INSECURED MIRROR #12 - THE REAL FEAR
LAMA Sasha duduk merenung di kamarnya. Dia makin tak mengerti akan ke mana
takdir membawanya. Selama bertahun-tahun, hidupnya selalu penuh pertengkaran dengan
Feus, karena suaminya itu tak juga mampu membuktikan diri sebagai kepala
keluarga yang bertanggung jawab. Ada warna yang berbeda sejak dia mengenal Daza
tiga tahun lalu. Keakrabannya dengan Daza di dunia maya sebagai sesama pegiat
literasi membuat mereka saling jatuh cinta. Kehadiran Daza menjadi penguat Sasha
menghadapi hari-harinya yang membosankan dan memuakkan; sekaligus memperkeruh rumah
tangganya yang sudah lama kacau.
Sasha sadar, tak seharusnya dia melarikan dari
kehidupan nyata yang harus dihadapinya sehari-hari, separah apa pun itu. Namun,
jika segala upaya yang dilakukannya untuk membangun rumah tangga yang normal
dengan Feus selalu jalan di tempat, bahkan kian tak tentu arah karena cuma usaha
dari dirinya sepihak, tak bolehkah dia merasa lelah lalu mengharapkan kebahagiaan
dari orang lain yang tulus mencintainya? Dia yakin, Daza akan mampu membebaskan
dia dari segudang masalah hidup yang melelahkan itu. Daza juga pasti mampu
menggantikan kehadiran Feus sebagai ayah buat Teyo dan Deiya.
Saat ini, Sasha masih mempertimbangkan
masak-masak niatnya untuk mengajukan perpisahan resmi setelah Feus pergi meninggalkan
rumah sekian lama tanpa berita dan tak pernah pula mengirimkan uang sepeser pun.
Rencananya, setelah urusan perceraian selesai, Sasha dan anak-anaknya akan
dijemput Daza untuk tinggal bersamanya. Lelaki bujangan itu punya rumah yang cukup
besar dan bisnis yang cukup mapan di kotanya. Dia akan menikahi Sasha dan
anak-anak Sasha akan punya keluarga baru yang bahagia.
Bukan hanya soal makan, uang sekolah, dan keperluan
anak-anaknya yang tak perlu lagi dia pusingkan setiap hari kalau dia bersama
Daza. Yang lebih utama dan lebih dia khawatirkan adalah kesehatan mental anak-anaknya
kalau terus hidup bersama orangtua yang tidak pernah sejalan. Mereka perlu
figur ayah yang mampu membimbing dan jadi panutan, sedangkan Feus jauh dari
figur itu. Yang mereka lihat sehari-hari hanyalah seorang laki-laki yang rajin
mengantar-jemput mereka sekolah—itu pun tanpa bicara apa-apa; tak beda dengan seorang
sopir. Setelah itu, dia langsung pergi tak jelas ke mana dan hampir tak pernah pulang
membawa uang—kadang malah pulang dalam keadaan mabuk.
Kalau Feus sedang ada di rumah, yang dilihat anak-anaknya
hanya dua: Papa yang bertengkar dengan Mama, atau Papa yang sibuk menggosok-memoles
koleksi batu akiknya dan sama sekali tak boleh diganggu. Feus tak pernah peduli
anak-anaknya sudah makan atau belum, atau ingin jajan sesuatu, atau butuh beli
buku pelajaran. “Minta uang sama Mama aja, sana! Papa, kan, cuma punya
batu. Mau kamu makan batu? Bisa kamu beli buku dibayar dengan batu?” jawabnya,
mengucapkan balik sindiran yang sering diucapkan Sasha. Atau: “Main sendiri,
sana! Kalian nggak lihat Papa sibuk?!” teriaknya kalau Teyo atau Deiya
mengajak bermain.
Sasha ingat pertengkaran terakhirnya dengan
Feus malam itu.
“Aku udah benar-benar nggak tahan lagi
sama kamu! Pokoknya, jauhkan semua batu itu dari hadapanku, atau aku buang
semuanya!” teriak Sasha.
“Enak aja kamu ngomong! Ini berharga
semua, tahu! Kalau dijual nilainya bisa puluhan juta!” elak Feus.
“Lalu, kenapa nggak kamu jual-jual juga?!
Kamu memang nggak pernah mikirin anak-anakmu! Mereka udah
tiga bulan belum bayar SPP, ngerti?!”
“Ya, gimana lagi kalau belum dapat pembeli yang
cocok? Manalah rela kulepas dengan harga terlalu rendah? Sabarlah sedikit lagi.
Kalau aku dapat pembeli yang bagus buat semua batu ini, semua uangnya akan
kukasih buat kamu dan anak-anak. Buat bayar SPP sekarang, pinjamlah dulu pada
tantemu atau sepupumu yang kaya-raya....”
“Pinjam lagi, pinjam lagi! Kamu nggak
nyadar, berapa banyak utang kita ke mereka yang belum kita bayar?! Enak banget
kalo ngomong!” potong Sasha kesal.
“Halah..., mereka toh nggak peduli juga
uang mereka kita kembalikan atau enggak. Uang mereka nggak akan habis
dengan kita pinjam beberapa juta aja,” jawab Feus enteng.
“Tapi, kan, aku yang malu, Fe! Malu!”
“Oooh, kalau gitu, pinjam ke cowokmu yang pengusaha
itu aja. Minta kirimi uang yang banyak sekalian!”
“Kamu memang suami berengsek, ya!”
“Dan kamu istri tukang selingkuh! Kamu berani
pacaran lagi dengan lelaki lain yang katamu lebih segala-galanya daripada aku. Bahkan,
kamu bilang udah nggak sabar ingin nikah sama dia! Kalau kelakuan
busukmu yang suka chatting-an mesra malam-malam itu nggak
kubongkar sebulan lalu, mungkin sekarang kamu udah kabur sama dia. Tunggu
apa lagi?!” radang Feus.
“Oke, itu memang salahku. Tapi, kalau aku nggak
kenal dia, mungkin aku udah lama gila gara-gara kamu! Nyatanya, meski
belum pernah ketemu muka, Daza beberapa kali udah jadi penyelamat keluarga
kita saat kamu nggak bisa kasih uang buat makan anak-anakmu!” Sasha terus
membela kekasihnya itu.
“Ya, udah. Tadi, kan, udah kusarankan
buat minta uang yang banyak sekalian ke dia. Kita nggak perlu ribut
begini dan selesai, toh, persoalanmu?!”
“Kamu memang suami nggak berguna, Fe!
Aku masih minta sama kamu karena keluarga ini masih tanggung jawabmu, bukan
dia! Aku juga nggak akan ninggalin kamu kecuali kamu duluan yang ninggalin
aku. Kita udah sering bahas ini, kan, Fe...,” desah Sasha.
“Bahasan yang nggak ada ujungnya!”
umpat Feus jengah.
“Memang nggak ada. Ini semua bagai
lingkaran setan selama kamu nggak mau berubah dan nggak peduli dengan
keluargamu! Belasan tahun aku bertahan hidup susah sama kamu, masih berharap
kamu bisa bikin keluarga kita bahagia dan sejahtera dengan kerja yang benar, hidup
yang benar. Tapi, kamu malah makin tergila-gila dengan batu-batu menjijikkan
itu. Dari pertama booming dulu, hingga sekarang peminatnya udah
hampir nggak ada, masih aja kamu berkutat dengan batu-batu aneh
itu! Mau sampai kapan?! Aku nggak tahan lagi, Fe!” Sasha meledak lagi.
“Kamu benar-benar mau aku pergi? Oke, besok
aku akan pergi, biar kamu bebas mau ngapain aja dengan pacarmu itu! Aku nggak
akan jadi penghalangmu lagi! Puas?!”
seru Feus.
“Terserahlah! Aku nggak peduli lagi!” Sasha
meninggalkan Feus, mengurung diri di kamar kerjanya.
Ternyata, itulah kali terakhir dia melihat Feus.
Lelaki itu pergi ketika seisi rumah masih tidur. Hanya sebuah pesan WhatsApp
yang dikirim Feus: “Aku pergi seperti maumu. Aku akan kirim uang kalau dapat.
Nggak usah tunggu aku lagi. Toh, aku udah nggak berguna di mata kamu. Bye.”
Dan, begitulah. Sasha lega, hari-hari
pertengkarannya sudah berakhir. Dia bisa memulai hari-hari baru dengan lebih enjoy,
meskipun kondisinya sama saja: dia masih tetap harus berjuang untuk menghidupi
dirinya dan anak-anaknya. Untunglah, dia masih memiliki rumah dan paviliun warisan
almarhum orangtuanya itu. Bagaimanapun, paviliun tua itu masih membantu menyelamatkan
ekonomi keluarganya meskipun Sasha harus mencari tambahan dengan mengirim tulisan
ke media massa dan mengajar les privat. Untung juga, paviliunnya tak pernah
kosong berlama-lama. Yang terakhir ini pun hanya seminggu kosong setelah penyewa
sebelumnya pindah. Namun..., kenapa harus Juno yang jadi penyewanya?
Sasha takut, karena Juno bukan tipe orang yang mudah
ditolak dan oke-oke saja menerima penolakan. Sasha takut, karena dalam waktu
singkat saja Juno berhasil merebut perhatian Teyo dan Deiya, dan kini Juno semakin
berusaha merebut hatinya. Sasha takut, karena dia tak bisa lagi menghindar
dengan memblokir akun-akun Juno seperti dulu. Orang itu nyata ada di depan
matanya. Sasha tak mungkin mengusirnya karena Juno sudah membayar sewa paviliun
dan uang makan untuk enam bulan ke depan, dan keluarganya membutuhkan uang itu.
Sasha takut pula, karena sejujurnya, kehadiran Juno membuat dia merasa lebih
aman dan terlindung karena di dekatnya ada orang yang peduli dan siap membantu keluarganya.
Bagaimanapun, Juno jauh lebih manis dan perhatian dibanding ayah kandung anak-anaknya. Namun,
Sasha takut dengan sikap Juno yang kadang tiba-tiba berubah provokatif dan
intimidatif. Lelaki itu bisa berbuat apa saja tanpa bisa ditebak. Akan tetapi, ada
satu hal lain yang membuat Sasha lebih takut lagi dibanding semua itu.... Dia
paling takut pada dirinya sendiri; pada perasaannya sendiri.
®
Baca lanjutannya:


Komentar
Posting Komentar