INSECURED MIRROR #2 - BLEEDING AGAIN

 





SASHA tersentak dan bangkit mendadak. Peluhnya bercucuran. Lagi-lagi peristiwa tragis itu terpapar dengan begitu jelas di dalam mimpinya. Terbayang lagi wajah seorang wanita yang begitu menakutkan, menatap tepat ke dalam mata Sasha dengan penuh dendam. Di tangan wanita itu sebilah belati berkelebat. Lalu, berkali-kali dirasakannya belati itu menghunjam tubuh Juno yang sedang berlutut dengan posisi memeluk dirinya.   

Dada kanan Sasha tiba-tiba terasa sangat perih, lagi.

Ergh..., auuuw!” erangnya. Tangannya menekan dada bagian atasnya kuat-kuat.

Daza membuka pintu kamar Sasha yang tak terkunci dan bergegas menghampiri perempuan itu.

“Sa, kamu udah bangun? Dadamu sakit lagi...?”

Wajahnya panik. Segera lelaki itu menguak pelan bagian atas pakaian Sasha dan memeriksa perban yang menempel di area itu. “Berdarah lagi, Sa....”

Sasha hanya meringis, menahan nyeri.

“Aku mimpi buruk lagi, Daz...,” lirih Sasha mengucap.

“Aku ambilkan perban baru dulu, ya. Kamu jangan bergerak, Sa.”

Cekatan, lelaki itu mengambil perban baru dari kotak obat di meja kecil di samping tempat tidur lalu menggantikan perban sebelumnya yang telah bernoda darah.

“Nanti kita ke dokter, ya. Aku benar-benar nggak ngerti kenapa lukamu bisa begini terus,” katanya khawatir, sambil tangannya membubuhkan obat antiseptik dan menempelkan perban yang baru.

“Lukamu, kan, nggak dalam. Jahitannya juga nggak terlihat robek. Mungkin ada infeksi di dalam atau perlu dijahit ulang. Nggak seharusnya lukamu terus berdarah seperti ini setiap kali kamu bergerak mendadak,” imbuh Daza.

Sudah selesai. Lelaki itu bangkit, hendak membuang perban ke tempat sampah dan mencuci tangan.

“Juno, Daz...,” gumam Sasha lirih.

“Apa, Sa?” Lelaki itu menoleh.

“Ju-no....” Sasha menangis. “Lukaku berdarah setiap kali aku teringat dia...,” katanya lamat-lamat.

Daza berbalik menghampiri Sasha. Perban yang hendak dibuangnya dia letakkan di pinggir meja, dan segera dia memeluk perempuan itu.

“Kamu harus relakan dia, Sa. Kamu nggak boleh menyakiti dirimu sendiri terus seperti ini. Juno udah nggak ada....”

“Maafin aku, Daz. Nggak seharusnya aku bersikap seperti ini. Cuma... aku masih sulit percaya bahwa Juno meninggal setiba-tiba itu... bahkan di pelukanku sendiri! Aku selalu merasa dia masih hidup dan kami akan ketemu lagi....” Mata Sasha menerawang. “Aku kangen dia, Daz. Kangen dimarahi dan dimaki-maki sama dia. Dia cerminku..., bayanganku....”

Air mata telah menggenang di pelupuk mata Sasha, tetapi dia segera mengusapnya dengan punggung tangan.

“Aku juga bisa maki-maki dan marahi kamu, jauh lebih sadis daripada yang sering dia lakukan.” Daza menanggapi dengan ketus.

Dia merasa, seharusnya dia cemburu berat pada laki-laki itu—yang telah berusaha merebut Sasha-nya dan membuat perempuan itu terluka. Namun, entah mengapa, dia hanya bisa berpura-pura marah. Lagi pula, untuk apa lagi cemburu pada seseorang yang telah tiada?

“Masa? Coba aja. Kamu nggak akan tega marahin aku,” ledek Sasha dengan senyum menggoda.

Wajah perempuan itu kembali berbinar ceria. Dia tahu persis bagaimana sifat Daza. Lelaki itu bukanlah pencemburu buta, juga bukan seorang yang overprotektif. Sasha tahu, cinta Daza kepadanya tak perlu diragukan lagi. Utuh. Bulat.

“Aku memang nggak akan tega...,” ucap Daza sambil merengkuh Sasha ke pelukannya, “karena kamu terlalu berharga untuk aku marahi, Sa.” Dia mengecup kening Sasha.

“Bahkan, ketika aku memikirkan laki-laki lain yang selalu menganggap kamu saingan beratnya?” Sasha masih tersenyum menggoda. Dia merasa amat tersanjung diperlakukan seperti itu oleh Daza.

“Karena aku tahu hatimu, Sa. Kamu nggak pernah mencintai Juno seperti cintamu padaku. Itu saja sudah cukup buatku. Kamu nggak tahu gimana khawatir dan takutnya aku melihat kamu terluka dan pingsan saat itu. Aku sungguh takut kehilangan kamu. Aku sangat menyesal kenapa aku terlambat menemukan kamu malam itu....” Daza menatap mata Sasha.

“Udahlah, Daz. Kan, aku udah nggak apa-apa. Aku tahu kalau aku telah memilih yang terbaik, yaitu kamu,” balas Sasha. “Makasih banyak, ya.” Dikecupnya pipi lelaki itu. “Aku nggak tahu bagaimana aku bisa melalui semua ini tanpa kamu....”

“Ya, udah, Sa. Pikirkan kesehatanmu dulu. Kamu harus segera pulih, biar bisa segera kubawa jalan-jalan ke tempat-tempat impian kita, seperti sering kita angankan dulu. Kamu tiduran lagi aja, ya. Aku mau beli makanan dulu. Nanti sore kita ke dokter.”

Daza membaringkan tubuh Sasha dengan lembut. Dia bangkit dan mengambil perban dan perlengkapannya yang tadi tak jadi dibawanya ke luar. “O, ya, kamu mau makan apa?”

“Terserah kamu, deh. Kan, aku selalu suka apa pun yang kamu kasih buat aku,” senyum Sasha.

“Oke, aku tinggal dulu sebentar, ya, Sayang....”

Bye, Cinta.....” Sasha melambai lembut, lalu menarik selimutnya lagi dan memejamkan mata lagi.

Daza tak langsung beranjak. Dia malah tetap duduk memandangi wajah perempuan di hadapannya itu.

Terbayang lagi di benak Daza kejadian dua minggu lalu.

Dari bandara, dia memaksa sopir taksi meluncur secepat-cepatnya ke rumah Sasha, karena firasatnya mengatakan, sesuatu yang buruk akan—atau malah sedang, atau bahkan mungkin sudah—terjadi. Ponsel Sasha masih tak bisa dihubungi setelah perempuan yang sangat dicintainya itu mengirimkan pesan singkat: “Tolong aku!”

Semula, Daza hendak mengetuk pintu depan rumah utama, tetapi dilihatnya pintu itu sedikit terbuka. Dia langsung masuk dan memanggil-manggil Sasha sambil mencari-cari ke segala ruangan, tetapi tak ditemukannya siapa pun di situ.  

Tiba-tiba, didengarnya suara jeritan dan teriakan dari arah paviliun di samping rumah. Segera dia berlari ke sana. Saat dia sampai di ambang pintu paviliun gelap itu, tampak kelebat bayangan seseorang berjubah panjang sedang menghunjamkan sebuah belati ke punggung sosok lain yang berlutut di depannya, berkali-kali... dan, di depan lelaki itu, seorang perempuan yang duduk dengan tangan terikat menjerit ketakutan... dan kesakitan!

“SASHA!!!” teriaknya kaget.

“HEI, HENTIKAN!!!” Segera dia berlari ke arah orang itu, hendak menyergapnya dari belakang dan merebut belatinya. Namun..., terlambat! Benda tajam itu telah tertancap di punggung korbannya, dan sosok yang penuh luka itu seketika jatuh terkulai ke pelukan Sasha. Ujung belati yang menikam punggung kirinya tembus ke dada perempuan itu.

Sang penusuk melawan dengan ganas dan berteriak-teriak marah seperti orang kesetanan saat Daza berusaha meringkusnya. Perempuan yang tak dikenal Daza itu terus berusaha mendekati sosok berdarah-darah yang baru saja tertikam itu, sekaligus mendekati Sasha. Daza menduga, yang tertikam adalah Juno—karena dia belum bisa melihat wajahnya. Sepertinya, sang penjahat ingin mencabut belati dari tubuh korbannya dan ingin membunuh Sasha juga. Yang ada di pikiran Daza cuma satu: dia harus segera menyelamatkan Sasha! 

Beberapa jurus bela diri Daza akhirnya mampu membuat sosok itu tak sadarkan diri. Daza segera menelepon polisi dan ambulans. Dengan hati-hati, dia menarik tubuh lelaki yang tertikam itu, memindahkannya ke lantai—tanpa terpikir untuk mengecek apakah orang itu masih hidup atau sudah matilalu buru-buru mendekati Sasha dan membuka tali yang mengikatnya. Cuma Sasha yang dikhawatirkannya.

“Sa, bangun, Sa! Ini aku, Daza. Sudah aman sekarang. Kamu nggak apa-apa, kan?” Dia berusaha menyadarkan Sasha sambil dengan saputangannya berusaha menekan dada kanan Sasha yang terluka agar darahnya tidak terus keluar. Namun, sepertinya Sasha terlalu lemah untuk sadar sepenuhnya. Dia hanya membuka matanya sedikit dan mengeluarkan gumaman tak jelas, lalu kembali pingsan.

Daza memeluk Sasha erat-erat sambil menahan air matanya. Tak disangkanya, pertemuan pertamanya di dunia nyata dengan Sasha akan serupa ini.

 

®


Baca lanjutannya:

INSECURED MIRROR #3 - THE CONNECTION

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam