INSECURE MIRROR #5 - THE BEGINNING

JUNO mengacak-acak rambutnya kesal. Dia teringat malam-malam
sewaktu dia tak dapat tidur nyenyak karena wajah perempuan yang ketika itu belum
pernah dijumpainya itu terus membayang dan memenuhi pikirannya.
Perempuan yang aneh. Semua tentangnya terasa aneh.
Sejak pertama foto perempuan itu dilihatnya secara tak
sengaja di salah satu situs pertemanan, dia merasakan desiran hebat di dadanya.
Desiran itu sudah begitu asing terasa, karena terakhir dia merasakannya dua
puluhan tahun lalu... di masa remajanya—masa yang kemudian lebih banyak diisinya
dengan mengumbar cinta ke gadis mana saja yang dia inginkan dan yang juga
menginginkan dirinya, setelah dia kehilangan Thalia—cinta pertamanya, gadis
pertamanya.
Thalia meninggal seminggu sebelum kelulusan mereka dari
SMA, karena sakit yang tiba-tiba merenggut nyawa gadis manis itu. Juno tak
pernah benar-benar tahu penyakit apa itu, karena keluarga Thalia seakan
merahasiakannya. Yang jelas, dia kehilangan. Sangat.
Rasa kosong di hatinya tak pernah berhasil diisinya
dengan kehadiran siapa pun yang lain, meskipun dia sudah berusaha melupakan
Thalia dan berusaha mencintai banyak gadis lain.
Rasa kosong itu menetap permanen, sampai usianya
mendekati 40 tahun—38, tepatnya—sekarang ini.
Mata Juno tak lepas dari layar monitor. Lama ditatapnya
wajah itu. Ada gurat kemiripan antara perempuan dewasa berusia 35 tahun itu dan
Thalia. Tidak terlalu cantik, tetapi menunjukkan aura ketulusan.
Setoreh perih menggores dadanya, berbarengan dengan
desiran hebat itu....
Aku tak boleh
kehilangan lagi!—tekadnya.
Dia senang sekali ketika permintaan pertemanannya
dikonfirmasi dan sapaan perkenalannya langsung dibalas. Dan, tiba-tiba timbul
suatu tekad yang lebih besar di dalam hatinya: Aku harus memiliki perempuan ini, bagaimanapun caranya!
Dia menjadi marah ketika perempuan bernama Sasha itu menganggap
kata-kata “Sayang” yang dia ucapkan seakan hanya gombalan seorang “playboy cap kucing” belaka. Dari jawaban-jawabannya
yang semula ramah
dan menyenangkan, perempuan itu berubah memagari diri dan mengingatkan dengan
keras bahwa dia punya suami dan hanya ingin berteman. Tidak lebih.
“Aku juga punya
istri, Sayang. Memangnya kenapa kalo aku ingin memiliki kamu?” tulis Juno.
“Kalo kamu ngajakin
selingkuh, sori, aku nggak bisa. Aku cuma mau berteman biasa.” Sasha
membalas tegas.
“Sayangnya, kamu
salah orang kalo kamu cuma mau berteman dengan aku. Temanku udah banyak! Aku
butuhnya orang yang benar-benar mencintai aku.”
“Ya, carilah kalo gitu. Semoga cepat ketemu, ya!”
“Udah ketemu, kok. Ya, kamu orangnya, Sayang.”
“Aku udah bilang, aku nggak bisa!”
“Izinkan aku lebih mengenalmu, Sayang....”
“Mau lebih kenal silakan, tapi tolong jangan pakai
‘sayang-sayangan’ gombal itu, deh. Aku serius!” tegas Sasha lagi.
“Aku juga serius. Aku orang yang nggak suka bercanda untuk
hal-hal seperti ini. Ini bukan gombal. Kalau aku bilang sayang, itu berarti aku
sayang beneran!”
“Baru kenal langsung bilang sayang, gimana bukan gombal
itu namanya?”
“Aku juga nggak ngerti kenapa bisa gini, Say... tapi sumpah,
aku langsung jatuh cinta begitu lihat foto kamu!”
“Makasih udah ‘fall in love at the first sight’ gitu sama
aku. Tapi, sekali lagi, maaf, aku nggak bisa balas. Aku, kan, udah bilang: aku cuma
mau kita temenan biasa.”
“Aku juga udah bilang, aku nggak butuh teman biasa. Temanku
udah terlalu banyak!”
“Ya,
udah, kalo gitu. Aku blokir, ya!” balas Sasha.
“Yah...,
jangan gitu, dong. Okelah, aku turuti maunya kamu. Kita temenan biasa aja. Deal?”
Akan tetapi, pesan terakhir itu tak pernah terkirim. Sasha
sudah langsung memutuskan akses bagi Juno untuk menembus inbox-nya.
“Shit! Sial! SIAAALLL!” maki Juno.
Namun, dia tak putus akal. Dengan menggunakan akun
samaran yang cuma dipakainya di saat-saat tertentu, dia berselancar lagi
mencari info tentang Sasha Nariswari, perempuan itu. Dan, dia menemukan cukup
banyak informasi yang dibutuhkannya. Sasha adalah seorang penulis, juga penerjemah
dan editor lepas. Dia tinggal di sebuah kota yang berjarak dua-tiga jam dari
Jakarta. Cerpen dan sajaknya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Dia juga sudah
menulis beberapa novel.
Persetan dengan status married-nya dan anaknya yang dua orang. Pokoknya, aku
harus cari cara untuk mendapatkan dia!—tekad Juno dalam hati.
Sejak itu, setiap malam, setelah istrinya tidur, dia
punya kebiasaan baru yang terasa menyiksa tetapi sungguh dinikmatinya: menatap
lama foto-foto Sasha yang dia screenshot
dan simpan di ponselnya..., merasakan rindu yang bergolak di dadanya..., membayangkan
dirinya berdekatan dengan Sasha..., dan menikmati malam-malam yang indah
bersama perempuan itu—bebas sebebasnya dari perempuan yang tergolek pulas di sampingnya
sekarang: perempuan yang membuat Juno harus berbagi tempat tidur sejak enam
tahun lalu.
Juno benar-benar tak tahan, tetapi mau tak mau dia harus
terus menjalani hari demi hari dengan suasana penuh tensi tinggi: kehidupan
rumah tangga yang penuh pertengkaran dan intimidasi dari istrinya—juga ibunya—yang
tak jarang berimbas pada pekerjaan dan hubungan dengan rekan sekantornya.
Dia merasa sangat jenuh dengan semua rutinitas monoton
yang menjemukan itu, yang selalu mengusik eksistensinya sebagai seorang
laki-laki, yang membuatnya hampir lupa bagaimana mesti tersenyum dan bagaimana
menikmati hidup.
Dia sungguh membutuhkan suasana baru..., dan mungkin... seorang
perempuan lain yang mampu memberinya bahagia utuh, yang mampu menghargainya
sebagai seorang pria dan kepala keluarga, yang memercayainya sebagai imam dari
keluarganya. Namun, dia hanya bisa
merutuki takdir dan memaki dirinya sendiri.
Halaaah..., itu semua bullshit! CU-MI! Cuma mimpi! Aku akan selamanya terikat di sini, pada
takdirku, pada karmaku! Tak akan pernah aku dapatkan perempuan lain seperti
yang kuimpikan, apalagi menjadikannya istriku...!
®

Komentar
Posting Komentar