INSECURED MIRROR #16 - THE LOSS





 

 

“APAAA??? … Pesawat di-cancel karena cuaca buruk? ... Besok pagi? Shit!” Juno mematikan telepon dari petugas tempat dia memesan tiket online tadi dengan kasar. Dia tak mau mendengar lagi penjelasan petugas itu.

Arrrghhh! Berengsek! Siaaalll!” Hampir saja dia membanting ponselnya. Dia sangat kesal karena rencananya lagi-lagi harus dipatahkan oleh keadaan.

Diraihnya botol bir di atas meja. Ditenggaknya lagi isi botol ketiga yang masih tersisa setengah itu. Di samping botol itu, dua lagi sudah kosong dan tergeletak sembarangan di meja. Habis dalam sekali teguk, botol kosong yang terakhir itu dilempar Juno ke tembok dekat Sasha yang masih duduk terikat. Pecahannya hampir mengenai perempuan itu.

Sasha tersentak kaget dan menghindar sebisanya ketika Juno melemparkan botol bir ke dekatnya. Sudah berjam-jam dia terikat di kursi itu. Mungkin tadi dia sempat tertidur saking lelah dan lemasnya, hingga secara samar didengarnya pembicaraan Juno di ponsel. Dia baru benar-benar terbangun dan refleks menjerit ketika pecahan botol bir yang dilempar Juno hampir mengenainya.

Beberapa saat kemudian, Sasha mendongak. Dilihatnya Juno duduk di sofa dengan muka kusut, mata merah, dan tampang putus asa. Tampaknya, Juno memang tak bisa lagi berpikir jernih saat ini. Apalagi, tubuh dan otaknya sedang dipengaruhi alkohol. Tadi, Juno baru saja berniat membuka ikatan Sasha dan menyuruhnya bersiap-siap karena mereka harus segera berangkat ke bandara. Telepon petugas tiket itu kontan membuyarkan rencana yang sudah tersusun indah di kepalanya. Azan Isya yang menggema dari masjid dekat situ cuma mengingatkan kedua insan itu bahwa hari sudah beranjak malam. Terlepas dari keadaannya sendiri yang kusut tak keruan, Sasha merasa kasihan juga melihat laki-laki itu. Dia harus berusaha mengakhiri kekonyolan ini.

“Ju…,” panggil Sasha. “Kamu akan ikat aku begini semalaman? Aku lelah, Ju…. Aku yakin, kamu juga nggak suka dengan situasi ini, kan?” lanjutnya pelan.

 Juno mendekat. “Aku hanya akan bebaskan kamu kalau kamu janji mau nikah dengan aku!” Sikap tegas dan keras kepalanya kembali lagi.

Sasha jadi marah dan berontak lagi, berusaha melepaskan ikatannya, meski dia tahu itu sia-sia.

“Kamu harus jadi milikku, Sayang! Berhentilah berontak. Makin kamu bergerak, ikatan itu akan makin menyakitimu!” seru laki-laki itu.

“Buka, Ju...! Sakiiit!”

“Diam, kamu!” Juno membentak dan menampar Sasha.

Aaarghhh...!

Tepat saat itu juga, berbarengan dengan teriakan Sasha, petir tiba-tiba membelah langit. Langit menurunkan hujan nan lebat.

Juno membungkuk sedikit, mengusap-usap bercak merah pada pipi Sasha dan meminta maaf. Kembali dia mengajak Sasha menikah. Kali ini dengan ucapan yang lembut. Namun, Sasha menentangnya lagi. Lalu, seperti biasa, Sasha sibuk berusaha meyakinkan Juno bahwa kebersamaan hanya membuat mereka saling menyakiti dan menghancurkan. Sebaliknya, Juno sibuk berusaha meyakinkan Sasha bahwa hanya dialah yang bisa membahagiakan Sasha. Juno kembali meradang dan hampir mencekik Sasha saat perempuan itu menyebut nama lelaki lain yang dicintainya dan menjadi pilihan hatinya.

“Cekik aja. Ya, bunuh aja aku!”

Sikap Sasha yang terus menantang itu akhirnya malah membuat Juno menyerah. Dia putus asa. Segala cara yang dilakukannya, dari bujukan lembut hingga tindakan kasar sekalipun, tetap saja tak mampu membuat Sasha tunduk dan menuruti permintaannya. Dia hanya tampak bagai pecundang tolol di mata Sasha. Dia benci pada dirinya sendiri, pada kebodohan dan kegagalannya yang bertubi, pada emosi yang selalu menutupi akal sehatnya hingga malah menyakiti orang yang dicintainya itu. Sementara, perempuan itu sungguh berhati sekuat baja sekaligus seputih malaikat. Ketika Juno mengakui kekalahannya dan berlutut di hadapan Sasha, bisa-bisanya perempuan yang telah disanderanya berjam-jam itu malah menghibur dan meyakinkan dirinya bahwa dia bukan lelaki yang kalah.

“Juuu, cukuuup. Kamu nggak kalah. Kamu nggak pernah kalah dari aku! Percayalah, Ju. Kamu nggak pernah kalah dari aku. Kamu nggak …—”

“YA, KALIAN MEMANG TAK PERNAH SALING MENGALAH. TAPI, AKULAH YANG SESUNGGUHNYA MEMBUAT KALIAN BERDUA KALAH TELAK!”

Juno tak sempat menoleh ketika sebuah suara yang dihafalnya itu tiba-tiba terdengar sangat keras dari arah belakangnya, mengalahkan derasnya hujan—lalu tiba-tiba terasa punggungnya ditembusi suatu benda yang berujung tajam dan dingin. Setiap hunjamannya seakan mencabut sedikit demi sedikit nyawanya… hingga tancapan terakhir, yang seperti benar-benar hendak menembus jantungnya!

Hal terakhir yang diingat Juno adalah harum rambut Sasha yang acak-acakan dan lengket oleh keringat di lehernya, sesaat sebelum tubuh kekarnya roboh menimpa tubuh Sasha dan  kesadarannya menghilang. 

 

 ®


Baca lanjutannya:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bicara Hidup

Sebuah Geram, Sebuah Gumam