INSECURED MIRROR #6 - THE KARMA

 









“PULANG pagi lagi, kamu? Mabuk lagi?! Kencan sama siapa lagi semalam, he...?! Kamu itu mau jadi apa, sih, Junooo?! Kamu anak Ibu satu-satunya, penerus tunggal keluarga Notodiprodjo! Kalau kamu begini terus, bagaimana Ibu bisa tenang dan bahagia, Nak? Kamu mau Ibu cepat mati???”

Perempuan di ambang enam puluhan, yang selalu berkebaya dan bersanggul anggun, itu kembali mencecarkan omelannya begitu dia melihat putra tunggalnya masuk ke rumah saat sinar mentari sudah menyapa bunga-bunga di taman. Biasanya, Juno sudah membalas ucapan yang membuat telinganya panas itu dengan sanggahan yang membuat ibunya makin kesal, lalu dia akan langsung naik ke kamarnya di lantai dua tanpa keluar-keluar lagi sampai sore. Namun, kali ini dia diam saja, lalu duduk dengan tenang di sofa, di depan ibunya, seakan mahasiswa yang siap mendengarkan ‘kuliah pagi’ dari dosennya.

“Umurmu sudah tiga puluh dua, Juno. Kamu mau jadi bujangan tua yang akhirnya tak laku lagi? Lagi pula, hidup kamu itu sudah terlalu kacau. Ibu ndak mau sampai tahu-tahu ada seorang gadis yang datang nangis-nangis ke Ibu, minta pertanggungjawaban karena kamu hamili, sementara orangtuanya yang kalap pergi melaporkanmu ke polisi! Ndak, ndak! Ibu bisa benar-benar jantungan kalau begitu!” lanjut sang ibu.

Juno teringat, sebulan lalu ibunya terkena serangan jantung begitu mendengar kabar tentang perusahaan konstruksi milik keluarga mereka yang lagi-lagi gagal memenangkan tender proyek besar. Untungnya, sang ibu masih dapat diselamatkan. Baru seminggu beliau keluar dari rumah sakit, setelah sempat koma dan dirawat intensif.

Peristiwa itu membuat Juno merasa harus berbalik arah. Dia sadar, dia sudah terlalu sering membuat kesal ibunya, dengan kelakuannya yang selalu berganti-ganti pacar dan mabuk-mabukan. Dia sadar, usianya pun sudah semakin tinggi. Sebenci apa pun dia dengan sikap sang ibu yang otoriter, dia tak mau ibunya keburu meninggal tanpa dia sempat menunjukkan bakti sebagai anak.

Lalu, sambil tersenyum Juno menjawab, “Aku nggak mabuk dan nggak kencan sama siapa-siapa, Bu. Aku cuma duduk menikmati live music di kafe sambil merenung sampai pagi. Tapi, aku nggak minum alkohol sama sekali, Bu. Sumpah. Nih, Ibu cium aja mulutku.”

Juno menyorongkan mulutnya ke depan ibunya yang malah bengong melihat tingkah aneh putranya itu.

“Kamu kesambet opo, tho? Ibu malah sampai nggak ngenali kamu...,” kata sang ibu dengan wajah curiga.

“Ibu ini, aku bertingkah ngaco dimarah-marahi; aku berusaha bersikap manis, masih salah juga. Jadi, apa mau Ibu? Ibu maunya aku gimana?”

  “Ibu, kan, sudah beberapa kali bilang, Ibu ingin kamu secepatnya menikah, biar kamu bisa hidup yang benar dan teratur. Ibu juga ingin kamu kerja yang benar, karena ada keluarga yang harus jadi tanggung jawab kamu. Netta gadis yang sempurna buat kamu. Ibu sudah mengenal Netta sejak dia masih kecil. Dia cantik, baik, sopan, dan dia putri sahabat lama Ibu ...—”

“Iya, Bu, iyaaa. Aku udah tahu lanjutannya. Dia putri sahabat Ibu yang punya banyak perusahaan dan masih berdarah biru juga. Sahabat Ibu itu sudah banyak membantu kita belakangan ini. Kalau ayah Netta tidak menyuntikkan dana ke perusahaan kita, mungkin perusahaan kita sekarang sudah bangkrut. Begitu, kan?” potong Juno. Dia sangat hafal semua itu, karena sudah puluhan kali ibunya berusaha menjodohkan dia dengan Netta, tetapi dia selalu menolak.

“Baguslah kalau kamu paham. Kita harus tahu diri dan tahu balas budi, Nak. Lagi pula, masa depanmu akan cerah kalau kamu jadi menantu keluarga Netta. Perusahaan keluarga kita juga akan aman...,” ucap ibunya lega.

“Bu, semalam aku banyak berpikir. Aku sadar, aku harus mikirin masa depanku dan jadi orang yang lebih bertanggung jawab. Aku ingin bahagiain Ibu. Jadi, iya, aku bersedia menikah dengan Netta.” Juno berkata dengan mantap.

“Sungguh, Nak...? Syukurlaaah! Ibu senang sekali mendengarnya...!” Sang ibu langsung memeluk Juno dengan erat.

Juno membalas pelukan itu dengan agak canggung, karena sudah lama sekali dia tak merasakan sentuhan hangat ibunya karena jarang sekali mereka akur. Sejak Juno remaja, ada saja ketidakcocokan yang membuat mereka cekcok.

“Bu,” kata Juno, merenggangkan pelukan ibunya. “Aku mau nikah dengan Netta seperti permintaan Ibu, tapi dengan satu syarat....”

“Apa syaratmu?”

“Ibu jangan paksa-paksa aku lagi untuk ngurus perusahaan kita, ya. Ibu, kan, tahu, aku sama sekali nggak paham soal konstruksi-konstruksian dan tender-tenderan. Bidangku bukan di situ, Bu. Semalam, aku ketemu teman yang mengajak aku kerja di perusahaan periklanan tempat dia bekerja. Gajinya lumayan dan prospek kariernya bagus. Boleh, ya, Bu...?” bujuk Juno.

“Tapi, bagaimana nasib perusahaan keluarga kita ini nanti kalau Ibu benar-benar sudah ndak kuat mengurusnya, Nak? Kamu tahu sendiri, paman dan sepupumu yang bekerja di situ semakin sering merongrong dengan ulah mereka yang merugikan perusahaan. Tapi, untuk memecat mereka Ibu juga ndak bisa. Bisa-bisa perusahaan itu mereka ambil alih...,” tukas ibunya, khawatir.

“Gini aja, Bu. Ibu mintalah ke ayah Netta untuk carikan direktur yang berpengalaman, tegas, dan bisa dipercaya, buat mengurus perusahaan kita dan mengamankannya dari musuh-musuh internal maupun eksternal. Jadi, Ibu bisa tenang dan aku juga bisa kerja sesuai dengan passion aku, Bu. Gimana?”

Ibunya mengangguk-angguk, lalu berkata dengan semangat, “Bagus sekali idemu, Nak. Ibu akan segera bicarakan persiapan pernikahanmu dan masalah pekerjaan ini dengan ayah-ibu Netta. Makasih, ya, Nak...!”

Juno tersenyum senang melihat ibunya bisa ceria lagi. Dia pamit, menaiki tangga menuju kamarnya.

Sang ibu menggumamkan doa syukur kepada Gusti Allah.

 

¢

 

Karma. Ya, peristiwa enam tahun lalu itu—ketika Juno memerintahkan dirinya sendiri untuk berubah dan dengan bulat hati menerima perjodohan dengan gadis pilihan ibunya—adalah karma yang harus dia jalani entah sampai kapan. Mungkin seumur hidup.

Dia pasrah. Itu karma dari perilakunya di masa muda yang selalu berganti-ganti pacar dan teman kencan setelah dia kehilangan Thalia. Karma dari gadis-gadis yang dulu dia permainkan tanpa rasa bersalah demi untuk menutupi kehampaan hatinya.

Tidak, bukan cuma itu. Yang paling utama dan paling tepat: itu karma warisan almarhum ayahnya. Dia hanya harus menjalaninya tanpa protes—sama seperti ayahnya yang dulu selalu menuruti apa pun yang diperintahkan atau dikehendaki ibunya.

Sebagai keturunan bangsawan yang masih berkerabat dekat dengan keluarga keraton di Jawa dan memiliki cukup banyak harta kekayaan, sejak muda sang ibu memang terbiasa memberi perintah dan terbiasa dituruti, apa pun maunya. Apalagi, ayah Juno hanyalah putra sahabat dari ayah sang ibu, yang tingkat ekonominya biasa saja dan tidak berdarah biru. Mereka dijodohkan karena orangtua ayah Juno pernah sangat berjasa menyelamatkan nyawa orangtua ibu Juno. Mereka menikah bukan karena cinta.

Juno tahu persis, sampai ajal menjemput ayahnya tiga tahun lalu, ayahnya tak pernah betul-betul bahagia. Hidup ayahnya harus selalu berada di bawah otoritas sang istri, tanpa mampu berbuat apa pun untuk mengubah posisi dan porsinya dalam keluarga. Dia hanya dimanfaatkan untuk mengurus perusahaan warisan keluarga. Meskipun berjabatan direktur, hampir segala keputusan perusahaan harus selalu melalui persetujuan istrinya. Demikian juga soal rumah tangga, hanya ‘titah baginda ratu’ yang berlaku. Dan, kini, semua karma itu harus menjadi takdir Juno!

 Dia kira, dia hanya harus menjalani ‘pernikahan politis’ seperti pernikahan keluarga-keluarga kerajaan zaman dulu. Ya, bukankah pernikahannya dengan Netta adalah taktik ibunya untuk menyelamatkan keluarga besar mereka dari kebangkrutan? Sialnya, bukan cuma itu.

Awalnya, Juno merasa tak menyesal sama sekali mendapat istri yang cantik, cerdas, dan sangat berkelas. Teman-temannya memuji keberuntungannya. Mantan-mantannya pun tak ada yang berani cemburu atau protes, karena mereka semua mengakui bahwa istri Juno itu berada di atas level mereka. Namun, ternyata, sudah enam tahun ini dia harus hidup dengan seorang perempuan memperlakukan dia persis bagaimana ibunya memperlakukan ayahnya. Sangat persis!

Segala kemauan Netta—seaneh apa pun—adalah perintah yang tak boleh ditolak. Jika Juno menolak dan melawan, akan melayanglah barang apa pun yang bisa dilempar dan akan hancurlah barang apa pun yang bisa dipecahkan. Dahi Juno pernah luka terkena pecahan guci yang dilempar Netta. Padahal, penyebabnya sepele.

Kenapa jam segini kamu baru pulang? Main perempuan lagi? Iya?!” sembur Netta begitu Juno masuk rumah. 

“Tolonglah, Netta..., jangan mulai lagi. Aku capek. Aku beneran baru selesai meeting, nggak dari mana-mana! Besok ada pemotretan iklan baru yang harus dipersiapkan matang-matang karena klien kami ini maunya semua perfect!

“Alasan! Kamu, kan, janji mau anterin aku shopping di butik Tante Martiny yang baru buka kemarin, tapi hampir jam sepuluh gini kamu baru pulang! Aku telepon berkali-kali kamu juga nggak jawab-jawab!

“Maaf, Nett. Tadi rapatnya penting banget. Aku nggak sempat lihat-lihat HP. Kan, biasanya juga kamu pergi sendiri....

“Tapi, kan, butiknya jauh dan aku nggak familier dengan daerah situ! Kamu lebih suka aku nyasar atau diculik orang???

“Astaga, Nettaaa! Kamu lebih mentingin ke butik dan nggak mau peduli suami kamu sibuk dengan kerjaan? Kamu kira aku masih sempat santai-santai sama cewek lain? Gimana aku bisa tahan di rumah kalau begini?!

“Junooo! Berani kamu ngelawan aku??? Dasar suami nggak berguna!!! 

Detik itu juga, sebuah guci melayang ke kepala Juno. Dia jatuh tersungkur dengan kepala berdarah. 



®


Baca lanjutannya:

INSECURED MIRROR #7 - THE BIG LUCK!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam