INSECURED MIRROR #15 - THE TRAGEDY
KEESOKAN harinya, saat matahari
belum terbit dan Juno belum menampakkan diri lagi untuk mengambil sarapan,
Sasha sudah memesan taksi online lalu mengungsikan Teyo dan Deiya ke
rumah tantenya. Dia bilang, dia ada pekerjaan di luar kota beberapa hari sehingga
tidak bisa mengawasi kedua bocah itu. Dia sudah meminta izin ke sekolah bahwa anak-anaknya
tidak bisa masuk sekolah untuk sementara waktu dan akan belajar sendiri di
rumah. Dia juga minta tolong ke wali kelas mereka agar PR dan materi pelajaran sekolah
dikirimkan melalui surel ke tantenya. Untunglah, adik almarhumah ibu Sasha itu
memang sayang pada anak-anak Sasha. Beliau tak keberatan membimbing mereka
belajar dan mengurus mereka selama beberapa hari.
Sasha sendiri menyewa sebuah kamar
kos murah yang bisa dibayar mingguan, milik salah satu kenalannya. Dia tinggalkan
rumahnya begitu saja tanpa pamit ke Juno. Koper-koper besar sudah dia siapkan
di kamarnya. Tinggal diangkut nanti kalau Daza datang menjemput satu atau dua
minggu lagi. Sementara ini, dia ingin menenangkan diri dulu sambil menyelesaikan
sisa order penerjemahan buku yang sedang dikerjakannya.
¢
Juno marah sekaligus khawatir
mendapati Sasha dan anak-anaknya menghilang. HP Sasha selalu dimatikan dan akun-akun
medsosnya juga tidak pernah online lagi. Tak satu pun pesannya yang
dibaca, apalagi dibalas Sasha. Dia menyesali kejadian sore itu. Dia ingin
meminta maaf dan berjanji tidak akan berbuat konyol lagi untuk mendesak Sasha.
Tak tahan didera berbagai rasa
yang berkecamuk di dadanya, setelah tiga hari Sasha masih tak ada kabar, Juno
akhirnya mendobrak pintu depan rumah Sasha. Rumah itu benar-benar tanpa
penghuni. Dia dapati, berbagai perabotan sudah dirapikan Sasha seperti orang
yang akan pindah rumah. Di kamar Sasha yang tak terkunci, bahkan sudah tersusun
beberapa koper. Dia makin kaget karena koper-koper itu penuh dengan pakaian
Sasha dan anak-anaknya, berbagai keperluan penting harian, juga berbagai
dokumen penting.
Gila! Apa maksudnya semua ini? Apa
Sasha akan pindah? Ke mana? Di mana dia sekarang? Juno sangat gusar. Dia mondar-mandir dengan gelisah di rumah kosong itu. Tidak!
Aku tak bisa membiarkan Sasha pergi. Sasha harus jadi milikku! Dengan marah,
dibantingnya vas bunga yang kebetulan ada di dekatnya. Lalu, dia terduduk lesu.
Sesaat kemudian, air matanya
mengalir dan suaranya yang penuh keputusasaan terdengar di antara sengguknya, “Sashaaa!
Ke mana kamu, Sayang? Jangan pergi, Sa.... Kamu harus sama akuuu!”
¢
Sasha menepuk jidatnya sendiri.
Karena terburu-buru mengangkut tas pakaian dan buku anak-anaknya, juga tas
laptop dan tas pakaiannya sendiri pada pagi tiga hari yang lalu, dia malah lupa
membawa flashdisk berisi dokumen tambahan dari kliennya yang harus
diterjemahkan juga. Benda kecil itu pasti tertinggal di laci meja kerjanya. Setelah
naskah utama selesai dia kerjakan, dia baru sadar bahwa fail dokumen tambahan itu
masih ada di flashdisk yang tertinggal itu dan belum sempat dia salin ke
laptopnya. Jadi, dia harus kembali ke rumah untuk mengambilnya.
