang hidupnya. Dari sisi aku pun, melihat dia rasanya aku seperti melihat diriku sendiri, kelakuan-kelakuanku sendiri. Justru omelan-omelannya itu bisa bikin aku banyak berintrospeksi belakangan ini. Aku, kan, juga suka marah-marah nggak jelas kayak dia itu. Aku baru sadar, ternyata bicara dengan nada tinggi itu ngeselin orang lain, walaupun terkadang aku nggak bermaksud marah atau kasar...,” jelas Sasha.

Okelah. Aku percaya sama kamu. Kamu hati-hati aja, ya. Lakukan yang menurutmu terbaik aja.” 

               

¢

 

“Daz...—” Terdengar suara panggilan pelan.

Daza tersentak dari lamunan panjangnya. Sasha sudah membuka mata dan baru saja memanggilnya lirih.

“Eh, Sa..., kamu udah bangun? Aku udah beliin makanan dari tadi tapi aku nggak tega bangunin kamu...,” ujar Daza kikuk.

“Nggak tega, atau sengaja, biar kamu ada kesempatan melamun sambil mandangin wajah aku?” goda Sasha.

“Hehehe..., enggak, lah. Buat apa juga melamun di depan kamu? Kalau mau melamun, kan, aku bisa tadi di jalan, atau di ruang tengah, atau di dapur...—” Daza masih beralasan.

“Halah..., bohong, ih. Aku, kan, sebenarnya dari tadi nggak pulas. Aku dengar, kok, waktu kamu masuk dan manggil aku tadi. Tapi, aku diam aja, pura-pura masih tidur, karena kamu terusnya malah bengong gitu sambil menatapi aku, hihi....”

“Iya, deeeh, aku memang melamun. Tapi, nggak apa-apa, dong. Kan, yang dilamunin juga kamu.” Daza mengaku. Senyumnya manis sekali di mata Sasha.

“Udah, ah. Mending makan, yuk. Aku tadi beliin bakmi ayam di restoran ujung jalan sana. Kamu suka, kan?” Daza menyodorkan bakmi ayam spesial yang dibungkus kotak makanan tahan panas dan membukakannya untuk Sasha.

“Iya, suka. Hm..., harumnya....” Sasha menerima kotak makanan itu. “Tapi, aku mau makannya di ruang tengah aja, ya, sambil nonton teve. Bosen di kamar terus,” kata Sasha sambil bangkit.

“Eh, hati-hati, Sa. Sini aku tuntun....” Daza langsung sigap meraih bahu Sasha.

“Iiih, apaan, sih? Memangnya sejak kapan aku nggak bisa jalan sendiri? Yang luka kan dadaku, bukan kakiku.” Sasha menepis lembut tangan Daza.

“Kamu itu, yaaa. Terima aja kenapa, ah. Kan, ini tandanya aku perhatian sama kamu.” Daza memaksa membimbing bahu Sasha.

“Iya, deeeh....” Sasha mengalah dan malah berjalan sambil membaringkan kepalanya di bahu Daza.

Yeee, dasar manja!” goda Daza.

“Biariiin.” Sasha malah makin menyurukkan kepalanya ke bahu lelaki itu.

“Sa, kamu duduk manis aja di situ dan makan yang banyak. Aku ambilin minum dulu bentar,” kata Daza sambil menunjuk sofa utama lalu berjalan ke dapur.

“Aku nungguin kamu aja,” kata Sasha sambil menyalakan teve.

“Ya, udah. Bentar, ya.”

®


Baca lanjutannya:

INSECURED MIRROR #4 - THE FEELING

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam