INSECURED MIRROR #10 - THE FIRST NIGHT
MALAM
itu, akhirnya Sasha benar-benar tidak bisa tidur sampai dini hari. Kejadian siang harinya
terbayang lagi di kepala Sasha.
Saat Juno membawa anak-anaknya ke paviliun, diam-diam
Sasha mengikutinya. Lalu, masih diam-diam pula, dia memperhatikan dari balik
dinding selama beberapa waktu. Aman, kok. Juno tidak menampakkan gelagat aneh.
Deiya dan Teyo juga tampak nyaman bermain dengan Juno. Dia tampaknya
benar-benar menyukai anak-anak dan dapat dengan mudah akrab dengan anak-anak. Apa
dia sendiri punya anak...? Sasha
belum sempat menanyakannya. Dia balik ke dapur, mencuci piring. Setelah itu,
dia membuka laptop, sibuk mengomentari karya anggota grup kepenulisan di
Facebook, yang diasuhnya bersama Daza.
Dua jam setelah Teyo dan Sasha pergi bermain di paviliun,
mereka kembali tanpa diantar Juno. Kata Teyo, Om Juno mendapat telepon dari
kantornya lalu disuruh ke kantor lagi, sehingga permainan pun harus mereka
sudahi.
Sasha tidak tahu jam berapa Juno kembali, karena dia
tidak mendengar bunyi pagar dibuka orang. Memang, orang di dalam rumah utama
tidak selalu bisa mendengar bunyi pagar dibuka, karena jarak rumah dan pagar
cukup jauh, dibatasi oleh halaman yang luas. Kalau di dalam rumah televisi
sedang diseteldengan volume lumayan keras atau anak-anak sedang berisik, pasti
tidak ada yang tahu jika penghuni paviliun datang ataupun pergi. Akan tetapi,
itu memang bukan masalah buat Sasha. Selama ini, orang-orang yang bergantian
menyewa paviliunnya memang memegang kunci sendiri, dan paviliun itu bisa
dicapai lewat halaman samping, tidak harus melewati depan rumah utama dulu.
Tentang Juno sendiri, Sasha tak merasa perlu tahu apakah
pada jam makan malam tadi Juno sudah kembali atau belum. Dia merasa berlebihan
kalau sampai mengajak Juno makan malam pula. Tak ada alasan untuk
menganakemaskan penyewa baru itu dari penyewa-penyewa sebelumnya. Toh,
perkenalannya dengan Juno di dunia maya sebelumnya juga bukan perkenalan yang
indah. Sasha memang tak punya alasan untuk menganggap Juno berbeda. Dan,
perasaan anehnya selama ini tentang Juno pun bukan alasan yang logis sama
sekali. Termasuk alasan mengapa dia tak bisa tidur dan tak bisa melepaskan
pikirannya dari lelaki itu!
Masih dengan perasaan tak menentunya, Sasha bangkit dari
tempat tidur. Daripada lebih lama lagi membiarkan pikirannya berlarian ke
mana-mana, atau memaksakan diri tidur dengan risiko terlambat bangun, lebih
baik dia menyiapkan seragam anak-anak dan memotong-motong sayuran yang akan
dimasak untuk sarapan mereka. Namun, sampai semua itu selesai, jam baru
menunjukkan pukul 04.15.
Akhirnya, Sasha membuat kopi dan menyalakan laptop.
“Hai... Belum
tidur, Sayang?” Sebuah kotak pesan langsung muncul di monitor.
Sasha kaget. Juno
lagi! Dia tak ingat, kapan dia membuka blokir untuk akun Juno yang pertama itu.
“Pasti kamu nggak
bisa tidur karena mikirin aku, ya?” tembak Juno.
“Nggak, kok. Ini
baru bangun….” Sasha beralasan.
“Masa tidurnya sebentar
banget? Tadi jam dua belas lewat, aku masih dengar suara teve, lho, dari situ. Bener,
kan, kamu nggak bisa tidur?” Juno terus mencecar. “Soalnya, aku juga nggak bisa tidur, sih.... Kangen kamu terus!”
lanjutnya.
“Aku memang nggak
biasa tidur lama, kok. Beberapa jam udah cukup.” Sasha
terus berkilah dan tak mau menggubris kata-kata terakhir Juno.
Alasannya itu bukan bohong juga, sebenarnya. Dia memang
jarang bisa tidur lebih dari lima jam. Hanya saat dia benar-benar lelah atau
benar-benar tidak ada hal yang harus dilakukannya seharian, dia bisa membiarkan
tubuhnya beristirahat panjang tanpa memaksakan diri untuk bangun dan
beraktivitas kembali.
“Nggak usah malu mengakuinya,
lah, Sayang. Kan, aku udah ngaku kalo aku juga sama kayak kamu..., nggak bisa
tidur. Penginnya bobo bareng kamu....”
“Berhenti bicara
yang nggak sopan gitu dan berhenti manggil aku ‘Sayang’!” tegas Sasha
jengah.
“Atau apa...?”
“Nggak pake ‘atau’
apa-apa.”
“Kamu kok sekarang
mendadak takut gitu sama aku?”
“Dan kamu sekarang
sok baik-baik sama aku, biar aku mau nuruti semua mau kamu?! Jangan harap!”
“Aku nggak perlu
lakuin apa pun, kok. Seiring waktu, kamu akan cinta banget sama aku dan akan nurutin
apa pun mauku. Aku percaya itu!”
“Telan aja
percayamu itu! Nggak akan semudah itu, Ju!”
“O, ya? Mari kita
buktikan, Sayang!”
“Aku bilang,
berhenti panggil aku ‘Sayang’! Aku muak kamu panggil begitu!”
“Oke, oke. Aku akan
membiasakan diri memanggilmu ‘Sa’ aja. Itu mau kamu?”
“Iya, makasih.”
“Mm..., Sa...
(nggak pake ‘yang’, lho, ini...)”
“Apa?”
“Kamu kangen, kan,
sama aku?”
“Ngayal!”
“Ngaku aja, ‘napa?
Aku kangen banget, nih! Ketemu aja, yuk, daripada ngobrol di chat begini.... Aku ingin natap mata kamu
lagi....”
“Ogah. Apa kata
orang nanti? Dikira kita ada apa-apa....”
“Memang ada
apa-apa, kan? Ayolah, akui aja! Cuma antara kita berdua, kok....”
“Tolong jangan
paksa aku, Ju! Aku muak dengan gaya maksa-maksamu itu!”
“Eits..., siapa
yang maksa-maksa? Aku cuma mau bahagiain kamu, kok!”
“Tapi, aku nggak perlu
itu. Ngerti?! Udah, ya. Aku off dulu. Mau ngerjain yang lain. Kita ketemu
sebentar pagi aja.”
“Disediain sarapan
lagi, nggak? Masakan kamu enak banget, lho. Aku semalam nyesel
nggak bisa nolak ajakan bosku untuk makan malam bersama dalam rangka syukuran
kantor baru kami. Yang ada kebayang masakan kamu terus...!”
“Halah!”
“Serius, Sa! Aku
kelaparan sekarang. Boleh, nggak, aku minta sarapan?”
“Sori, ya, harga sewamu itu nggak termasuk makan. Enak
aja aku disuruh ngasih makan kamu tiap hari....”
“Kalo sekalian
makan tiga kali sehari, berapa aku harus nambahin? Dua kali lipatnya, cukup?”
“Gila, ya, kamu.
Mau bikin kantormu bangkrut?”
“Memangnya itu urusan kamu? Lagian, nggak mungkinlah
kantorku bangkrut cuma gara-gara uang makanku. Memangnya aku korupsi berapa
‘M’?! Jadi..., kamu mau, kan, masakin aku tiap hari?”
“Sori, aku nggak
ada waktu.”
“Kamu nggak perlu
masakin menu khusus, kok. Aku makan apa aja oke. Tinggal kamu banyakin dikit
porsi yang biasa kamu masak buat kamu sekeluarga. Beres, kan? Lumayan, lho,
buat nambah uang jajan anak-anakmu dan buat bayar ini-itu.... Daripada
nunggu-nunggu kiriman suamimu yang nggak jelas itu!”
“Kamu tahu dari mana semua itu…?” Sasha kaget.
“Teyo yang cerita. Eh, itu dia yang cerita sendiri, lho,
bukan aku yang tanya-tanya duluan!” Juno membela diri.
Sasha hanya bisa mendesah. Hhh..., anak-anak.... Mereka memang tak bisa menyembunyikan perasaan....
“Tolong jangan
bawa-bawa suamiku!”
“Sori.... Tapi,
gimana tawaranku?”
“Hmmm..., okelah. Ntar
aku mau masak tumis buncis sama telur dadar buat sarapan. Kamu mau?”
“Apa pun yang kamu
masak, aku pasti akan suka. Jam berapa aku bisa dapat sarapanku?”
“Mm..., abis aku
ngantar sekolah, ya, jam setengah delapanan, seperti waktu kamu ke sini
kemarin....”
“Huwaaa.... Masih
lama bener! Sekarang pun aku udah kelaparan, nih...!”
“Ya, udah, sarapan
bareng anak-anakku aja, jam 06.15. Oke?”
“Sip, kalo gitu.
Makasih, Sayang. Dadaaah...!”
“Hhhrgh!”
“Hahaha....”
“Mending kamu salat dulu, sana. Daripada pagi-pagi udah
ngerayu nggak jelas!”
“Hehehe..., iya, iyaaa. Btw, kamu kalo kesel tambah
cantik, deh! Aku bisa bayangin wajah cantik kamu dari sini....”
“Terserah, deh!
Bayangin aja sampe semaput, sana!”
Sasha langsung bangkit dan mematikan fitur chat-nya. Mulai sekarang dia harus lebih hati-hati. Juno bisa
mengganggunya kapan saja, dan karenanya dia harus mengatur kapan dia ada waktu
untuk mengobrol (atau bertengkar?) dan kapan dia sedang ingin serius menulis.
¢
“Hahaha....”
Juno tertawa-tawa senang. Ada kesenangan tersendiri yang dia rasakan tiap kali
dia menggoda Sasha.
Eh, tadi apa? Diingetin salat Subuh? Ah..., sudah berapa
lama tak pernah ada yang mengingatkanku semanis itu? Netta? Mana pernah! Sampai
aku berangkat kerja, dia sering masih tidur! Anak nangis-nangis pun dia bisa
tetap tidur pulas. Toh, ada baby sitter.
Hhhrgh....
Mengingat itu, Juno merasa rasa senangnya menguap sudah.
Kembali kekesalan dan kehampaan saja yang terasa. Namun, dia tak mau pagi
indahnya dirusak oleh hal-hal memuakkan apa pun. Maka, kembali diingatnya
kejadian-kejadian kemarin dan barusan. Besok-besok, akan makin terbuka banyak
kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan Sasha. Dan, barusan saja, satu lagi
langkahnya berhasil! Dia punya alasan untuk bertemu Sasha minimal tiga kali
sehari. Persis seperti dosis obat!
“Hahaha..., hahaha...,” tawanya lagi.
Juno merasa wajar-wajar saja kalau dia teramat senang.
Bahkan, mungkin bahagia—satu rasa yang sudah sangat lama tidak dia rasakan. Ups, belum semua. Ada satu lagi yang
sangat jelas dia sadari dan tak mampu dia hindari: hawa kemenangan!
®
Baca lanjutannya:
INSECURED MIRROR #11 - THE TEMPER


Komentar
Posting Komentar