Ah, apa-apaan semua ini? Kenapa
jadi sekacau ini? Kenapa aku harus menghindari Juno seakan dia itu psikopat
berbahaya? Ya, Tuhan.... Sudahlah. Aku yakin, Juno orang baik dan tak akan
menyakitiku.
Maka, siang itu, Sasha kembali
ke rumahnya. Juno pasti masih ada di kantornya, jadi tak mungkin kami
bertemu. Aku akan aman-aman saja. Sasha memantapkan diri sebelum berangkat.
Dia sudah mengabarkan juga kepada Daza bahwa dia akan kembali ke rumah sebentar
untuk mengambil flashdisk penting.
Sampai di rumah, dia curiga dan
bergegas masuk untuk memeriksa, melihat pintu depan terbuka dan agak rusak, seperti
habis didobrak. Dia sangat terkejut melihat pecahan vas bunga di ruang tengah,
lalu ada Juno yang sedang duduk di lantai bersandar tembok dengan pandangan
nanar dan mata yang bengkak seperti habis menangis. Di hatinya langsung tebersit rasa
khawatir melihat tampang Juno yang sangat acak-acakan itu.
“Kok, kamu ada di sini, Ju?
Pintu depan kamu yang dobrak? Kamu sakit?” Sasha langsung melontarkan
pertanyaan-pertanyaan itu.
Juno sama terkejutnya melihat
Sasha tiba-tiba datang. Dia langsung bangkit dan mendekati Sasha. Wajahnya langsung
berubah cerah. “Sasha?! Kamu ke mana aja, Sa? Kamu nggak apa-apa,
kan?” Juno memegang kedua lengan Sasha. Dia tak bermaksud menyakiti, tetapi rupanya
rasa girangnya melihat Sasha lagi membuat pegangannya terasa seperti
cengkeraman.
“Lepasin, Ju! Sakit!” Sasha
menyentakkan tubuhnya mundur beberapa langkah.
“Oh..., sori, sori. Aku
cari-cari kamu, Sa! Kenapa kamu tiba-tiba menghilang tanpa kasih kabar apa-apa
ke aku? Kenapa kamu nggak balas-balas telepon dan chat aku? Aku
terpaksa dobrak pintu untuk cari tahu kamu dan anak-anak ke mana....”
“Maaf, Ju..., aku...—” Sasha
bingung bagaimana menjelaskannya ke Juno. Dia takut Juno tersinggung dan marah
lagi.
“Kenapa? Kamu mau menghindari
aku?” desak Juno.
“Bukan gitu, Ju, tapi...—”
Sasha mundur hingga menempel ke tembok karena Juno terus mendekat.
“Jawab yang jujur, Sasha! Apa yang
kamu sembunyikan? Dan, kenapa barang-barang kalian ada di koper semua? Kalian mau
ninggalin aku?!” Juno mulai berteriak lagi.
Seperti biasa, alih-alih jadi merasa
takut, teriakan Juno malah membuat emosi Sasha tersulut. Keluarlah sikap
menantangnya. “Iya, kami memang mau pindah dari sini. Rumah ini mau kujual. Daza
akan segera menjemput kami dan membawa kami pindah ke kotanya. Aku dan dia akan
menikah setelah urusan perceraianku dengan suamiku selesai. Jelas?!”
“Apaaa?! Enggak, Sa! Kamu nggak
boleh lakuin itu! Kamu milik aku!!!” seru Juno. Kemarahan menguasai dirinya dan
menggerakkan tangannya untuk mencekik Sasha.
Sasha melepaskan tangan Juno dari
lehernya dengan kuat. Tangan Juno terlepas. Sasha menarik napas seraya menjauh
dari Juno. “Please berhenti, Ju, cukup! Tolong jangan sakiti aku
lagi.... Jangan sakiti juga diri kamu sendiri, Ju. Jangan....” Sasha mencoba
menyadarkan Juno.
“Tapi, kamu yang nyakitin
aku, Sa! Kamu yang bikin aku begini!” teriak Juno lagi.
“Maafin aku, Ju. Bisa kita
duduk dulu dan bicara baik-baik?” pinta Sasha, berusaha menenangkan lelaki itu
dengan ucapan yang halus. Dia sadar, kata-kata bernada tinggi hanya akan membuat
Juno semakin tak terkendali.
Juno berusaha mengatur napasnya
lalu duduk di sofa ruang tengah itu. Kepalanya sakit sekali.
“Ju, aku minta maaaaf banget,
karena aku nggak bisa memenuhi keinginan kamu. Aku benar-benar nggak
bisa membalas perasaan kamu. Aku udah punya rencana masa depan sendiri,
jauh sebelum ketemu kamu, Juno. Aku berharap banget, kamu bisa ngerti...,”
ucap Sasha lembut.
“Enggak, Sa. Aku nggak terima!
Tolong tinggalin dia, Sa. Aku yakin, akulah orang yang sesungguhnya kamu
butuhin dan cuma aku yang akan benar-benar bisa bahagiain kamu!
Kamu juga pernah bilang bersedia nikah sama aku, kan?!” Juno tetap ngotot.
“Kapan aku pernah bilang iya? Oh,
mungkin iya, tapi di bawah paksaan kamu waktu itu. Kamu mau aku nerima
kamu karena terpaksa? Ju, please. Aku lelah kamu perlakukan begini terus!
Kenapa, sih, kamu nggak mau ngerti juga? Tolong jangan rusak
rencana hidupku dengan paksaan-paksaan kamu, Ju...,” ujar Sasha putus asa.
“Kamu yang merusak rencana
bahagiaku dengan alasan-alasan konyolmu!” balas Juno. Dia berdiri dan hendak
mendekati Sasha lagi.
Sasha lebih cepat beranjak dan
berjalan ke arah kamar kerjanya sambil berkata, “Ju, aku ke sini cuma mau ambil
flashdisk kerjaanku, lalu aku harus pergi lagi. Kalau kamu di sini cuma mau
ngajak berantem yang nggak guna ini, aku beneran nggak punya
waktu, Ju. Mending kamu pergi, deh, dari sini.”
Juno mengejar dan menarik tangan
Sasha. “Enggak, Sa! Aku nggak akan pergi dan kamu juga nggak
boleh pergi ke mana pun! Sini, ikut aku!”
“Ju, lepasin! Aku perlu
ambil flashdisk itu di kamar kerjaku!” teriak Sasha.
Juno tidak memedulikan. Dia terus
menarik tangan Sasha dengan kasar ke paviliun. Sampai di ruang tengah paviliun
itu, Juno langsung mengambil kursi kayu yang ada di depan meja tulis, lalu
menaruhnya di pojok ruangan, sementara tangannya yang satu tetap memegangi tangan
Sasha. Kemudian, dia dudukkan Sasha di kursi itu.
“Diam di sini, kamu! Jangan bergerak!”
perintahnya.
Sasha tentu saja protes dan
hendak bangkit. “Kamu mau ngapain, sih? Mau sandera aku? Aku banyak
urusan, Juno!”
Juno menekan kepala Sasha dan mendudukkannya
lagi. “Diam di situ dulu, kubilang!” Dia mengambil tali tambang di atas meja,
lalu mengikat tubuh Sasha ke punggung kursi. Kedua lengan Sasha, dari lengan
atas hingga melewati siku, terjepit dalam ikatan. Jari-jari tangannya yang
dibiarkan bebas pun tak bisa berbuat banyak dengan posisi begitu, meskipun dia
terus berontak.
“Lepas, Ju! Tolooong!” Sasha
berteriak.
“Diaaammm!” Juno makin kalap. Dia
meraih lakban dari atas bufet di samping kursi itu lalu segera menyobeknya dan
menempelkannya ke mulut Sasha. “Nah, sekarang nggak bisa teriak-teriak
lagi, kan, kamu! Hahaha....” Juno tertawa keras-keras. Dia menertawai Sasha yang
terus berontak tetapi tak bisa berbuat apa-apa, sampai akhirnya Sasha merasa
tenaganya hampir habis dengan sia-sia.
Sasha pasrah, tetapi bukan
menyerah. Terserahlah apa yang mau dilakukan si sinting itu! Tapi, jangan
kira aku menyerah dan mengaku kalah. Aku akan cari cara untuk membebaskan diri
saat dia lengah!—tekadnya.
Sasha memperhatikan sekeliling,
mencari-cari benda di dekatnya yang bisa membantunya membebaskan diri. Di atas
meja ada sebuah gunting. Namun, segera pandangannya berubah putus asa. Letaknya
terlalu jauh. Bagaimana pula cara mencapainya dengan posisi terikat begini?
Lalu, dilihatnya Juno sedang
berdiri di ambang pintu paviliun, menghadap ke luar. Tangan Juno sibuk menekan-nekan
tombol HP. Sasha menunduk. Baru dia sadari, tas kecil yang dibawanya tadi masih
menyelempang di lehernya dan ikut diikat bersama tubuhnya. Tas itu sekarang menggeletak
manis di pangkuannya, dekat dengan jari-jemarinya. HP-ku, kan, ada di tas
ini! Ya! Aku akan berusaha mengeluarkannya lalu mengirim pesan ke Daza
atau siapa saja untuk minta tolong!
Sayang, secercah harapan yang baru
muncul itu harus segera diredupkannya karena saat itu juga Juno berbalik lalu mendekati
Sasha sambil berseru girang, “Sa, aku udah pesan tiket ke Bali malam nanti,
untuk kita berdua! Kita nikah di sana, ya, Sayang...!” Diusapnya pipi Sasha dan
ditatapnya perempuan itu dengan penuh cinta.
Sasha menggoyang-goyangkan
kepalanya, menghindari sentuhan dan tatapan Juno. Dia juga berusaha bicara
dengan mulutnya yang tertutup lakban, tetapi tentu saja hanya gumaman dan
erangan tak jelas yang terdengar.
“Apa, Manis? Kamu mau bilang
apa?” Juno menarik lakban dari mulut Sasha.
“Agh! Sialan kamu, Ju! Lelaki
norak! Kamu pikir kamu itu aktor film thriller?!” Sasha langsung
menyemburkan makian yang sejak tadi ditahannya.
Juno tertawa. “Ya, ampun, Sayaaang.
Kirain kamu mau menyatakan rasa bahagiamu karena mau kuajak ke Bali dan nikah
di sana. Eh, eh, ternyata kamu masih juga marah-marah. Liar sekali, sih, kamu
ini.” Tiba-tiba, suaranya berubah keras, “Mau aku tampar, he?! Kamu lebih suka
aku kasari baru mau nurut, iya???”
Tubuh Sasha bergetar, menahan amarah.
“Ma-maaf, Ju.... A-aku seneng, kok, diajak ke Bali. Tapi..., aku harus
siap-siap dulu, kan? Kalau diikat gini, aku nggak bisa ngapa-ngapain,
kan, Ju...,” ujarnya dengan agak terbata, pura-pura menunjukkan ketakutan dan
iktikad baik untuk menurut, dengan harapan Juno mau melepaskan ikatannya.
“Sasha, Sasha. Kamu pikir aku
bakal termakan trik klisemu? Hahaha.... Kamu itu terlalu nakal dan liar untuk
dengan mudahnya menurut meski kamu udah tak berdaya begitu. Kan, kamu
bilang, kita ini mirip; kepribadian kita kayak kembar, jadi udah terbaca,
lah, kalau kamu itu cuma lagi usaha agar aku melunak, mau bukain ikatan
kamu, lalu kamu akan lari dari aku, karena aku juga akan lakuin hal yang
sama kalau aku ada di posisi kamu! Bener, kan? Hahaha....” Juno terus
tertawa penuh kemenangan.
“Ju..., aku janji nggak
akan lari dan akan nuruti semua mau kamu. Jadi, nggak perlulah
kamu bertindak kriminal gini, Ju. Please....” Sasha terus membujuk. Juno,
yang kini sedang memencet-mencet entah aplikasi apa di ponselnya, pura-pura tak
mendengar.
“Ju....” Sasha memanggil lagi
setelah suasana hening beberapa saat. “Aku lapar...,” ucapnya lirih.
Kali ini Juno menoleh. Diliriknya
jam dinding. Sudah jam dua lewat. Dia baru sadar, dia sendiri pun belum makan
siang. Malah, sudah tiga hari ini dia hampir tidak makan karena terus
memikirkan Sasha.
“Kamu lapar, ya?”
“Iyaaa, perutku udah
melilit-lilit, nih, Ju. Kamu, kan, tahu kalau aku nggak bisa telat
makan...,” ucap Sasha lagi dengan memelas.
“Iya, iya. Aku juga lapar, Sayang.
Eh, kita makan bareng aja, yuk!” ujarnya, seakan mereka sedang berada dalam
situasi normal saja.
“Tapi, gimana aku bisa makan
kalau terikat gini, Ju?” Sasha juga berusaha menjawab dengan gaya normal dan
santai.
“Tenang ajaaa. Nanti aku bukain kalau
makanannya udah siap. Aku keluar dulu, ya, beli makanan di ujung jalan sana.
Tunggu aku, ya, Sayang....” Juno melambai dengan santai, lalu pergi begitu
saja.
Sasha tersenyum senang.Yes! Kena
juga dia! Kesempatan!
Segera tangannya berusaha
membuka tas dan mengeluarkan ponselnya. Berhasil! Buru-buru diketiknya
pesan WA ke Daza: “Daz, tolong aku!”
“Eh, apa-apaan kamu?!” Tiba-tiba
Juno menghambur masuk dan merebut ponsel Sasha, lalu langsung dilemparnya ponsel
itu jauh-jauh hingga berantakan. Untung saja pesan tadi sudah terkirim. Mudah-mudahan
Daza langsung membaca pesan itu karena sempat terlihat dia sedang online,
dan dia akan segera bertindak menyelamatkan Sasha.
“Kamu itu memang licik, ya!”
Juno menampar Sasha.
Sasha berteriak kesakitan.
“Untung aku balik lagi karena
dompetku ketinggalan. Kirim apa kamu barusan? Kirim pesan ke siapa? Pacarmu yang
nggak pernah berani nyamperin kamu itu? Atau ke polisi? Ckckck....”
Sambil berkata begitu, dalam hatinya Juno menyesal juga, mengapa tidak dia
hapus dulu pesan yang barusan dikirim Sasha sebelum dia membanting HP itu.
Sasha diam saja.
“Oke, sebagai hukumanmu, kamu nggak
akan dapat makan. Masa bodoh kamu kelaparan. Aku nggak mau ambil risiko
kamu macam-macam lagi. Jadi, ikatanmu aku benerin, ya.”
Dengan cepat, Juno membuka tali yang mengikat badan dan lengan Sasha dengan sandaran kursi. Sebagai gantinya, dia tarik kedua tangan Sasha ke belakang, lalu diikatnya pergelangan tangan Sasha erat-erat. Dari tangan Sasha, sisa tali yang masih cukup panjang itu dikelilingkannya lagi beberapa kali ke tubuh Sasha yang menempel ke sandaran kursi, tetapi hanya bagian perutnya. Ujung tali kemudian ditujukannya ke bawah. Diikatnya kedua kaki Sasha ke kaki kursi.
“Nah, sempurna!”
®


Komentar
Posting Komentar